Bayi Kuning Kenapa? Ini Penyebab, Risiko, dan Cara Menanganinya dengan Tepat

AKURAT.CO Kulit bayi tiba-tiba tampak kekuningan di hari kedua setelah lahir. Orang tua langsung panik: bayi kuning kenapa? Apakah ini berbahaya?
Faktanya, kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi baru lahir. Banyak orang tua generasi milenial dan Gen Z baru menyadari istilah medisnya setelah melihat hasil pemeriksaan dokter: neonatal jaundice atau ikterus.
Namun meski sering dianggap normal, bayi kuning tetap perlu dipantau serius karena dalam kondisi tertentu, kadar bilirubin yang terlalu tinggi bisa berdampak ke otak.
Mari kita pahami secara menyeluruh.
Apa Penyebab Bayi Kuning?
Bayi kuning terjadi karena penumpukan bilirubin dalam darah.
Bilirubin adalah pigmen kuning yang terbentuk saat sel darah merah dipecah. Pada bayi baru lahir:
-
Jumlah sel darah merah lebih banyak
-
Hati (liver) belum matang sempurna
-
Proses pembuangan bilirubin belum optimal
Akibatnya, bilirubin menumpuk dan membuat:
-
Kulit tampak kuning
-
Bagian putih mata menguning
-
Dalam beberapa kasus, urine lebih gelap dan feses pucat
Sekitar 6 dari 10 bayi cukup bulan mengalami kondisi ini. Pada bayi prematur, angkanya bisa lebih tinggi.
Sebagian besar kasus tidak berbahaya dan hilang dalam 1–2 minggu.
Mengapa Bayi Baru Lahir Bisa Kuning? Ini Penjelasan Medisnya
1. Ikterus Fisiologis: Penyebab Paling Umum
Ini adalah penyebab utama bayi kuning pada minggu pertama kehidupan.
Tiga faktor utamanya:
-
Produksi bilirubin tinggi karena banyak sel darah merah yang rusak
-
Fungsi hati bayi belum matang
-
Buang air besar belum lancar sehingga bilirubin tertahan
Biasanya muncul pada hari ke-2 atau ke-3 setelah lahir dan membaik dalam dua minggu.
Jika bayi tetap aktif, menyusu baik, dan tidak tampak lemas, umumnya kondisi ini masih dalam batas aman.
2. Bayi Kuning karena ASI, Apakah Berbahaya?
Ada dua jenis yang sering membingungkan orang tua:
Breastfeeding jaundice
Terjadi karena bayi kurang mendapat asupan ASI, sehingga jarang buang air besar.
Breast milk jaundice
Dipicu zat tertentu dalam ASI yang memengaruhi proses pemecahan bilirubin. Biasanya muncul minggu kedua dan bisa bertahan lebih lama.
Penting dicatat:
ASI tetap sangat dianjurkan. Manfaatnya jauh lebih besar dibanding risiko jaundice ringan.
3. Penyebab Bayi Kuning yang Perlu Diwaspadai
Meski sebagian besar normal, ada kondisi serius yang bisa menyebabkan kadar bilirubin sangat tinggi:
-
Inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rhesus
-
Infeksi berat atau sepsis
-
Gangguan hati seperti atresia bilier
-
Kelainan enzim seperti defisiensi G6PD
Jika bayi kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, ini perlu evaluasi medis segera.
Kapan Bayi Kuning Harus Dibawa ke Dokter?
Segera periksakan jika:
-
Warna kuning makin pekat dan cepat menyebar
-
Bayi sangat sulit menyusu
-
Tampak lemas atau mengantuk berlebihan
-
Tangisan melengking tidak biasa
-
Feses berwarna pucat
Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin melalui alat non-invasif atau tes darah.
Baca Juga: Bahaya Merokok bagi Ibu Menyusui: Dampaknya Bisa Mengancam Kesehatan Bayi
Baca Juga: Kenapa Bayi Susah Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya yang Perlu Orang Tua Tahu
Cara Mengatasi Bayi Kuning
Penanganan tergantung tingkat keparahan.
1. Tanpa Perawatan Khusus
Jika kadar ringan, cukup dipantau dan pastikan bayi cukup minum ASI.
2. Fototerapi
Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus. Cahaya membantu mengubah bilirubin agar lebih mudah dikeluarkan tubuh.
3. Exchange Transfusion
Dilakukan pada kasus sangat berat. Darah bayi diganti untuk menurunkan bilirubin secara cepat.
Sebagian besar bayi membaik hanya dengan fototerapi dan bisa pulang dalam beberapa hari.
Risiko Jika Bayi Kuning Tidak Ditangani
Kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa masuk ke otak dan menyebabkan:
-
Acute bilirubin encephalopathy
-
Kernikterus (kerusakan otak permanen)
-
Gangguan gerak
-
Gangguan pendengaran
-
Cerebral palsy
Kondisi ini jarang terjadi, tetapi bisa berdampak jangka panjang jika terlambat ditangani.
Insight: Kenapa Banyak Orang Tua Masih Salah Paham?
Di era media sosial, informasi kesehatan bayi sering bercampur antara mitos dan fakta.
Masih ada yang percaya bayi kuning bisa sembuh hanya dengan dijemur pagi hari. Padahal paparan matahari tidak selalu cukup dan bisa berisiko dehidrasi.
Di sisi lain, kepanikan berlebihan juga sering terjadi karena kurangnya edukasi tentang jaundice fisiologis.
Yang dibutuhkan adalah keseimbangan:
tidak meremehkan, tapi juga tidak panik tanpa dasar.
Contoh Kasus Nyata
Seorang ibu muda melihat kulit bayinya menguning di hari ketiga. Bayi masih aktif dan menyusu lancar.
Setelah diperiksa, kadar bilirubin masih dalam batas aman. Dokter hanya menyarankan pemantauan dan peningkatan frekuensi menyusui.
Seminggu kemudian, warna kuning menghilang.
Bandingkan dengan kasus lain: bayi tampak kuning sejak 12 jam setelah lahir dan terlihat lemas. Pemeriksaan menunjukkan inkompatibilitas rhesus dan memerlukan fototerapi intensif.
Perbedaannya terletak pada waktu muncul dan kondisi klinis bayi.
Kenapa Topik Ini Penting untuk Generasi Muda?
Semakin banyak pasangan milenial dan Gen Z menjadi orang tua di usia produktif. Akses informasi memang mudah, tapi tidak semuanya akurat.
Memahami bayi kuning bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga:
-
Mencegah komplikasi serius
-
Mengurangi kecemasan orang tua baru
-
Menghindari biaya perawatan darurat yang lebih mahal
-
Mendukung keputusan menyusui yang tepat
Pengetahuan dasar bisa menjadi pembeda antara kepanikan dan tindakan cepat yang tepat.
Penutup: Jangan Anggap Sepele, Tapi Jangan Panik
Kenapa bayi berwarna kuning?
Karena tubuhnya sedang beradaptasi.
Dalam banyak kasus, ini adalah proses alami. Namun dalam sebagian kecil situasi, ia bisa menjadi sinyal bahaya.
Yang membedakan bukan hanya warna kulit bayi, tetapi pemantauan dan respons orang tua.
Menjadi orang tua bukan soal tahu segalanya, tetapi tahu kapan harus bertanya dan bertindak.
Pantau terus perkembangan kesehatan si kecil dan jangan ragu berkonsultasi jika ada tanda yang mengkhawatirkan.
Baca Juga: Regurgitasi pada Bayi Umum Terjadi, Dokter Ingatkan Perbedaan dengan GERD
Baca Juga: Tips Merawat Bayi Baru Lahir agar Tetap Hangat dan Sehat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini





