Akurat

Sejarah Hari Pahlawan 10 November: Makna, Asal Usul, dan Sosok Penting di Baliknya

Naufal Lanten | 9 November 2025, 15:27 WIB
Sejarah Hari Pahlawan 10 November: Makna, Asal Usul, dan Sosok Penting di Baliknya

 

AKURAT.CO Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan untuk mengenang perjuangan para pejuang yang mempertahankan kemerdekaan dari ancaman penjajahan kembali. Peringatan ini tak lepas dari Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya, salah satu peristiwa paling heroik dalam sejarah bangsa. Pertempuran besar tersebut menjadi simbol keberanian rakyat Indonesia melawan pasukan Sekutu yang berusaha mengambil alih kembali kedaulatan setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945.

Menariknya, Hari Pahlawan 2025 memiliki dua versi hitungan usia: jika dihitung dari peristiwa pertempurannya, maka tahun ini sudah 80 tahun sejak peristiwa bersejarah itu terjadi. Namun jika dihitung dari penetapan resminya melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959, maka peringatannya telah memasuki tahun ke-66. Dua hitungan tersebut sama-sama menunjukkan panjangnya napas perjuangan bangsa dalam menjaga makna kemerdekaan.


Asal Usul Hari Pahlawan 10 November

Hari Pahlawan ditetapkan secara resmi melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur. Dalam keputusan itu, pemerintah menetapkan beberapa peringatan nasional penting seperti Hari Pendidikan Nasional (2 Mei), Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Hari Angkatan Perang (5 Oktober), Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober), dan Hari Ibu (22 Desember). Semua hari besar tersebut, termasuk Hari Pahlawan, ditetapkan sebagai hari nasional yang bukan hari libur.

Namun, jauh sebelum ditetapkan dalam keputusan presiden, Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya telah menjadi titik balik perjuangan rakyat Indonesia. Dikutip dari buku Pengetahuan Sosial Sejarah karya Drs. Tugiyono, pertempuran ini bermula pada 25 Oktober 1945, ketika pasukan Sekutu mendarat di Surabaya. Kedatangan mereka tidak hanya membawa misi damai, melainkan juga diiringi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA) yang bertujuan memulihkan kekuasaan Belanda di Indonesia.

Kehadiran Sekutu dan NICA dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Indonesia yang baru saja merdeka. Hal inilah yang memicu bentrokan antara rakyat Surabaya dengan pasukan Sekutu. Pertempuran memanas setelah Brigadir Jenderal A. W. S. Mallaby, pemimpin pasukan Inggris, tewas dalam insiden di kawasan Jembatan Merah.

Sebagai balasan, pihak Sekutu mengeluarkan ultimatum yang menyatakan seluruh rakyat Indonesia di Surabaya harus menyerahkan senjata paling lambat 9 November pukul 18.00, atau kota akan diserbu keesokan harinya. Ultimatum itu dianggap tidak masuk akal dan ditolak mentah-mentah oleh rakyat Surabaya. Pada 10 November 1945, pertempuran besar pun pecah.


Pertempuran 10 November 1945: Simbol Keberanian Rakyat Surabaya

Serangan pasukan Sekutu datang dari darat, laut, hingga udara, menghujani kota dengan bom dan peluru meriam. Meski begitu, rakyat Surabaya tetap bertahan. Kaum pria, wanita, hingga pemuda berjuang bersama mempertahankan kemerdekaan. Kota Surabaya menjadi lautan api, namun semangat rakyat tidak pernah padam.

Salah satu tokoh penting yang membakar semangat perjuangan adalah Sutomo atau yang lebih dikenal dengan Bung Tomo. Lewat siaran radionya, ia berulang kali menyerukan semangat perlawanan rakyat agar tidak menyerah. Suaranya yang lantang dan berapi-api menjadikan Bung Tomo sebagai simbol keberanian dan suara rakyat Indonesia.

Pidato-pidatonya menjadi pemicu semangat juang di tengah situasi genting. “...lebih baik hancur lebur daripada dijajah kembali!” seru Bung Tomo kala itu. Kata-kata itu terus diingat hingga kini sebagai lambang perlawanan terhadap penindasan.

Selain Bung Tomo, Gubernur Suryo juga menjadi sosok penting dalam pertempuran ini. Sebagai pemimpin Jawa Timur, ia menolak keras ajakan Sekutu untuk berunding. Dalam pidatonya, Gubernur Suryo meminta rakyat tetap tenang dan menunggu hasil perundingan yang dilakukan pemerintah pusat dengan Inggris. Namun ketika ultimatum dikeluarkan, ia mendukung keputusan rakyat untuk menolak tunduk pada penjajah.


Tokoh-Tokoh Penting di Balik Hari Pahlawan

Pertempuran 10 November 1945 melibatkan banyak pejuang yang rela mengorbankan nyawa demi kemerdekaan. Nama-nama mereka diabadikan dalam berbagai monumen dan museum sejarah, salah satunya Museum Sepuluh Nopember Surabaya.

Beberapa di antara tokoh yang berjuang pada masa itu adalah:
R. T. M. Soerjo, R. Soedirman, Radjiman Nasoetion, Dr. Soegin, Sungkono, Moh. Jasin, Soetomo (Bung Tomo), Drg. Moestopo, dan Roeslan Abdulgani.

Dari banyaknya pejuang tersebut, dua nama yang paling dikenal karena peran besar mereka adalah Bung Tomo dan Gubernur Suryo — keduanya kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Sekilas Profil Bung Tomo dan Gubernur Suryo

1. Bung Tomo (Sutomo)
Lahir di Surabaya dari keluarga priyayi menengah, Bung Tomo dikenal memiliki semangat belajar yang tinggi meski sempat terhenti karena kondisi ekonomi. Ia aktif dalam dunia kepanduan dan organisasi Gerakan Rakyat Baru (GRB).

Kemampuannya dalam berpidato membuatnya dipercaya untuk menyuarakan semangat rakyat melalui radio. Suaranya yang membara di udara menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan. Setelah masa perjuangan, Bung Tomo juga aktif di dunia politik dan pernah menjadi menteri serta anggota konstituante. Ia wafat pada tahun 1981 ketika menjalankan ibadah haji di Padang Arafah, Arab Saudi.

2. Gubernur Suryo
Sebagai Gubernur Jawa Timur saat pertempuran berlangsung, Gubernur Suryo dikenal tegas dan berprinsip. Ia menolak bekerja sama dengan pihak Sekutu dan memilih mendukung rakyatnya yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Namun nasib tragis menimpa dirinya. Pada 1 November 1948, saat hendak menghadiri peringatan 40 hari wafat saudaranya, rombongan Gubernur Suryo dicegat oleh kelompok sisa Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia kemudian ditawan dan dibunuh secara sadis. Kabar kematiannya mengguncang masyarakat Jawa Timur dan menorehkan duka mendalam bagi bangsa.


Makna Peringatan Hari Pahlawan bagi Generasi Sekarang

Delapan dekade setelah peristiwa 10 November 1945, Hari Pahlawan tetap menjadi momentum penting untuk mengenang pengorbanan para pejuang. Nilai-nilai keberanian, persatuan, dan pantang menyerah dari rakyat Surabaya seharusnya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk berkontribusi dalam membangun bangsa dengan caranya masing-masing.

Semangat “Arek-Arek Suroboyo” tak lagi hanya soal mengangkat senjata, tapi juga tentang semangat berbuat yang terbaik di bidang masing-masing — pendidikan, teknologi, sosial, hingga ekonomi. Karena menjadi pahlawan di era modern tidak selalu harus berperang, tapi bisa dimulai dari kontribusi nyata untuk kemajuan negeri.


Penutup
Hari Pahlawan bukan sekadar tanggal merah di kalender nasional. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati hari ini dibayar mahal oleh darah dan pengorbanan rakyat terdahulu. Dengan mengenang kisah Bung Tomo, Gubernur Suryo, dan seluruh pejuang Surabaya, kita diingatkan bahwa semangat kepahlawanan tak pernah usang oleh waktu.

Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang sejarah nasional dan makna hari besar lainnya, pantau terus artikel-artikel terbaru di AKURAT.CO agar tidak ketinggalan informasi penting seputar sejarah dan kebangsaan.

Baca Juga: Whoosh Tawarkan Promo Hero’s Deal, Tiket Mulai Rp200 Ribu di Hari Pahlawan

Baca Juga: 10 Lagu Wajib Nasional Hari Pahlawan 10 November Beserta Lirik yang Menyentuh Hati

FAQ

1. Kapan Hari Pahlawan diperingati setiap tahunnya?
Hari Pahlawan diperingati setiap tanggal 10 November untuk mengenang peristiwa Pertempuran Surabaya 1945, di mana rakyat Indonesia berjuang mempertahankan kemerdekaan dari serangan Sekutu.


2. Mengapa 10 November ditetapkan sebagai Hari Pahlawan?
Tanggal tersebut dipilih karena menjadi puncak Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945, yang dikenal sebagai salah satu pertempuran terbesar dan paling berdarah dalam sejarah Indonesia pasca kemerdekaan. Momen ini menjadi simbol keberanian rakyat melawan penjajahan.


3. Siapa yang menetapkan Hari Pahlawan sebagai peringatan nasional?
Hari Pahlawan ditetapkan secara resmi melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur.


4. Apakah Hari Pahlawan merupakan hari libur nasional?
Tidak. Berdasarkan Keppres Nomor 316 Tahun 1959, Hari Pahlawan termasuk hari nasional yang bukan hari libur, sama seperti Hari Pendidikan Nasional dan Hari Sumpah Pemuda.


5. Hari Pahlawan 2025 ke berapa?
Jika dihitung sejak Pertempuran 10 November 1945, maka Hari Pahlawan 2025 merupakan peringatan ke-80 tahun. Namun, bila dihitung sejak penetapannya secara resmi pada 1959, maka tahun 2025 menjadi peringatan ke-66 tahun.


6. Apa yang terjadi dalam Pertempuran 10 November 1945?
Pertempuran terjadi antara rakyat Surabaya dan pasukan Sekutu yang ingin mengambil alih kembali Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Pertempuran dimulai setelah tewasnya Brigadir Jenderal Mallaby dan ultimatum Sekutu yang ditolak rakyat. Kota Surabaya pun menjadi medan perang besar yang menelan ribuan korban.


7. Siapa saja tokoh penting dalam Pertempuran Surabaya?
Beberapa tokoh penting dalam pertempuran ini antara lain Bung Tomo, Gubernur Suryo, Dr. Moestopo, Sungkono, dan Roeslan Abdulgani. Di antara mereka, Bung Tomo dan Gubernur Suryo ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional.


8. Apa peran Bung Tomo dalam Hari Pahlawan?
Bung Tomo dikenal sebagai pengobar semangat rakyat melalui pidato-pidatonya yang disiarkan lewat radio. Suaranya yang lantang dan membara memotivasi rakyat Surabaya untuk terus melawan penjajah meski dalam kondisi sulit.


9. Siapa Gubernur Suryo dan bagaimana akhir hidupnya?
Gubernur Suryo adalah pemimpin Jawa Timur yang menolak keras kerja sama dengan Sekutu. Ia mendukung rakyat untuk bertahan melawan penjajah. Namun, pada 1 November 1948, Gubernur Suryo tewas secara tragis setelah diserang kelompok sisa PKI saat dalam perjalanan menghadiri acara keluarga.


10. Apa makna Hari Pahlawan bagi generasi masa kini?
Hari Pahlawan menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak datang dengan mudah. Generasi muda diharapkan meneladani semangat perjuangan, pantang menyerah, dan cinta tanah air para pahlawan dengan berkontribusi positif dalam bidang masing-masing.


11. Di mana tempat terbaik untuk mengenang sejarah Hari Pahlawan?
Salah satu tempat bersejarah yang bisa dikunjungi adalah Museum Sepuluh Nopember di Surabaya, yang menyimpan berbagai artefak, foto, dan dokumentasi tentang Pertempuran 10 November 1945.


12. Apa pesan penting dari peringatan Hari Pahlawan?
Pesan utamanya adalah agar setiap warga Indonesia terus menghidupkan nilai-nilai kepahlawanan—seperti keberanian, persatuan, dan pengorbanan—dalam kehidupan sehari-hari untuk menjaga dan mengisi kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.