Mengapa Daerah Dataran Tinggi Juga Bisa Mengalami Banjir

AKURAT.CO Banjir sering kali identik dengan wilayah dataran rendah, namun faktanya daerah dataran tinggi juga tidak sepenuhnya bebas dari risiko banjir.
Fenomena ini kerap terjadi akibat kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia yang mengubah kondisi lingkungan.
Banjir di dataran tinggi umumnya bersifat bandang, datang tiba-tiba, dan memiliki daya rusak yang lebih besar karena membawa material seperti batu, lumpur, dan kayu.
Baca Juga: Kemensos Kirim Bantuan Senilai Rp3 Miliar Lebih untuk Korban Banjir di Semarang
Curah Hujan Tinggi dan Kontur Tanah yang Miring
Mengutip dari BMKG, salah satu penyebab utama banjir di dataran tinggi adalah curah hujan ekstrem yang berlangsung dalam waktu lama.
Ketika intensitas hujan tinggi, tanah yang berada di lereng bukit tidak mampu menyerap air dengan cepat. Akibatnya, air akan mengalir deras ke area yang lebih rendah dan menimbulkan banjir bandang.
Selain itu, kontur tanah yang miring menyebabkan air bergerak cepat ke bawah tanpa sempat terserap sepenuhnya oleh tanah. Jika aliran air ini membawa material dari atas bukit, maka dampaknya bisa lebih parah dan berpotensi menimbulkan longsor.
Baca Juga: Kementerian PU Kerahkan 27 Pompa Mobile untuk Percepat Penanganan Banjir Semarang
Kerusakan Hutan dan Alih Fungsi Lahan
Hilangnya vegetasi hutan di daerah pegunungan juga menjadi penyebab utama meningkatnya risiko banjir.
Pohon dan akar berfungsi menyerap air hujan serta menahan erosi tanah. Ketika hutan digunduli untuk pertanian, permukiman, atau pembangunan pariwisata, kemampuan tanah menyerap air menurun drastis.
Alih fungsi lahan tanpa perencanaan yang baik membuat air hujan langsung mengalir ke permukaan tanpa hambatan. Dalam kondisi tertentu, aliran air yang cepat dari dataran tinggi bisa menyebabkan banjir di wilayah bawah yang sebelumnya aman dari genangan.
Peran Drainase dan Pengelolaan Lingkungan
Selain faktor alam, sistem drainase yang buruk juga memperparah banjir di kawasan dataran tinggi. Jalan-jalan yang tertutup beton tanpa jalur resapan membuat air hujan tidak memiliki tempat untuk mengalir dengan baik.
Untuk mencegah banjir di wilayah pegunungan, diperlukan perbaikan tata ruang dan penghijauan kembali area yang gundul.
Upaya konservasi seperti pembuatan sumur resapan dan hutan lindung dapat membantu menahan air agar tidak langsung mengalir ke bawah.
Nora Niswatun Choirina (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 4Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 7Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







