Akurat

Ciri-Ciri Negara Demokrasi dan Kondisi Terkini

Naufal Lanten | 8 November 2025, 16:29 WIB
Ciri-Ciri Negara Demokrasi dan Kondisi Terkini

AKURAT.CO Demokrasi merupakan sistem pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Melalui mekanisme pemilihan umum, partisipasi publik, dan perlindungan hak asasi manusia, rakyat memiliki peran langsung dalam menentukan arah kebijakan negara.

Menurut ilmuwan politik Robert A. Dahl, demokrasi modern disebut sebagai polyarchy—sebuah sistem yang memungkinkan partisipasi luas dan kompetisi politik yang sehat. Dengan kata lain, demokrasi bukan hanya tentang pemilu, tetapi juga tentang kebebasan berekspresi, kesempatan setara untuk menjadi calon pemimpin, serta perlindungan terhadap hak dasar setiap warga negara.


Ciri-Ciri Negara Demokrasi

Setiap negara yang disebut demokratis memiliki sejumlah karakteristik yang menjadi pembeda utama dari sistem pemerintahan otoriter. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Jaminan Hak Asasi Manusia (HAM)

Salah satu ciri utama negara demokrasi adalah adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia. Setiap warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama tanpa diskriminasi. Pemerintah wajib melindungi kebebasan individu, seperti hak hidup, hak berpendapat, dan hak beragama.

2. Menjunjung Kebebasan Individu

Dalam sistem demokrasi, kebebasan individu dijunjung tinggi. Negara diharapkan mampu menghormati hak setiap orang untuk menyuarakan pendapat, berpartisipasi dalam diskusi publik, atau bermusyawarah dalam proses pengambilan keputusan.

3. Kebebasan Pers

Kebebasan pers merupakan fondasi penting dalam demokrasi. Lembaga media memiliki hak untuk menyebarkan informasi secara bebas dan menjadi pengawas terhadap jalannya pemerintahan. Tentu saja, kebebasan ini tetap diatur oleh hukum agar tidak melanggar privasi maupun etika publik.

4. Kebebasan Memperoleh Pendidikan

Ciri demokrasi juga tampak dalam akses pendidikan yang setara bagi semua warga negara. Demokrasi menjamin hak untuk memperoleh pendidikan setinggi-tingginya tanpa diskriminasi, sebagai upaya menciptakan masyarakat yang berpengetahuan dan kritis terhadap kebijakan publik.

5. Pemerintahan di Tangan Rakyat

Demokrasi sering digambarkan dengan prinsip “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.” Artinya, rakyat memiliki kekuasaan tertinggi dalam menentukan pemimpin dan arah pemerintahan melalui pemilihan umum yang bebas dan adil.


Prinsip-Prinsip Negara Demokrasi

Selain ciri-ciri di atas, demokrasi juga memiliki prinsip dasar yang menjadi pedoman bagi penyelenggara negara:

  • Pemilihan umum yang jujur, adil, dan bebas.
    Pemilu menjadi sarana utama bagi rakyat untuk menentukan pemimpinnya. Pelaksanaannya harus bebas dari kecurangan dan campur tangan pihak manapun.

  • Pemerintahan berdasarkan hukum.
    Setiap kebijakan negara harus berlandaskan hukum, bukan kekuasaan. Tidak ada yang kebal hukum, termasuk pejabat negara.

  • Pembagian kekuasaan.
    Kekuasaan negara dibagi ke dalam tiga lembaga utama: legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Tujuannya untuk menjaga keseimbangan dan mencegah penyalahgunaan wewenang.

  • Sistem multi partai.
    Negara demokrasi memungkinkan adanya lebih dari satu partai politik yang berfungsi mewakili aspirasi masyarakat. Persaingan ide dan gagasan menjadi hal yang sehat dalam proses politik.

  • Pengawasan terhadap administrasi negara.
    Pemerintah harus diawasi oleh lembaga independen maupun masyarakat sipil untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas.


Ciri-Ciri Demokrasi Menurut Standar Internasional

Lembaga-lembaga seperti V-Dem, Freedom House, dan International IDEA juga menilai kualitas demokrasi berdasarkan indikator global berikut:

  • Pemilihan umum yang bebas dan kompetitif.

  • Kebebasan sipil, termasuk kebebasan berpendapat dan berkumpul.

  • Kedaulatan hukum serta peradilan yang independen.

  • Transparansi dan akuntabilitas pemerintah.

  • Partisipasi politik yang bermakna dan setara.

  • Perlindungan hak minoritas dan kesetaraan di hadapan hukum.

  • Budaya politik demokratis yang menghargai perbedaan dan menyelesaikan konflik secara damai.


Kondisi Terkini: Demokrasi Dunia Sedang Menurun

Laporan terbaru V-Dem (Varieties of Democracy) mencatat bahwa pada tahun 2024, lebih dari 70% populasi dunia hidup di bawah sistem otoriter, baik yang tertutup maupun yang berkedok demokrasi. Fenomena ini dikenal sebagai autocratization from within, yaitu kemunduran demokrasi yang terjadi dari dalam sistem pemerintahan sendiri.

Sementara itu, Economist Intelligence Unit (EIU) dalam Democracy Index 2024 melaporkan penurunan skor global dari 5,23 menjadi 5,17 (skala 0–10). Hanya sedikit negara yang masih bisa disebut full democracies, sementara mayoritas tergolong flawed democracies atau bahkan hybrid regimes.

Menurut Freedom House, kebebasan dunia terus menurun selama hampir dua dekade berturut-turut. Banyak negara yang mengalami penurunan signifikan dalam hak politik dan kebebasan sipil.

Laporan International IDEA juga menemukan meningkatnya sengketa pemilu dan menurunnya kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga demokrasi sejak 2020.


Mengapa Demokrasi Bisa Mundur?

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan penurunan kualitas demokrasi di berbagai belahan dunia:

  1. Pelemahan lembaga demokrasi dari dalam.
    Pemimpin terpilih sering menggunakan hukum dan regulasi untuk mengontrol media, memperlemah lembaga peradilan, dan memperpanjang masa jabatan.

  2. Disinformasi dan polarisasi media sosial.
    Penyebaran berita palsu dan propaganda politik memperkeruh opini publik serta menurunkan kepercayaan terhadap fakta dan institusi.

  3. Ketimpangan ekonomi dan populisme.
    Ketidaksetaraan ekonomi yang melebar mendorong munculnya pemimpin populis yang menawarkan solusi instan, sering kali dengan mengorbankan nilai-nilai demokrasi.

  4. Krisis keamanan dan pembatasan kebebasan.
    Negara yang menghadapi konflik atau terorisme kerap menggunakan alasan keamanan untuk membatasi kebebasan publik secara permanen.


Dampak Kemunduran Demokrasi

Kemunduran demokrasi tidak hanya berdampak pada sistem politik, tetapi juga pada kehidupan sosial dan ekonomi:

  • Kepercayaan masyarakat terhadap institusi publik menurun.

  • Polarisasi sosial meningkat, memicu konflik horizontal.

  • Investasi menurun akibat ketidakpastian hukum.

  • Korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan meningkat.

Secara global, kemunduran ini juga memunculkan model baru “pembangunan tanpa kebebasan” dari negara-negara otoriter yang menantang sistem demokrasi liberal.


Perdebatan dan Pandangan Berbeda

Sebagian ilmuwan meyakini bahwa demokrasi memang tengah mengalami penurunan global, sebagaimana ditunjukkan oleh V-Dem, Freedom House, dan EIU. Namun, ada pula yang berpendapat bahwa penurunan tersebut bersifat sementara dan tidak merata di semua wilayah.

Salah satu perdebatan klasik datang dari gagasan Fareed Zakaria dalam tulisannya “The Rise of Illiberal Democracy” (1997). Ia mengingatkan tentang negara-negara yang tetap menggelar pemilu tetapi gagal menjamin kebebasan sipil dan checks and balances. Fenomena ini disebut illiberal democracy.


Masa Depan Demokrasi Dunia

Menurut proyeksi beberapa lembaga riset, tren autokratisasi masih berpotensi berlanjut dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Namun, harapan tetap ada. Penguatan lembaga peradilan, kebebasan pers, serta gerakan masyarakat sipil diyakini dapat menjadi penahan arus kemunduran demokrasi di sejumlah negara.


Langkah untuk Memperkuat Demokrasi

Untuk menjaga dan memperkuat kualitas demokrasi, para ahli merekomendasikan:

  • Menjamin independensi lembaga peradilan dan komisi pemilu.

  • Melindungi kebebasan pers dan memastikan keterbukaan informasi publik.

  • Reformasi sistem pendanaan politik agar lebih transparan dan adil.

  • Meningkatkan literasi media serta pendidikan kewarganegaraan.

  • Memperkuat kerja sama internasional untuk menjaga integritas pemilu.


Penutup

Demokrasi tidak hadir secara otomatis. Ia harus dijaga melalui kesadaran warga negara, penegakan hukum, dan pengawasan publik yang berkelanjutan.

Di tengah arus disinformasi dan polarisasi global, mempertahankan nilai-nilai demokrasi berarti melindungi masa depan kebebasan, keadilan, dan partisipasi publik.

Kalau kamu ingin terus mengikuti isu-isu seputar politik dan demokrasi, pantau terus update terbarunya di kanal berita terpercaya.

Baca Juga: Supremasi Hukum dalam Sistem Demokrasi Indonesia: Antara Prinsip dan Praktik

Baca Juga: Reformasi vs Orde Baru: Dua Wajah Demokrasi Pancasila

FAQ

1. Apa yang dimaksud dengan negara demokrasi?
Negara demokrasi adalah sistem pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat. Rakyat berperan aktif dalam menentukan pemimpin dan arah kebijakan melalui pemilihan umum serta partisipasi politik.


2. Apa saja ciri-ciri utama negara demokrasi?
Ciri-ciri negara demokrasi meliputi:

  • Adanya jaminan terhadap Hak Asasi Manusia (HAM).

  • Kebebasan individu untuk berpendapat dan berorganisasi.

  • Kebebasan pers yang bertanggung jawab.

  • Kesetaraan dalam memperoleh pendidikan.

  • Pemerintahan yang berasal dari, oleh, dan untuk rakyat.


3. Apa prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan demokrasi?
Prinsip-prinsip negara demokrasi antara lain:

  • Pemilu yang jujur, adil, dan bebas.

  • Pemerintahan berdasarkan hukum (rule of law).

  • Pembagian kekuasaan antara legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

  • Adanya sistem multi partai.

  • Pengawasan terhadap administrasi negara.


4. Mengapa kebebasan pers penting dalam negara demokrasi?
Karena pers berfungsi sebagai pengawas (watchdog) terhadap jalannya pemerintahan. Pers yang bebas membantu mengungkap penyimpangan kekuasaan, memberi ruang bagi opini publik, dan menjaga transparansi informasi.


5. Bagaimana kondisi demokrasi dunia saat ini?
Menurut laporan lembaga internasional seperti V-Dem dan Freedom House, kualitas demokrasi dunia mengalami penurunan. Banyak negara kini bergerak ke arah otoritarianisme atau disebut sebagai illiberal democracy—negara yang tetap mengadakan pemilu, tetapi mengekang kebebasan sipil.


6. Apa penyebab utama kemunduran demokrasi di berbagai negara?
Beberapa faktor utamanya adalah:

  • Pelemahan lembaga demokrasi dari dalam.

  • Disinformasi dan polarisasi di media sosial.

  • Ketimpangan ekonomi yang memicu populisme.

  • Pembatasan kebebasan atas nama keamanan nasional.


7. Apa dampak dari kemunduran demokrasi terhadap masyarakat?
Kemunduran demokrasi dapat menyebabkan meningkatnya korupsi, penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah, memburuknya perlindungan HAM, hingga menurunnya stabilitas ekonomi dan investasi.


8. Apakah semua negara dengan pemilu otomatis disebut demokrasi?
Tidak. Pemilu hanyalah salah satu elemen demokrasi. Sebuah negara bisa mengadakan pemilu tetapi tetap tidak demokratis jika kebebasan pers dibatasi, hukum tidak ditegakkan secara adil, atau lembaga peradilan tidak independen.


9. Apa yang dimaksud dengan illiberal democracy?
Illiberal democracy adalah bentuk pemerintahan yang tetap menyelenggarakan pemilu tetapi membatasi kebebasan sipil, mengontrol media, dan melemahkan lembaga hukum. Istilah ini dipopulerkan oleh Fareed Zakaria pada tahun 1997.


10. Bagaimana cara memperkuat demokrasi di era modern?
Beberapa langkah penting meliputi:

  • Menjaga independensi lembaga peradilan dan pemilu.

  • Melindungi kebebasan pers dan transparansi informasi.

  • Meningkatkan literasi politik dan media di masyarakat.

  • Reformasi pendanaan partai politik agar lebih akuntabel.

  • Mendorong partisipasi publik dalam pengawasan kebijakan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.