Akurat Logo

Hewan Sehat, Indonesia Bergizi: Jalan Panjang Menuju Swasembada Protein Hewani

Redaksi Akurat | 4 Oktober 2026, 20:11 WIB
Hewan Sehat, Indonesia Bergizi: Jalan Panjang Menuju Swasembada Protein Hewani
Kepala BBPKH Cinagara, Inneke Kusumawaty.

BULAN Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190 Tahun 2026 mengusung tema “Swasembada Protein Hewani untuk Indonesia yang Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Tema ini menegaskan bahwa swasembada protein hewani bukan sekadar persoalan meningkatkan jumlah ternak dan produksi daging, telur, atau susu.

Di baliknya terdapat persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan ternak sehat, produktif, aman dikonsumsi, serta dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten.

Pembicaraan tentang swasembada peternakan sering berfokus pada populasi ternak, ketersediaan bibit, pakan, produksi, pemasaran, dan harga. Semua faktor tersebut penting.

Namun, ada satu fondasi yang menentukan keberhasilannya, yaitu kesehatan hewan. Jalan menuju swasembada protein hewani dimulai dari pengelolaan ternak di kandang hingga tersaji di meja makan siap dikonsumsi dengan jaminan pangan yang aman sehat utuh dan halal (ASUH).

Ternak yang sakit akan mengalami penurunan produktivitas, gangguan reproduksi, bahkan kematian. Bagi peternak, kondisi tersebut berarti meningkatnya biaya dan menurunnya pendapatan. Dalam skala yang lebih luas, penyakit hewan dapat mengganggu produksi dan ketersediaan pangan asal hewan.

Dari kandang menuju meja makan

Kebutuhan masyarakat terhadap pangan hewani terus berkembang. Data Badan Pangan Nasional menunjukkan ketersediaan protein hewani pada 2025 mencapai 27,73 gram per kapita per hari, meningkat dari 26,80 gram pada 2024.

Peningkatan ini menunjukkan semakin pentingnya pangan hewani dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat.

Namun, peningkatan produksi tidak cukup hanya dilihat dari jumlah. Daging, telur, dan susu yang tersedia harus aman, utuh, dan bergizi.

Produk tersebut melewati tahapan panjang, mulai dari pemilihan bibit, pemberian pakan, pemeliharaan, pengendalian penyakit, reproduksi, hingga penanganan setelah ternak dipanen. Setiap tahapan memiliki risiko yang harus dikendalikan.

Di sinilah kesehatan masyarakat veteriner berperan. Produk pangan asal hewan perlu memenuhi prinsip aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH).

Keberhasilan peternakan bukan hanya ketika ternak mampu menghasilkan produk, tetapi ketika produk tersebut aman dikonsumsi dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Mengapa One Health penting?

Kesehatan hewan tidak berdiri sendiri. Hewan hidup dalam lingkungan dan berinteraksi dengan manusia.

Penyakit pada hewan dapat menimbulkan kerugian ekonomi, dan sebagian penyakit juga berpotensi menular kepada manusia.

Karena itu, kesehatan hewan tidak dapat dipandang hanya sebagai urusan peternak atau tenaga veteriner. Ia merupakan bagian dari kesehatan masyarakat.

Perspektif tersebut sejalan dengan konsep One Health, yang memandang kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan.

Penyakit pada ternak dapat menimbulkan efek berantai. Hewan sakit dapat mengalami penurunan pertumbuhan, penurunan produksi, gangguan reproduksi, bahkan kematian. Secara ekonomi akan memberi konsekuensi meningkatnya biaya pemeliharaan dan menurunnya pendapatan peternak.

Pada tingkat nasional, gangguan kesehatan hewan dapat memengaruhi ketersediaan pangan asal hewan. Masalah menjadi kompleks ketika penyakit tersebut berpotensi menular kepada manusia (zoonosis).

Kesehatan hewan bukan biaya tambahan yang muncul ketika penyakit datang tapi menjadi investasi produktivitas dan ketahanan pangan.

Menuju swasembada protein hewani, hubungan dalam One Health tampak jelas. Ternak membutuhkan lingkungan yang sehat agar dapat tumbuh dan produktif.

Masyarakat membutuhkan pangan asal hewan yang aman dan bergizi. Lingkungan harus dikelola agar kegiatan peternakan dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Pencegahan penyakit menjadi investasi penting. Biosekuriti, vaksinasi sesuai ketentuan, sanitasi kandang, pengawasan lalu lintas ternak, pemantauan kesehatan, serta deteksi dini merupakan bagian dari upaya menjaga produktivitas sekaligus mencegah kerugian yang lebih besar.

Semakin cepat penyakit dikenali dan ditangani, semakin besar peluang untuk melindungi ternak, peternak, konsumen, dan rantai pasok pangan. Investasi pada pencegahan penyakit dapat mengurangi kerugian produksi.

Baca Juga: Densus 88 Tangkap 11 Terduga Teroris di 6 Provinsi, Terafiliasi Jaringan Daulah Islamiyah?

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.