Penyegaran Kabinet, PR Darurat Sektor Industri

SEPERTI diketahui, sektor industri per kuartal terus menurun selama dua tahun terakhir ini. Pada kuartal II-2025 sampai kuartal II-2026, tingkat pertumbuhan sektor industri terus merosot dari 5,48% menjadi hanya 4,5%.
RAPBN 2027 yang baru disahkan juga tidak memberikan sinyal dorongan khusus terhadap industri sebagai penopang ekonomi yang paling besar. Dengan demikian perekonomian sulit diharapkan tumbuh 6% apalagi menuju 7%.
Bagaimana bisa pertumbuhan ekonomi akan mencapai 7% jika kondisi sektor industri lemah dan menurun seperti dua tahun terakhir ini. Padahal target resmi RPJMN -sebagai utang kepada rakyat- kontribusi manufaktur terhadap PDB ditargetkan meningkat dari baseline 18,67% menjadi 21,9% pada 2029.
Baca Juga: Ekonom Ungkap PR Dradjad Wibowo Sebagai Wamenko Perekonomian
Sementara target resmi pertumbuhan ekonomi adalah tumbuh 8% pada 2029. Target ini sudah pasti mustahil bisa dicapai jika kebijakan ekonomi dan industritidak berubah alias berjalan as usual.
Bagaimana strategi dan kebijakan yang seharusnya dilakukan ke depan dengan penyegaran menteri perindustrian yang baru? Jawabannya mutlak tidak menjalankan kebijakan as usual seperti selama dua tahun ini. Kebijakan yang berjalan justru menghasilkan sektor industri yang semakin lemah dan tidak bisa menjadi penopang pertumbuhan ekonomi.
Ada kondisi dan peluang yang terleatkan dan bahkan hilang selama ini. Masalah sektor industri bukan hanya kebijakan tetapi juga kehilangan momentum pertumbuhan industri karena tersalip oleh negara-negara sekitar.
Juga keadaan yang ada cukup prihatin, selain pertumbuhan di bawah 5%, pertumbuhan antar subsektor sangat tidak merata antar-subsektor. Bahkan PMI sempat jatuh ke 46,9 pada Juni dan 49,8 pada Agustus, sebelum kembali ke 52,4 pada September 2026.
Pada saat yang sama ketika RAPBN disahkan tidak terlihat tanda-tanda akan fokus pada dorongan dan penguatan sektor produktif terutama sektor industri. Apakah pengesahan struktur RAPBN 2027 cukup kuat untuk mengubah target pertumbuhan 6% akan menjadi akselerasi industrialisasi?
Pertanyaan ini penting karena di sini kunci sukses atau tidaknya pertumbuhan ekonomi, sangat tergantung pada sektor yang terbesar ini. Desain kebijakannya dengan defisit yang cukup besar kemungkinan hanya untuk bayar utang dan mandatory ke program sosial, yang membutuhkan dana apbn dalam jumlah besar.
Jadi jawaban pertanyaan tersebut sangat tergantung apakah ada perubahan desain kebijakan atau tetap status quo seperti sekarang. Yang jelas defisit yang besar bukan bukti dari adanya ekspansi produktif.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







