Akurat Logo

PDIP Sentil Penanganan Kekeringan dan Karhutla: Jangan Tunggu Desa Krisis Air Baru Bergerak

Putri Dinda Permata Sari | 21 Oktober 2026, 19:57 WIB
PDIP Sentil Penanganan Kekeringan dan Karhutla: Jangan Tunggu Desa Krisis Air Baru Bergerak
Ilustrasi karhutla. - Freepik

AKURAT.CO Pemerintah daerah diminta tidak terus mengandalkan penanganan darurat setiap kali kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi pada musim kemarau.

Mitigasi dan solusi jangka panjang dinilai perlu diperkuat agar bencana yang berulang tidak terus membebani masyarakat.

Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, menilai, pola bencana yang berulang seharusnya menjadi dasar bagi pemerintah untuk memetakan wilayah rawan dan menyiapkan langkah pencegahan sejak dini.

Menurutnya, kekeringan dan karhutla tidak boleh dianggap sekadar kejadian musiman yang baru ditangani ketika masyarakat kesulitan mendapatkan air bersih atau api telanjur meluas di kawasan hutan.

“Kita prihatin melihat saudara-saudara kita di berbagai daerah harus menghadapi krisis air, sementara pada saat yang sama kebakaran terjadi di sejumlah kawasan pegunungan. Kejadian seperti ini berulang hampir setiap musim kemarau. Karena itu yang harus diperkuat adalah mitigasinya. Jangan menunggu sumur mengering atau hutan terbakar baru semua bergerak,” kata Said, Rabu (21/10/2026).

Ia mengatakan, pemerintah perlu memetakan desa-desa yang berulang kali mengalami kekeringan agar upaya pencegahan dapat dilakukan sebelum krisis terjadi.

Said mengakui pengiriman tangki air tetap dibutuhkan dalam kondisi darurat. Namun, langkah tersebut tidak seharusnya menjadi solusi yang terus diandalkan setiap tahun.

“Kalau setiap tahun desa yang mengalami kekeringan relatif sama, persoalannya sebenarnya sudah bisa dipetakan. Tangki air sangat dibutuhkan dalam keadaan darurat, tetapi tugas kita adalah memastikan pada tahun-tahun mendatang masyarakat di desa tersebut tidak terus menunggu tangki datang,” tegasnya.

Said juga menyoroti keterkaitan antara kerusakan hutan, ketersediaan air, dan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, perlindungan kawasan hutan dan daerah tangkapan air harus menjadi bagian penting dari upaya mengurangi risiko bencana.

“Karhutla dan kekeringan saling berhubungan. Hutan adalah penyangga kehidupan dan daerah tangkapan air. Kalau hulunya rusak, masyarakat di hilir akhirnya menerima dampaknya. Karena itu menjaga lingkungan harus ditempatkan sebagai bagian dari perlindungan terhadap masyarakat,” ujarnya.

Ia turut mengingatkan pesan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri agar kader partai menjadi Pandu Ibu Pertiwi.

Said menilai pesan tersebut perlu diwujudkan melalui keterlibatan langsung dalam membantu masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

“Pesan Ibu Megawati jelas, kader PDI Perjuangan harus menjadi Pandu Ibu Pertiwi. Artinya ketika alam terluka, kader tidak boleh hanya melihat. Harus hadir, bekerja dan ikut memulihkannya,” katanya.

Baca Juga: Jokowi Singgung Operasi Politik di Balik Polemik Ijazah Dirinya dan Gibran, PDIP: Buktikan Saja!

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.