Akurat Logo

Peran Santri sebagai Benteng Moral Bangsa di Tengah Krisis Keteladanan

Ayu Rachmaningtyas | 23 Oktober 2026, 17:21 WIB
Peran Santri sebagai Benteng Moral Bangsa di Tengah Krisis Keteladanan
Mendes PDT, Yandri Susanto (kiri), bersama pengurus Ponpes BSM, Serang, dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2026. - Foto: Kemendes PDT

AKURAT.CO Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum krusial untuk menegaskan kembali peran strategis santri dan pesantren sebagai benteng moral bangsa, di tengah gempuran era digital dan krisis keteladanan.

Demikian disampaikan Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT), Yandri Susanto, dalam Peringatan Hari Santri Nasional 2026 di Pondok Pesantren Al-Qur'an Bai Mahdi Sholeh Ma'mun (BSM), di Serang, Banten.

Dia menjelaskan, melalui disiplin tinggi dan bimbingan para kiai, jutaan santri di seluruh penjuru negeri dipersiapkan menjadi benteng tangguh yang membentengi masyarakat dari maraknya judi online, korupsi, hingga hilangnya etika di ruang publik.

"Hari Santri Nasional ini bentuk keberpihakan negara untuk memastikan bahwa pondok pesantren itu harus dijaga. Maka kalau ada orang yang memojokkan, menghina pondok pesantren, itu adalah musuh kita," kata Yandri, melalui keterangannya, Jumat (23/10/2026).

Ia menyatakan bahwa kaum santri bukan sekadar bagian dari sejarah pesantren, melainkan denyut perjuangan yang turut menggerakkan perjalanan bangsa hingga kini.

Baca Juga: Kemenag Siapkan Lima Program untuk Perkuat Masa Depan Santri dan Pesantren

Sejak era kolonialisme, ketika Tanah Air dirundung penindasan, hingga momentum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, santri bersama para kiai mengambil peran dalam menyalakan api perlawanan dan merawat cita-cita kemerdekaan.

Semangat itu menemukan salah satu tonggak penting melalui Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang digelorakan Hadratussyekh KH. Hasyim Asy'ari, sebagai seruan mempertahankan kemerdekaan dari ancaman kembalinya kolonialisme.

Lebih jauh, jejak pengabdian santri juga melewati berbagai gejolak yang menguji ketahanan bangsa, termasuk pergolakan politik dan peristiwa G30S 1965, yang meninggalkan luka mendalam dalam sejarah Indonesia.

"Karena pesantren memberikan sumbangsih dan kontribusi yang sangat nyata dan sangat besar dalam proses hidup berbangsa dan bernegara. Mulai dari era kolonial, di zaman proklamasi, gejolak Tanah Air, ada G30S, peristiwa Resolusi Jihad, pondok pesantren selalu on the track, jalan lurus," jelasnya.

Yandri juga menyampaikan apresiasi atas peran kiai, ulama, dan para tokoh agama yang dinilai tidak hanya membentuk karakter moral generasi muda, tetapi turut merawat nilai-nilai kebangsaan serta memperkuat fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.