Santri Salaf, Astronaut: Mengapa Tidak?

SEORANG santri yang setiap hari mengaji kitab kuning belum tentu kelak menjadi kiai. Bisa jadi ia menjadi dokter, ahli robotik, pengusaha, atau ilmuwan. Barangkali suatu hari nanti astronaut Indonesia salah satunya lahir dari pesantren salaf. Kemungkinan itu tidak semestinya dianggap aneh, karena menjadi santri tidak berarti membatasi cita-cita pada satu bidang kehidupan.
Saya teringat kakak saya, santri salaf yang sejak kecil tidak menempuh pendidikan formal. Bakat seninya, terutama kaligrafi, berkembang menjadi usaha ornamen bangunan berbahan Glassfiber Reinforced Concrete (GRC). Karyanya dipasang di masjid-masjid berbagai daerah hingga kota besar. Dari keterampilan itu ia menghidupi keluarganya tanpa meninggalkan identitas kesantriannya.
Hari Santri tahun ini terasa berbeda. Menjelang Hari Santri 2025 tahun kemarin, Presiden Indonesia memberi restu pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren. Kini lembaga itu resmi berdiri lewat Perpres Nomor 18 Tahun 2026, dan pesantren tidak lagi menjadi subordinasi Ditjen Pendidikan Islam. Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut ada 42.369 pondok pesantren di Indonesia, seluruhnya berstatus swasta.
Presiden sendiri menghendaki santri dibekali ilmu pengetahuan berbasis teknologi dan ekonomi, tidak hanya ilmu agama. Pemerintah bahkan menjajaki pengiriman putra-putri terbaik bangsa ke orbit lewat program kosmonaut Rusia, menurut mantan Menteri Luar Negeri Sugiono pada April lalu.
Dasar hukumnya pun makin kokoh, dari UU Nomor 18 Tahun 2019 hingga Perpres tersebut. Banyak pesantren memang sudah membuka jalur sains, kewirausahaan, atau kerja sama dengan kampus. Namun di banyak daerah, keberhasilan santri masih dibayangkan dalam satu rupa saja. Pertanyaannya, sudahkah setiap santri mendapat jalan untuk mengembangkan potensinya?
Baca Juga: Hari Santri Nasional 2026 Tanggal Berapa? Cek Tema dan Sejarahnya
Tiga Aliran, Satu Kerangka
Filsafat pendidikan Islam menyediakan kerangka untuk menjawabnya. Aliran religius-konservatif, yang diwakili Al-Ghazali, menekankan penyucian jiwa dan akhlak. Aliran religius-rasional, yang berakar pada Ikhwan al-Safa dan diperkaya Al-Farabi, Ibnu Sina, dan Ibnu Rusyd, menekankan keluasan ilmu dan daya nalar. Aliran pragmatis-instrumental, yang lazim dikaitkan dengan Ibnu Khaldun dan sejalan dengan gagasan John Dewey tentang belajar dari pengalaman nyata, menekankan ilmu yang berguna bagi kehidupan.
Ketiganya tidak perlu dipaksa menjadi satu. Tetapi dipertemukan, ketiganya merumuskan pendidikan yang utuh: membentuk akhlak, mengasah akal, dan menyiapkan manusia menjalani hidup.
Bingkai untuk mempertemukannya hari ini bisa kita pinjam dari gagasan integrasi-interkoneksi Prof. M. Amin Abdullah. Menolak pemisahan tajam antara ilmu agama dan ilmu umum, beliau menggambarkan keilmuan sebagai jaring laba-laba dengan tiga ranah yang saling menyapa: hadlarah al-nash (budaya teks), hadlarah al-‘ilm (budaya ilmu empiris), dan hadlarah al-falsafah (budaya etis-filosofis).
Integrasi di sini bukan meleburkan semuanya menjadi satu, melainkan membuat ketiganya berdialog. Dalam bingkai ini, santri yang mengaji kitab kuning tidak harus berpisah dari matematika, fisika, dan teknologi. Ia tetap butuh fondasi moral dan spiritual, tetapi juga akses laboratorium dan ilmu-ilmu yang akan menuntunnya menjadi ilmuwan.
Penjurusan yang Tidak Kaku
Karena itu, pesantren perlu mempertimbangkan jalur penjurusan sesuai minat dan bakat santri. Penjurusan tidak harus kaku sejak awal. Pesantren bisa mulai dengan mengenali potensi santri, memperkenalkan beragam bidang ilmu, lalu mendampingi mereka memilih secara sadar. Santri yang ingin mendalami kitab kuning tetap punya jalur pendalaman. Yang tertarik pada sains, teknologi, atau seni punya jalur lain, dan tidak ada bidang yang dianggap lebih mulia dari yang lain.
Kolaborasi, Bukan Beban Tunggal
Tidak realistis jika satu pesantren harus menyediakan semua bidang ilmu dan fasilitas. Karena itu diperlukan kolaborasi, dan ada tiga langkah konkret yang bisa dimulai, Pertama, Beasiswa dan jalur afirmasi bagi santri yang ingin menekuni sains, kedokteran, dan teknologi, disertai pendampingan akademik sebelum masuk perguruan tinggi. Kedua, Program pengenalan riset dan magang. Kampus dan lembaga riset membuka laboratorium bagi santri, sementara dunia usaha membuka kesempatan magang. Ketiga, Kemitraan resmi dan berkelanjutan antara pesantren dan perguruan tinggi, bukan sekadar kunjungan seremonial.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 3Cara Login dan Mengisi Aplikasi Sahabat KBC Kemenag untuk Guru dan Murid
- 4Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 7Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 8Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo



