10 Penyebab Runtuhnya Kerajaan Majapahit, dari Konflik Internal hingga Lahirnya Demak

AKURAT.CO Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar yang pernah berdiri di Nusantara.
Pada puncak kejayaannya di abad ke-14 M, Majapahit menguasai wilayah yang luas, dari Sumatra hingga Maluku, sekaligus meninggalkan warisan besar dalam politik, budaya, dan peradaban Jawa.
Namun, kejayaan itu tidak bertahan selamanya. Majapahit yang pernah begitu perkasa akhirnya runtuh pada akhir abad ke-15 M.
Sejarah mencatat ada banyak faktor yang menyebabkan keruntuhan ini, mulai dari wafatnya tokoh besar hingga lahirnya kekuatan baru bercorak Islam di Jawa.
Lantas, apa saja penyebab runtuhnya Majapahit? Berikut 10 faktor utama yang menggiring kerajaan besar ini menuju keruntuhan:
1. Wafatnya Hayam Wuruk dan Gajah Mada
Dua sosok kunci kejayaan Majapahit, yakni Raja Hayam Wuruk (wafat 1389 M) dan Mahapatih Gajah Mada (wafat 1364 M), meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang sulit tergantikan.
Hayam Wuruk menjaga stabilitas kerajaan, sementara Gajah Mada dikenal lewat Sumpah Palapa yang menyatukan Nusantara. Setelah keduanya tiada, Majapahit kehilangan arah.
Baca Juga: Tiga Tugas Utama BNPP dalam Menjaga Kedaulatan Perbatasan
2. Perebutan Takhta di Keluarga Kerajaan
Sepeninggal Hayam Wuruk, perebutan takhta meletus. Menantunya, Wikramawardhana, diangkat sebagai raja. Namun, Bhre Wirabhumi—putra Hayam Wuruk dari selir—menuntut hak atas tahta. Konflik internal ini menjadi pemicu perang saudara.
3. Pecahnya Perang Paregreg (1404–1406 M)
Perang Paregreg adalah perang saudara yang paling besar dalam sejarah Majapahit.
Pertempuran antara pihak Wikramawardhana dan Bhre Wirabhumi berlangsung dua tahun, melemahkan kerajaan, merusak ekonomi, dan membuat daerah taklukan satu per satu melepaskan diri.
4. Kekosongan Takhta (1453–1456 M)
Krisis semakin parah ketika kerajaan sempat tidak memiliki raja yang sah selama beberapa tahun. Tanpa kepemimpinan yang jelas, bangsawan berebut pengaruh, sementara rakyat kehilangan pegangan.
5. Pemberontakan Daerah
Majapahit juga diguncang berbagai pemberontakan.
Meski sudah ada sejak awal berdirinya (contohnya pemberontakan Rangga Lawe tahun 1295 M), gejolak di daerah semakin sering terjadi pada abad ke-15.
Otoritas pusat melemah, sementara daerah semakin sulit dikendalikan.
6. Tragedi Bubat (1357 M)
Peristiwa Bubat, yang berawal dari rencana pernikahan politik antara Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka, berakhir tragis dengan gugurnya rombongan kerajaan Sunda.
Tragedi ini bukan hanya mencoreng nama Majapahit, tetapi juga melemahkan posisi Gajah Mada dan menciptakan permusuhan abadi dengan Sunda.
7. Intrik Politik yang Tak Pernah Usai
Meski Perang Paregreg sudah berakhir, intrik istana terus berlangsung. Pertentangan antarbangsawan, perebutan jabatan, dan konflik kepentingan membuat Majapahit semakin rapuh dari dalam.
Baca Juga: China Masters: Putri KW ke Perempat Final, Ganda Campuran Indonesia Habis Usai Amri/Nita Tersingkir
8. Sistem Sosial yang Kaku
Majapahit menganut sistem kasta Hindu-Buddha yang membagi masyarakat ke dalam golongan tertentu.
Ketidakadilan sosial yang lahir dari sistem ini memperlebar jarak antara bangsawan dan rakyat jelata, sehingga loyalitas rakyat terhadap kerajaan semakin menurun.
9. Munculnya Kerajaan Demak
Pada akhir abad ke-15, Kerajaan Demak muncul sebagai kekuatan baru bercorak Islam.
Raden Patah berhasil menguasai jalur perdagangan penting yang sebelumnya berada di bawah kendali Majapahit.
Serangan Demak pada 1478 M menjadi pukulan telak sekaligus simbol berakhirnya era Majapahit.
10. Penyebaran Islam di Jawa
Selain faktor militer, perubahan sosial juga berperan besar. Islam yang masuk melalui jalur perdagangan, perkawinan, seni, dan dakwah semakin diterima oleh masyarakat Jawa.
Pergeseran kepercayaan ini memperkuat kerajaan-kerajaan Islam baru, sementara Majapahit kian kehilangan pijakan.
Runtuhnya Majapahit adalah hasil dari gabungan banyak faktor: perebutan kekuasaan, perang saudara, lemahnya struktur sosial, hingga munculnya kekuatan baru berbasis Islam.
Meski demikian, kejayaan Majapahit tetap menjadi simbol penting dalam sejarah Indonesia—sebuah bukti bahwa Nusantara pernah memiliki kerajaan besar yang disegani hingga mancanegara.
Baca Juga: BWI Ingatkan Bahaya Disinformasi Influencer terhadap Persatuan Bangsa
Laporan: Nadira Maia Arziki/magang
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








