KDMP untuk Pembangunan Ekonomi Pariwisata Desa

PEMBENTUKAN Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) merupakan salah satu langkah penting negara untuk kembali hadir dalam kehidupan ekonomi masyarakat desa.
Di tengah dominasi mekanisme pasar yang sering kali tidak berpihak kepada kelompok kecil, kehadiran KDMP mengandung pesan politik dan sosial yang kuat: negara tidak boleh menyerahkan sepenuhnya urusan kesejahteraan rakyat kepada logika pasar.
Dalam perspektif pembangunan pedesaan, keberadaan KDMP patut diapresiasi. Koperasi ini berpotensi menjadi instrumen ekonomi yang mampu memperkuat posisi tawar masyarakat desa, mengonsolidasikan sumber daya lokal, serta menciptakan nilai tambah yang lebih adil bagi warga.
Baca Juga: Pelamar Rekrutmen Manajer KDMP Membludak, 483.648 Orang Lolos ke Tahap Tes Kompetensi Berbasis CAT
Dengan kata lain, KDMP dapat menjadi sarana untuk memastikan bahwa keuntungan ekonomi desa tidak terus-menerus mengalir keluar desa, melainkan berputar dan berkembang di dalamnya.
Namun, apresiasi tersebut tidak boleh menghilangkan ruang kritik. Persoalan utama yang saat ini terlihat adalah adanya gap imajinasi pembangunan. Dalam banyak kasus, pendirian KDMP lebih didorong oleh target kuantitatif dibandingkan kesiapan substantif.
Ukuran keberhasilan cenderung diletakkan pada berapa banyak koperasi yang berhasil dibentuk, bukan pada seberapa kuat koperasi tersebut mampu bertahan, tumbuh, dan memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat.
Akibatnya, banyak pertanyaan mendasar yang belum memperoleh jawaban memadai. Siapa sumber daya manusia yang akan mengelola koperasi? Apa jenis usaha yang menjadi kompetensi inti koperasi?
Bagaimana desain rantai pasok yang adil bagi petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM desa? Bagaimana koperasi membangun keunggulan yang tidak dimiliki pelaku usaha lain? Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali tenggelam di tengah euforia pendirian kelembagaan.
Kondisi ini memunculkan berbagai kritik. Sebagian kalangan menilai KDMP berpotensi mematikan usaha masyarakat yang telah lebih dahulu berkembang.
Sebagian lainnya melihat KDMP hanya akan berubah menjadi toko ritel baru yang bersaing dengan warung-warung kecil di desa. Kritik tersebut tidak sepenuhnya keliru.
Koperasi akan kehilangan makna sosialnya apabila hanya meniru model bisnis yang sudah dijalankan oleh minimarket modern atau pelaku usaha komersial lainnya.
Karena itu, KDMP membutuhkan bidang usaha yang memiliki karakter khas desa, sulit direplikasi oleh perusahaan besar, sekaligus mampu menciptakan nilai tambah tinggi bagi masyarakat. Salah satu sektor yang memenuhi ketiga syarat tersebut adalah pariwisata pedesaan.
Pilihan ini bukan tanpa alasan. Data Potensi Desa (PODES) menunjukkan bahwa mayoritas desa di Indonesia kini telah terhubung dengan akses internet.
Transformasi digital telah membuka peluang baru bagi desa untuk terhubung langsung dengan pasar tanpa harus kehilangan identitas lokalnya.
Pada saat yang sama, tren wisata pascapandemi menunjukkan meningkatnya minat masyarakat terhadap wisata berbasis pengalaman, wisata alam, wisata budaya, wisata pertanian, dan berbagai bentuk wisata yang menawarkan ketenangan serta keaslian kehidupan pedesaan.
Di sinilah KDMP dapat menemukan empat peran strategisnya.
Pertama, KDMP dapat menjadi pusat ekonomi kreatif dan pemasaran pengalaman desa (village experience hub). Selama ini, banyak desa hanya berfokus menjual produk.
Padahal, nilai ekonomi terbesar sering kali justru berada pada pengalaman mengonsumsi produk tersebut di tempat asalnya. Secangkir kopi yang dijual di kota mungkin bernilai puluhan ribu rupiah.
Namun pengalaman memetik kopi, melihat proses pengolahan, menikmati pemandangan kebun, berinteraksi dengan petani, lalu menyeduh kopi langsung di lokasi dapat menghasilkan nilai ekonomi berkali-kali lipat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat





