Akurat Logo

Apa Itu Manosphere? Mengenal Pengaruhnya terhadap Pola Pikir Pria Muda

Redaksi Akurat | 23 Oktober 2026, 09:33 WIB
Apa Itu Manosphere? Mengenal Pengaruhnya terhadap Pola Pikir Pria Muda
Ilustrasi seorang pria yang terpapar terus dengan konten Monosphere - Gemini

AKURAT.CO Media sosial kini menjadi tempat bagi banyak orang untuk mencari informasi, hiburan, hingga pandangan tentang kehidupan. Salah satu fenomena yang ikut berkembang di internet adalah manosphere, yaitu kumpulan komunitas online yang membahas kehidupan pria, maskulinitas, dan hubungan antara laki-laki dan perempuan.

Konten manosphere cukup beragam. Ada yang membahas pengembangan diri dan kesehatan mental pria, tetapi ada juga yang menyebarkan pandangan negatif terhadap perempuan atau menganggap feminisme sebagai ancaman.

Dikutip dari berbagai sumber, fenomena ini menarik perhatian karena kontennya dapat memengaruhi cara sebagian pria memandang diri sendiri, hubungan, dan peran laki-laki dalam masyarakat.

Lantas, apa itu manosphere dan bagaimana pengaruhnya terhadap pola pikir pria muda?

Baca Juga: Orami Hadirkan Aplikasi Parenting Berbasis Komunitas Online

Apa Itu Manosphere?

Manosphere adalah istilah untuk berbagai komunitas di internet yang membahas isu seputar pria dan maskulinitas. Komunitas ini bisa ditemukan di forum online, blog, podcast, kanal video, hingga media sosial.

Topik yang dibahas biasanya berkaitan dengan kepercayaan diri, hubungan asmara, kebugaran, pengembangan diri, dan posisi pria dalam masyarakat.

Namun, tidak semua konten manosphere memiliki pandangan yang sama. Sebagian mendorong pria untuk menjadi lebih mandiri dan memperbaiki kualitas diri. Sebagian lainnya justru menyebarkan stereotip gender, menyalahkan perempuan atas masalah pria, atau merendahkan gerakan kesetaraan gender.

Karena itu, manosphere tidak bisa dipahami sebagai satu kelompok dengan pandangan yang sepenuhnya seragam. Isi dan pengaruhnya perlu dilihat berdasarkan pesan yang disampaikan.

Mengapa Manosphere Banyak Menarik Perhatian Pria Muda?

Salah satu alasan manosphere menarik perhatian adalah karena topik yang dibahas terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, persoalan sulit percaya diri, merasa kesepian, menghadapi penolakan, atau bingung menentukan arah hidup.

Konten yang menawarkan tips menjadi lebih percaya diri, sukses, dan disiplin bisa terasa menarik bagi pria yang sedang berusaha mengembangkan diri.

Masalahnya, tidak semua konten memberikan solusi yang sehat. Ada pula konten yang menyederhanakan persoalan hubungan dengan menyalahkan satu pihak atau menganggap pria harus selalu dominan agar dihormati.

Selain itu, algoritma media sosial bisa terus merekomendasikan konten serupa berdasarkan kebiasaan pengguna. Jika tidak diimbangi dengan informasi dari sumber lain, seseorang berisiko hanya melihat satu sudut pandang.

Meski begitu, menonton konten manosphere tidak otomatis membuat seseorang memiliki pandangan negatif terhadap perempuan. Pengaruhnya juga bergantung pada isi konten dan cara seseorang memahaminya.

Baca Juga: Butuh Sinergi Banyak Pihak Wujudkan Kesetaraan Gender di Sektor-sektor Identik Maskulinitas

Bagaimana Manosphere Memengaruhi Pola Pikir Pria?

Pengaruh manosphere terhadap pola pikir pria bisa berbeda-beda. Konten yang mendorong kebiasaan positif, seperti rajin berolahraga, meningkatkan keterampilan, dan menjaga kesehatan mental, dapat memberikan motivasi untuk berkembang.

Sebaliknya, konten yang terus-menerus merendahkan perempuan atau menyebarkan anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh menunjukkan emosi bisa membentuk pemahaman yang kurang sehat tentang maskulinitas.

Jika terus dipercaya tanpa dipertanyakan, pandangan tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memperlakukan pasangan, berkomunikasi, dan menyelesaikan konflik.

Padahal, menjadi pria yang dewasa bukan berarti harus selalu terlihat kuat atau mendominasi orang lain. Kemampuan mengelola emosi, menghargai orang lain, dan berani meminta bantuan ketika menghadapi masalah juga merupakan bagian penting dari kedewasaan.

Cara Menyikapi Konten Manosphere di Media Sosial

Agar tidak mudah terpengaruh, pengguna media sosial perlu membiasakan diri untuk memeriksa informasi sebelum mempercayainya. Jangan langsung menganggap sebuah pendapat benar hanya karena disampaikan oleh kreator populer atau memiliki banyak pengikut.

Cobalah membandingkan informasi dari beberapa sumber dan perhatikan apakah konten tersebut menyertakan alasan yang jelas atau justru hanya mengandalkan provokasi.

Penting juga untuk membedakan konten yang mendorong pengembangan diri dengan konten yang membangun kepercayaan diri melalui kebencian terhadap kelompok lain.

Pada akhirnya, seseorang tetap bisa belajar menjadi lebih disiplin, percaya diri, dan mandiri tanpa harus merendahkan perempuan atau menganggap hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai persaingan.

Primandha Rachma Auzia (Magang)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

R
R