Prof. Oman: Apa Jadinya Dunia Tanpa Manuskrip Nusantara

AKURAT.CO Guru besar filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus Pembina Lingkar Filologi Ciputat (LFC) Oman Fathurahman menyampaikan bahwa manuskrip Nusantara memiliki peran besar sebagai khazanah untuk merumuskan masa depan bangsa bahkan dunia.
Hal itu disampaikan saat ia memberikan sambutan dan pidato kefilologian pada acara “Diskusi Warisan Naskah Nusantara” di Sasana Budaya Dompet Dhuafa, Jakarta Selatan, pada Selasa (27/1/2026).
“Apa jadinya dunia tanpa manuskrip Nusantara,” tegasnya, terinspirasi dari buku berjudul “Apa Jadinya Dunia Tanpa Indonesia” karya Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa Yudi Latif, yang juga hadir sebagai narasumber di acara tersebut.
Pria yang menekuni dunia pernaskahan sejak 1996 itu juga mendorong agar para peneliti manuskrip di Indonesia terus memiliki semangat dalam membaca dan meneliti naskah-naskah warisan leluhur. Sebab, para anak bangsa-lah yang saat ini menjadi harapan kajian naskah warisan Nusantara yang jumlahnya sangat melimpah.
Baca Juga: Naskah Khutbah Jum’at: Cara Memperoleh Keberkahan Bulan Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan
Dia juga menyayangkan karena Belanda yang menyimpan banyak koleksi manuskrip dari Indonesia sudah tidak lagi memiliki semangat kajian naskah seperti dahulu. Menurutnya, realita ini harus menjadi catatan besar bagi para pegiat manuskrip Indonesia agar semakin memiliki kesadaran untuk merawat dan mengkaji naskah Nusantara.
“Tradisi meneliti teks-teks atau manuskrip Indonesia di Belanda sekarang bisa dianggap selesai, tidak ada lagi. Di sana tidak ada lagi profesor filologi dan pemerintahnya tidak lagi memberikan beasiswa (untuk kajian naskah) seperti sebelum-sebelumnya,” katanya mengutip sejarawan terkemuka asal Selandia Baru, Anthony Reid.
“Estafet kajian manuskrip ini harus diserahkan ke Indonesia. Karena Indonesia adalah negara yang memiliki tanggung jawab terbesar untuk merawat dan mengkajinya,” imbuhnya.
Menguatkan apa yang disampaikan oleh Oman, Yudi Latif dalam presentasinya juga mendorong agar naskah Nusantara sebagai warisan masa lalu menjadi perhatian penting bagi banyak kalangan dalam melihat peradaban di masa depan. “Indonesia ini memiliki kekayaan lokal yang sangat dibutuhkan dunia,” tegasnya.
Acara bertajuk “Diskusi Warisan Naskah Nusantara: Merawat Spirit Filantropi dan Keagamaan dalam Naskah Nusantara” ini merupakan kolaborasi antara Lingkar Filologi Ciputat dan Dompet Dhuafa.
Diketahui, Dompet Dhuafa berdiri diatas 5 pilar program yang meliputi kesehatan, ekonomi, dakwah dan kemanusiaan, serta endidikan dan budaya. Sedangkan Lingkar Filologi Ciputat yang berdiri sejak 2018 memiliki fokus kajian pada naskah-naskah karya ulama Nusantara.
Program ini menghadirkan tiga narasumber, yaitu Yudi Latif dengan tema “Membaca Peran Nusantara bagi Masa Depan Global”, Peneliti BRIN sekaligus Ketua Masyarakat Pernaskahan Nusantara Agus Iswanto dengan tema “Spirit Filantropi dan Kesadaran Ekologi: Belajar dari Manuskrip Kisah Kiai Kanugrahan Qomaruddin Gresik”, dan Pengurus Manassa Rahmatia Ayu Widyaningrum dengan tema “Lontara’ Pabbura dalam Kehidupan Sosial Masyarakat Bugis: Membaca Naskah Pengobatan sebagai Pengetahuan Bersama”.
Program diskusi kolaborasi yang diagendakan tiap bulan dalam satu tahun ke depan ini memiliki sejumlah tujuan. Pertama, meningkatkan literasi filantropi berbasis khazanah naskah Nusantara bagi pegawai Dompet Dhuafa, pegiat manuskrip, dan publik secara umum. Kedua, memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi melalui warisan intelektual manuskrip Nusantara.
Baca Juga: Prabowo Gelar Taklimat dengan 1.200 Rektor dan Guru Besar, Bahas Arah Pendidikan Tinggi
Ketiga, terbentuknya jejaring kolaborasi antara praktisi filantropi dan akademisi/peneliti. Keempat, tersedianya arsip pengetahuan yang dapat dikembangkan menjadi serial publikasi/kelas lanjutan.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah pihak. Di antaranya adalah Pembina Yayasan Dompet Dhuafa dan kurator Sasana Budaya Dompet Dhuafa Andi Makmur Makka, Pengawas Yayasan Dompet Dhuafa Yayat Supriyatna, Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Rahmad Riyadi, Kepala Pusat Studi Arsip Statis Kepresidenan (Pusdipres) Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) Agus Santoso, para stakeholder, dan ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, para peneliti, dan masyarakat pada umumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK




