Akurat Logo

DPR Desak Prabowo Buka Data Perusahaan yang Diduga Terkait Karhutla

Ayu Rachmaningtyas | 16 Oktober 2026, 13:28 WIB
DPR Desak Prabowo Buka Data Perusahaan yang Diduga Terkait Karhutla
Sejumlah hotspot karhutla di Kalimantan Selatan.

AKURAT.CO Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, mendesak Presiden Prabowo Subianto membuka data perusahaan yang teridentifikasi memiliki keterkaitan dengan konsesi lahan dan titik panas pemicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Desakan itu muncul setelah Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) dan Greenpeace Indonesia mengungkap adanya 52 perusahaan yang terafiliasi dengan modal asal Malaysia dan Singapura terkait karhutla di Indonesia.

"Jangan biarkan data ini jadi bola panas di ruang publik, tanpa klarifikasi dan tindakan yang jelas dari pemerintah," kata Alex dalam keterangannya, Jumat (16/10/2026).

Alex menjelaskan, berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), karhutla pada 2026 telah terjadi sejak Januari hingga Juni.

Periode tersebut ditandai dengan peningkatan titik panas (hotspot) dan luas lahan terbakar yang dilaporkan mencapai 107.465 hingga 202.004 hektare.

Pada Juli 2026, titik api mulai meluas di sejumlah daerah, termasuk Papua serta wilayah Sumatra dan Kalimantan.

Kondisi tersebut semakin memburuk pada Agustus, ketika luas area terbakar meningkat drastis hingga ratusan ribu hektare di sejumlah provinsi, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan.

"Karhutla ini memerlukan penanganan dengan bantuan kecanggihan teknologi," ujarnya.

Alex juga menyampaikan keprihatinan atas meninggalnya empat orang saat memadamkan karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur.

Dua relawan lainnya dilaporkan mengalami luka bakar serius dan harus menjalani perawatan intensif.

Menurut Alex, karhutla tidak hanya terjadi di TNBTS, tetapi juga masih melanda sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatra.

Asap yang ditimbulkan turut mengganggu aktivitas masyarakat dan memperburuk kualitas udara.

Ia menilai penggunaan istilah "terorisme ekologi" oleh Presiden Prabowo dalam rapat terbatas pada 16 September 2026 sudah tepat untuk menggambarkan seriusnya persoalan tersebut. Namun, ia mengingatkan agar istilah itu diikuti dengan langkah konkret.

"Namun, kita tidak boleh terjebak dengan jargon. Harus ada aksi nyata dan konkret dalam waktu sesingkat-singkatnya," terang Alex.

Ia juga menyoroti dampak kabut asap yang melintasi batas negara hingga memicu perhatian masyarakat negara tetangga.

"Terlebih, jiran kita sudah mengolok-olok dengan 'meme jerebu' terkait kasus karhutla kita ini. Mungkin, karena sudah kesal dengan kabut asap yang ikut mereka rasakan imbasnya," tambahnya.

Selain korban jiwa di TNBTS, Alex mencatat karhutla telah menyebabkan 324 orang mengalami luka berat dan 23 orang luka ringan. Mayoritas korban tersebut berasal dari Kalimantan Tengah.

Baca Juga: Denmark Terbuka 2026: Alwi ke Perempat Final, Jonatan Sebut Permainan Juniornya Makin Matang

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.