Akurat

Bayi Kuning Kenapa? Ini Penyebab, Risiko, dan Cara Menanganinya dengan Tepat

Idham Nur Indrajaya | 16 Februari 2026, 16:44 WIB
Bayi Kuning Kenapa? Ini Penyebab, Risiko, dan Cara Menanganinya dengan Tepat

AKURAT.CO Kulit bayi tiba-tiba tampak kekuningan di hari kedua setelah lahir. Orang tua langsung panik: bayi kuning kenapa? Apakah ini berbahaya?

Faktanya, kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi baru lahir. Banyak orang tua generasi milenial dan Gen Z baru menyadari istilah medisnya setelah melihat hasil pemeriksaan dokter: neonatal jaundice atau ikterus.

Namun meski sering dianggap normal, bayi kuning tetap perlu dipantau serius karena dalam kondisi tertentu, kadar bilirubin yang terlalu tinggi bisa berdampak ke otak.

Mari kita pahami secara menyeluruh.


Apa Penyebab Bayi Kuning?

Bayi kuning terjadi karena penumpukan bilirubin dalam darah.

Bilirubin adalah pigmen kuning yang terbentuk saat sel darah merah dipecah. Pada bayi baru lahir:

  • Jumlah sel darah merah lebih banyak

  • Hati (liver) belum matang sempurna

  • Proses pembuangan bilirubin belum optimal

Akibatnya, bilirubin menumpuk dan membuat:

  • Kulit tampak kuning

  • Bagian putih mata menguning

  • Dalam beberapa kasus, urine lebih gelap dan feses pucat

Sekitar 6 dari 10 bayi cukup bulan mengalami kondisi ini. Pada bayi prematur, angkanya bisa lebih tinggi.

Sebagian besar kasus tidak berbahaya dan hilang dalam 1–2 minggu.


Mengapa Bayi Baru Lahir Bisa Kuning? Ini Penjelasan Medisnya

1. Ikterus Fisiologis: Penyebab Paling Umum

Ini adalah penyebab utama bayi kuning pada minggu pertama kehidupan.

Tiga faktor utamanya:

  1. Produksi bilirubin tinggi karena banyak sel darah merah yang rusak

  2. Fungsi hati bayi belum matang

  3. Buang air besar belum lancar sehingga bilirubin tertahan

Biasanya muncul pada hari ke-2 atau ke-3 setelah lahir dan membaik dalam dua minggu.

Jika bayi tetap aktif, menyusu baik, dan tidak tampak lemas, umumnya kondisi ini masih dalam batas aman.


2. Bayi Kuning karena ASI, Apakah Berbahaya?

Ada dua jenis yang sering membingungkan orang tua:

Breastfeeding jaundice
Terjadi karena bayi kurang mendapat asupan ASI, sehingga jarang buang air besar.

Breast milk jaundice
Dipicu zat tertentu dalam ASI yang memengaruhi proses pemecahan bilirubin. Biasanya muncul minggu kedua dan bisa bertahan lebih lama.

Penting dicatat:
ASI tetap sangat dianjurkan. Manfaatnya jauh lebih besar dibanding risiko jaundice ringan.


3. Penyebab Bayi Kuning yang Perlu Diwaspadai

Meski sebagian besar normal, ada kondisi serius yang bisa menyebabkan kadar bilirubin sangat tinggi:

  • Inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rhesus

  • Infeksi berat atau sepsis

  • Gangguan hati seperti atresia bilier

  • Kelainan enzim seperti defisiensi G6PD

Jika bayi kuning muncul dalam 24 jam pertama setelah lahir, ini perlu evaluasi medis segera.


Kapan Bayi Kuning Harus Dibawa ke Dokter?

Segera periksakan jika:

  • Warna kuning makin pekat dan cepat menyebar

  • Bayi sangat sulit menyusu

  • Tampak lemas atau mengantuk berlebihan

  • Tangisan melengking tidak biasa

  • Feses berwarna pucat

Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan kadar bilirubin melalui alat non-invasif atau tes darah.

Baca Juga: Bahaya Merokok bagi Ibu Menyusui: Dampaknya Bisa Mengancam Kesehatan Bayi

Baca Juga: Kenapa Bayi Susah Tidur? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya yang Perlu Orang Tua Tahu


Cara Mengatasi Bayi Kuning

Penanganan tergantung tingkat keparahan.

1. Tanpa Perawatan Khusus

Jika kadar ringan, cukup dipantau dan pastikan bayi cukup minum ASI.

2. Fototerapi

Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus. Cahaya membantu mengubah bilirubin agar lebih mudah dikeluarkan tubuh.

3. Exchange Transfusion

Dilakukan pada kasus sangat berat. Darah bayi diganti untuk menurunkan bilirubin secara cepat.

Sebagian besar bayi membaik hanya dengan fototerapi dan bisa pulang dalam beberapa hari.


Risiko Jika Bayi Kuning Tidak Ditangani

Kadar bilirubin yang sangat tinggi bisa masuk ke otak dan menyebabkan:

  • Acute bilirubin encephalopathy

  • Kernikterus (kerusakan otak permanen)

  • Gangguan gerak

  • Gangguan pendengaran

  • Cerebral palsy

Kondisi ini jarang terjadi, tetapi bisa berdampak jangka panjang jika terlambat ditangani.


Insight: Kenapa Banyak Orang Tua Masih Salah Paham?

Di era media sosial, informasi kesehatan bayi sering bercampur antara mitos dan fakta.

Masih ada yang percaya bayi kuning bisa sembuh hanya dengan dijemur pagi hari. Padahal paparan matahari tidak selalu cukup dan bisa berisiko dehidrasi.

Di sisi lain, kepanikan berlebihan juga sering terjadi karena kurangnya edukasi tentang jaundice fisiologis.

Yang dibutuhkan adalah keseimbangan:
tidak meremehkan, tapi juga tidak panik tanpa dasar.


Contoh Kasus Nyata

Seorang ibu muda melihat kulit bayinya menguning di hari ketiga. Bayi masih aktif dan menyusu lancar.

Setelah diperiksa, kadar bilirubin masih dalam batas aman. Dokter hanya menyarankan pemantauan dan peningkatan frekuensi menyusui.

Seminggu kemudian, warna kuning menghilang.

Bandingkan dengan kasus lain: bayi tampak kuning sejak 12 jam setelah lahir dan terlihat lemas. Pemeriksaan menunjukkan inkompatibilitas rhesus dan memerlukan fototerapi intensif.

Perbedaannya terletak pada waktu muncul dan kondisi klinis bayi.


Kenapa Topik Ini Penting untuk Generasi Muda?

Semakin banyak pasangan milenial dan Gen Z menjadi orang tua di usia produktif. Akses informasi memang mudah, tapi tidak semuanya akurat.

Memahami bayi kuning bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga:

  • Mencegah komplikasi serius

  • Mengurangi kecemasan orang tua baru

  • Menghindari biaya perawatan darurat yang lebih mahal

  • Mendukung keputusan menyusui yang tepat

Pengetahuan dasar bisa menjadi pembeda antara kepanikan dan tindakan cepat yang tepat.


Penutup: Jangan Anggap Sepele, Tapi Jangan Panik

Kenapa bayi berwarna kuning?
Karena tubuhnya sedang beradaptasi.

Dalam banyak kasus, ini adalah proses alami. Namun dalam sebagian kecil situasi, ia bisa menjadi sinyal bahaya.

Yang membedakan bukan hanya warna kulit bayi, tetapi pemantauan dan respons orang tua.

Menjadi orang tua bukan soal tahu segalanya, tetapi tahu kapan harus bertanya dan bertindak.

Pantau terus perkembangan kesehatan si kecil dan jangan ragu berkonsultasi jika ada tanda yang mengkhawatirkan.

Baca Juga: Regurgitasi pada Bayi Umum Terjadi, Dokter Ingatkan Perbedaan dengan GERD

Baca Juga: Tips Merawat Bayi Baru Lahir agar Tetap Hangat dan Sehat

FAQ

Apa itu bayi kuning pada bayi baru lahir?

Bayi kuning adalah kondisi ketika kulit dan bagian putih mata bayi tampak menguning akibat tingginya kadar bilirubin dalam darah. Secara medis, kondisi ini disebut ikterus neonatal atau neonatal jaundice.

Bilirubin merupakan pigmen kuning yang terbentuk saat tubuh memecah sel darah merah. Pada bayi baru lahir, jumlah sel darah merah lebih banyak dan hati belum bekerja optimal, sehingga proses pembuangan bilirubin belum maksimal. Akibatnya terjadi penumpukan sementara yang membuat warna kulit berubah.

Dalam sebagian besar kasus, bayi kuning termasuk kondisi fisiologis yang umum terjadi pada hari ke-2 hingga ke-3 setelah lahir dan membaik dalam 1–2 minggu tanpa perawatan khusus.


Mengapa bayi kuning bisa terjadi setelah lahir?

Bayi kuning terjadi karena tiga faktor utama: produksi bilirubin tinggi, fungsi hati belum matang, dan pengeluaran bilirubin yang belum lancar. Kombinasi ini membuat kadar bilirubin meningkat pada minggu pertama kehidupan.

Selain ikterus fisiologis, ada juga penyebab lain seperti jaundice karena ASI (breastfeeding jaundice dan breast milk jaundice), inkompatibilitas golongan darah ABO atau Rhesus, infeksi, hingga kelainan enzim seperti defisiensi G6PD.

Jika warna kuning muncul dalam 24 jam pertama atau meningkat sangat cepat, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena bisa mengarah pada jaundice patologis yang memerlukan evaluasi medis segera.


Bagaimana cara mengatasi bayi kuning dengan aman?

Penanganan bayi kuning bergantung pada kadar bilirubin dan kondisi umum bayi. Jika kadar masih ringan, dokter biasanya hanya menyarankan pemantauan serta memastikan bayi cukup menyusu agar bilirubin lebih cepat dikeluarkan melalui feses.

Jika kadar bilirubin tinggi, terapi yang umum dilakukan adalah fototerapi. Bayi ditempatkan di bawah lampu khusus yang membantu mengubah bilirubin menjadi bentuk yang lebih mudah dikeluarkan tubuh. Dalam kasus yang sangat jarang dan berat, dilakukan prosedur tukar darah (exchange transfusion).

Penting dipahami, menjemur bayi di bawah sinar matahari tidak bisa menggantikan pemeriksaan kadar bilirubin. Evaluasi medis tetap menjadi standar utama dalam menentukan terapi.


Apa dampaknya jika bilirubin tinggi tidak ditangani?

Jika kadar bilirubin sangat tinggi dan tidak segera ditangani, pigmen tersebut dapat menembus jaringan otak dan menyebabkan kondisi yang disebut acute bilirubin encephalopathy. Dalam tahap lanjut, bisa berkembang menjadi kernikterus, yaitu kerusakan otak permanen.

Dampaknya dapat berupa gangguan gerak, gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan, hingga cerebral palsy. Meskipun kasus ini jarang terjadi, risikonya serius dan bersifat jangka panjang.

Karena itu, deteksi dini dan pemantauan ketat pada hari-hari pertama kelahiran sangat penting untuk mencegah komplikasi akibat hiperbilirubinemia pada bayi.


Bayi kuning berapa hari biasanya sembuh?

Pada bayi cukup bulan dengan ikterus fisiologis, warna kuning biasanya mulai terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan membaik dalam 10–14 hari. Setelah usia dua minggu, fungsi hati umumnya sudah lebih matang sehingga kadar bilirubin menurun secara alami.

Pada bayi prematur, proses ini bisa berlangsung lebih lama karena kematangan hati belum optimal. Sementara pada kasus breast milk jaundice, warna kuning dapat bertahan hingga 3–4 minggu tetapi tetap dalam batas aman jika kadar bilirubin tidak terlalu tinggi.

Jika warna kuning tidak membaik setelah dua minggu atau justru makin pekat, pemeriksaan lanjutan sangat disarankan untuk memastikan tidak ada gangguan hati atau penyebab lain yang mendasari.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.