AKURAT.CO Bagi sebagian besar anak, sentuhan lembut seperti pelukan atau usapan kepala bisa menjadi bentuk kasih sayang yang menenangkan. Namun, pada anak dengan autisme, reaksi terhadap sentuhan sering kali berbeda.
Banyak orang tua merasa bingung atau bahkan khawatir ketika anak mereka menolak disentuh, padahal maksudnya untuk memberi kenyamanan. Fenomena ini bukanlah tanda penolakan emosional, melainkan berkaitan dengan cara otak anak autis memproses rangsangan sensorik.
Baca Juga: Ibu Mertua Kena Stroke dan Anak Autis, Shireen Sungkar Nangis: Ada Dua Pintu Surga di Rumah
Penyebab Anak Autis Tidak Suka Disentuh
Banyak orang tua mungkin bertanya-tanya mengapa anak autis tampak enggan disentuh, bahkan oleh orang terdekatnya. Menurut Autism Research Institute (2023), hal ini berkaitan dengan perbedaan cara otak mereka memproses rangsangan sensorik, terutama sentuhan. Bagi sebagian anak autis, sentuhan lembut bisa terasa terlalu kuat atau tidak nyaman. Sementara itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC ) 2024 menambahkan bahwa kondisi genetik seperti Sindrom Fragile X juga dapat membuat anak kesulitan mengatur respons sensorik, sehingga mudah merasa cemas atau kewalahan saat disentuh.
Bagaimana Orang Tua Bisa Menghadapinya
Berdasarkan panduan dari Program Perawatan Autisme di Waisman Center, University of Wisconsin–Madison, menghadapi anak autis yang tidak nyaman disentuh memerlukan pendekatan yang lembut, sabar, dan terarah. Orang tua dianjurkan terlibat aktif dalam sesi pendampingan serta terapi perilaku berbasis Applied Behavior Analysis (ABA) yang membantu anak menyesuaikan diri terhadap stimulasi fisik secara bertahap.
Melalui bimbingan ini, anak dapat belajar bahwa sentuhan bukanlah ancaman, melainkan bagian dari interaksi sosial yang aman dan menyenangkan.
Di luar terapi profesional, orang tua juga bisa mendukung proses adaptasi anak di rumah dengan cara menghargai batas pribadi anak, menggunakan bentuk kasih sayang nonverbal seperti kata-kata lembut atau aktivitas bersama, serta menciptakan rutinitas sensorik sederhana seperti bermain dengan tekstur lembut atau mandi air hangat.
Dukungan yang konsisten dan penuh pengertian akan membantu anak merasa lebih tenang dan percaya diri dalam menerima sentuhan.
Ketidaksukaan anak autis terhadap sentuhan bukanlah bentuk penolakan, melainkan respons alami akibat perbedaan dalam cara otak mereka memproses rangsangan sensorik.
Dengan terapi yang tepat seperti Applied Behavior Analysis (ABA) dan pendekatan penuh empati dari orang tua, anak dapat perlahan beradaptasi dan memahami bahwa sentuhan adalah bagian dari interaksi sosial yang aman. Dukungan yang konsisten, lingkungan yang nyaman, dan kesabaran orang tua menjadi kunci penting dalam membantu anak tumbuh dengan lebih percaya diri dan tenang.
Nia Ayunia (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








