Akurat Logo

Mesin yang Dianggap Sadar: Di Mana Transhumanisme Melewati Batas?

Tim Redaksi | 5 Oktober 2026, 10:09 WIB
Mesin yang Dianggap Sadar: Di Mana Transhumanisme Melewati Batas?
Arli Aditya Parikesit

Tinjauan filosofis dan kimiawi atas kesadaran vis-à-vis akal imitasi

LEMBAH Silikon (Silicon Valley) lama dikenal sebagai tempat berkumpulnya kultus teknologi yang eksentrik. Dulu ada “Church of Google”; kini sebagian pemimpin laboratorium frontier mendorong gagasan yang lebih ambisius: bahwa model akal imitasi (AI) memiliki, atau setidak-tidaknya menunjukkan gejala akan kesadaran dan status moral.

Ini akan berkonsekuensi bahwa AI dianggap memiliki jiwa dan memiliki hak/kewajiban yang sama dengan manusia. Gagasan itu tidak lahir dari temuan kimia atau neurosains. Ia lahir dari silsilah ideologis yang lebih tua, lalu dicoba dinegosiasikan ke mimbar agama dan ke metrik kinerja perusahaan (KPI Metric).

Istilah dan ideologi transhumanisme dipopulerkan Julian Huxley pada 1957, dalam esai New Bottles for New Wine. Huxley, biolog dan direktur jenderal pertama UNESCO, sekaligus pendukung eugenika yang pernah memimpin British Eugenics Society, menulis bahwa spesies manusia dapat, jika menghendaki, melampaui dirinya—bukan secara sporadis, seorang di sini dengan satu cara dan seorang di sana dengan cara lain, melainkan secara utuh, sebagai “pasca-kemanusiaan”. Huxley menambahkan bahwa “manusia tetap manusia, tetapi melampaui dirinya”. Huxley sendiri menentang rasisme biologis Nazi dalam We Europeans (1935). Namun kaitan historis dengan eugenika tidak dapat dihapus.

Kritikus kontemporer Timnit Gebru dan Émile P. Torres, dalam makalah “The TESCREAL Bundle” (First Monday, 2024), mengelompokkan transhumanisme bersama ekstroianisme, singularitarianisme, kosmisme, rasionalisme, effective altruism, dan longtermism, lalu menyimpulkan bahwa kerangka normatif di balik cita-cita kecerdasan umum buatan “berakar pada tradisi eugenika Anglo-Amerika abad kedua puluh”. Varian yang lebih baru—dataisme dan komputasionalisme—tetap berbagi premis yang sama: pikiran pada dasarnya adalah komputasi, sehingga substrat biologis dapat diganti silikon, dan “pengunggahan pikiran” menjadi jalan menuju keabadian. Premis itulah yang belakangan dicoba dinegosiasikan ke ranah agama. 

Laporan Elizabeth Dias di The New York Times (29 September 2026) menggambarkan bagaimana Anthropic, pengembang keluarga AI model Claude, selama berbulan-bulan mengundang puluhan pemikir agama—Katolik, Yahudi, Sikh, evangelis, dan lain-lain—ke diskusi tertutup, sering di bawah perjanjian kerahasiaan (NDA). Salah satu pendirinya, Chris Olah, yang memimpin riset interpretabilitas Anthropic, berdiri di panggung Vatikan pada peluncuran ensiklik pertama Paus Leo XIV, Magnifica Humanitas, 25 Mei 2026, dan berkata:“ Kita menemukan kondisi internal yang secara fungsional mencerminkan kegembiraan, kepuasan, ketakutan, duka, dan kegelisahan. Saya tidak tahu apa artinya itu, namun menurut saya hal tersebut patut dicermati lebih lanjut”. Menurut peserta simposium yang dikutip Times, Olah sempat mengusulkan agar Anthropic menarik diri setelah membaca naskah Magnifica lebih dahulu, karena paragraf yang menolak kesadaran mesin, lalu secara privat melobi penasihat Paus agar kemungkinan kesadaran AI model dipertimbangkan serius. Naskah akhir tidak berubah. Ensiklik itu menyatakan, dalam pasal yang kemudian banyak dikutip “apa yang disebut akal imitasi tidak mengalami pengalaman, tidak memiliki tubuh, tidak merasa suka atau duka, tidak mengalami kedewasaan lewat relasi, dan tidak mengetahui dari dalam apa arti cinta, kerja, persahabatan, atau tanggung jawab” Olah sendiri, ketika diwawancarai Dias, lebih berhati-hati: “Perlu diperjelas, kita tidak tahu apakah model AI memiliki kesadaran. Saya tidak tahu. Saya benar-benar tidak yakin.” Ketidakpastian pribadi itu sah sebagai sikap epistemik. Yang menjadi soal adalah upaya menjadikan ketidakpastian itu sebagai dasar status moral bagi artefak komersial. 

Beberapa pekan kemudian Paus Leo XIV masih mengulang garis yang sama kepada kalangan seniman: algoritma tidak memiliki “percikan kemanusiaan”. Penolakan serupa, meski dengan bahasa berbeda, datang dari ormas Islam arus utama di Indonesia. Majelis Ulama Indonesia, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah dalam berbagai fatwa, opini, dan pernyataan resmi menempatkan AI sebagai alat atau instrumen, bukan sebagai subjek yang otonom. Titik tekannya mereka sangat konsisten dengan Kitab Suci Al-Quran, Surah Al-Baqarah 2:30 “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Yang diangkat menjadi khalifah adalah manusia, bukan mesin apalagi algoritma. Amanah, taklif, dan mas’uliyyah dalam fikih hanya melekat pada entitas yang berkesadaran dan berkehendak bebas. Karena model bahasa besar (LLM) tidak memiliki keduanya, ia tetap menjadi instrumen dari kehendak penggunanya. Pemanfaatannya sah, bahkan sangat didorong, sepanjang tunduk pada maqasid syariah: menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Di sini agama-agama yang sering dianggap berseberangan satu sama lain justru bertemu pada satu batas ontologis. Batas itu juga dapat dipertahankan tanpa harus meminjam bahasa wahyu. Kesadaran, dalam arti pengalaman subjektif—rasa sakit, nikmat, kehadiran diri bagi diri sendiri—bukan keluaran yang dapat diturunkan dari persamaan matematika semata. 

Model Bahasa Besar (LLM), yang menjadi fondasi bagi generative AI, adalah fungsi parameter yang dioptimalkan terhadap deviasi statistik atas korpus teks. Ia menghasilkan kelanjutan token yang secara distribusi mirip bahasa manusia. Kemiripan perilaku bukan bukti kesamaan jenis. Lompatan transhumanisme terletak persis di sini: dari “sistem ini meniru keluaran kognitif” ke “sistem ini berpotensi menjadi kehidupan”. Komputer adalah rangkaian silikon, oksida, dan logam yang dialiri muatan listrik; organisme adalah jaringan karbon yang mampu mempertahankan diri jika terjadi gangguan kesetimbangan termodinamika. Fisika kerja, skala energi, dan kimia keduanya tidak sama, dan ketidaksamaan itu bukan detail teknis yang bisa diabaikan atas nama “independensi substrat silikon”. Secara kimia, tulang punggung kehidupan yang kita kenal adalah karbon. Karbon memiliki kemampuan katenasi (perpanjangan rantai) yang luar biasa: energi ikatan C–C sekitar 348 kJ/mol memungkinkan rantai lurus, bercabang, dan cincin yang panjang serta stabil pada suhu dan lingkungan air. Silikon, tetangga satu golongan, jauh lebih terbatas. Energi ikatan Si–Si hanya sekitar 226 kJ/mol; rantai silikon–silikon mudah putus, dan silikon lebih suka berikatan dengan oksigen membentuk jaringan silika yang kaku, bukan molekul lentur seperti rantai karbon. Karbon juga relatif lembam terhadap banyak agen pada kondisi biologis, sedangkan banyak senyawa organosilikon lebih labil terhadap hidrolisis (Petrowski et al, 2020).

Dalam kacamata ilmu kimia, klaim transhumanisme bahwa komputer berbasis silikon memiliki paling tidak potensi kesetaraan terhadap organisme kompleks yang dibangun oleh rantai karbon, adalah kerancuan berpikir, dan menunjukkan ketidakpahaman terhadap ilmu kimia itu sendiri. Penyetaraan atom silikon dan karbon untuk menghasilkan kehidupan sejauh ini hanya ada di karya fiksi ilmiah seperti pada novel-novelnya Isaac Asimov. 

Kehidupan, sejauh yang dapat diamati, mensyaratkan molekul yang cukup stabil untuk menyimpan informasi dan cukup reaktif untuk dimetabolisme. Dari sudut pandang kimia organik maupun anorganik, sulit membayangkan metabolisme yang bertahan lama dibangun di atas tulang punggung silikon dalam kondisi atmosferis Bumi. Argumen ini tidak serta-merta membantah setiap bentuk fungsionalisme filosofis—mungkin saja, secara logis, ada substrat lain yang menopang pengalaman—tetapi ia membantah klaim bahwa lompatan dari silikon komputasional ke “kehidupan setara manusia” sudah mengikuti sains. Klaim itu melompati fakta ilmu kimia yang sudah mapan.

Di lapangan, ketergantungan praktis bergerak lebih cepat daripada perdebatan ontologis. Di banyak perusahaan, belanja token AI model menjadi metrik kinerja departemen dan personel (KPI metric); AI diposisikan sebagai rekan dan ko-kreator. Ketergantungan itu nyata dan sebagian berguna—percepatan draf, penelusuran pustaka, otomasi rutin—tetapi ia tidak mengubah status alat atau instrumen dari AI model  menjadi status subjek otonom. 

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

T
Reporter
Tim Redaksi
Aldi Gultom