YPM Gandeng Unhas Bahas Dampak Lingkungan soal Boom Nikel

AKURAT.CO Academia Politica yang diselenggarakan Yayasan Partisipasi Muda (YPM) menghelat seminar bertajuk "Boom Nikel: Siapa Menikmati Keuntungan, Siapa Menanggung Dampaknya?" di Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin, Makassar.
Dr. Fachrie Rezka Ayyub, S.Kel., M.SI, selaku Fungsional Pengendali Dampak Lingkungan Dinas LHK Provinsi Sulawesi Selatan menyampaikan bahwa pemerintah terus berkomitmen penguatan tata kelola lingkungan dan partisipasi publik, di tengah lonjakan industri nikel.
"Indonesia menguasai sekitar 60 persen nikel dunia dan Sulawesi Selatan menyumbang sekitar 15 persen dengan pusat aktivitas di Luwu Timur dan Bantaeng. Ia menekankan bahwa dugaan pencemaran, seperti keluhan petani rumput laut di sekitar smelter Bantaeng, perlu dibuktikan dengan pendekatan sains, sehingga peran akademisi sangat dibutuhkan," kata Fachrie, sebagai perwakilan pemerintah yang hadir.
Namun, perspektif masyarakat sipil yang diwakili Direktur Eksekutif Daerah Walhi Sulsel, Muhammad Al Amien, mengajak orang muda belajar dari pengalaman Indonesia bagian timur.
Ia menyebut terdapat 461 konsesi nikel di atas ekosistem bernilai tinggi, 73 smelter, dan 94 unit PLTU yang menopang operasinya.
"Pertanyaan kuncinya adalah siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Karenanya, anak muda kuasai bahasa Inggris, agar dapat menyuarakan persoalan daerahnya sendiri di forum internasional," ujarnya.
Dari sisi akademisi, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Unhas, Ilham Alimuddin, menjelaskan paradoks nikel, mineral dibutuhkan untuk baterai dan mobilitas rendah karbon. Tetapi memperolehnya meninggalkan jejak lingkungan, mulai dari perubahan fungsi hidrologi hingga emisi di sepanjang rantai nilai.
"Indonesia tidak harus memilih antara nikel dan lingkungan. Tantangannya adalah mengubah kekayaan geologi menjadi kesejahteraan tanpa mengubah kekayaan lingkungan menjadi utang lingkungan," katanya.
Menutup sesi seminar, Direktur Eksekutif YPM, Neildeva Despendya, menyebut bahwa krisis iklim adalah hasil keputusan politik.
Ia mengingatkan, sekitar 40 persen penduduk Indonesia terpapar berbagai bencana alam, sementara literasi iklim belum berkembang secepat risikonya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini




