Indonesia dan Australia Perkuat Kerja Sama Keamanan, Delapan Negara Soroti Ancaman Terorisme hingga Kejahatan Siber

AKURAT.CO Indonesia bersama tujuh negara di kawasan memperkuat kerja sama dalam menghadapi ancaman terorisme dan kejahatan lintas negara. Termasuk penyalahgunaan kecerdasan buatan (AI), penipuan daring, perdagangan orang, serta ancaman keamanan maritim.
Komitmen tersebut tertuang dalam Pertemuan ke-7 Sub-Regional Meeting on Counter Terrorism and Transnational Security (SRM) di Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Forum diikuti delapan negara, yakni Indonesia, Australia, Brunei Darussalam, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, dan Thailand. Dipimpin bersama oleh Menko Bidang Politik dan Keamanan, Dudung Abdurachman, serta Menteri Dalam Negeri, Imigrasi dan Kewarganegaraan, Keamanan Siber, dan Kesenian Australia, Tony Burke.
Dudung menekankan bahwa ancaman keamanan lintas negara tidak dapat ditangani secara terpisah. Karena itu, diperlukan peningkatan koordinasi, pertukaran informasi intelijen, serta penguatan kemampuan bersama dalam menghadapi berbagai bentuk kejahatan.
"Ancaman keamanan saat ini semakin saling terhubung dan membutuhkan respons bersama. Melalui pertemuan ketujuh SRM, Indonesia mendorong penguatan koordinasi regional, pertukaran informasi, dan peningkatan kapasitas. Agar komitmen bersama dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata untuk memperkuat keamanan dan ketahanan Kawasan," jelasnya.
Baca Juga: Prabowo Minta Sanksi Pembakar Hutan Diperberat, Pelaku Bisa Masuk Kategori 'Terorisme Ekologi’
Dalam pertemuan tersebut, para delegasi membahas sejumlah ancaman keamanan, mulai dari terorisme dan ekstremisme kekerasan, migrasi tidak teratur, perdagangan orang, penyelundupan manusia, hingga keberadaan pusat penipuan daring atau scam centres.
Selain itu, perkembangan teknologi, khususnya AI, menjadi perhatian karena berpotensi disalahgunakan untuk mendukung aktivitas kejahatan, propaganda ekstremisme, dan perekrutan anggota jaringan terorisme.
Para delegasi juga menyoroti radikalisasi melalui ruang digital, terutama yang menyasar generasi muda, serta perkembangan ancaman ekstremisme kekerasan nihilistik atau Nihilistic Violent Extremism.
Untuk menghadapi ancaman tersebut, negara-negara peserta mendorong peningkatan pertukaran informasi, penguatan program rehabilitasi dan reintegrasi, serta kerja sama dalam mencegah pendanaan terorisme.
Sementara itu, dalam penanganan perdagangan orang dan penyelundupan manusia, kerja sama diarahkan pada peningkatan pertukaran intelijen, koordinasi penyelidikan, identifikasi korban, serta perlindungan terhadap masyarakat yang menjadi sasaran jaringan kejahatan lintas negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya









