Akurat Logo

Jelajah Kemolekan Sorong Selatan, Ruang Hidup yang Layak Dikenal dengan Hormat

Siti Nur Azzura | 3 Oktober 2026, 00:10 WIB
Jelajah Kemolekan Sorong Selatan, Ruang Hidup yang Layak Dikenal dengan Hormat
Mama-mama dari Sorong Selatan membuat Papeda, sebagai bagian dari rangkaian program 'Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua'.

AKURAT.CO Bagi masyarakat di Kepala Burung Papua, papeda adalah makanan sehari-hari. Namun hari ini, papeda menjadi pintu masuk bagi warga Jakarta untuk mengenal sebuah wilayah yang selama ini jarang terdengar.

Momen itu menjadi bagian dari pembukaan 'Jelajah Kemolekan Sorong Selatan: Ekowisata, Kebudayaan, dan Gastronomi Kepala Burung Papua', sebuah program yang lahir dari kolaborasi antara Konservasi Indonesia (KI), National Geographic Indonesia, dan Legenda Khatulistiwa.

Program ini mengangkat tiga kampung di Kabupaten Sorong Selatan, Provinsi Papua Barat Daya, yaitu Klaogin, Konda, dan Bariat, yang tengah merintis ekowisata berbasis masyarakat.

Baca Juga: Pariwisata Jabar Menggeliat, Wisatawan Nusantara Mencapai 149 Juta Perjalanan

Pembukaan acara ini menandai dimulainya rangkaian kegiatan berupa pameran foto, dialog bersama narasumber dari pemerintah, lembaga konservasi, dan kepala kampung, pertunjukan tari, hingga demonstrasi masak pangan lokal.

Sorong Selatan menyimpan bentang hutan rawa gambut tropis yang menjadi habitat beragam flora dan fauna. Namun bagi masyarakatnya, hutan itu lebih dari sekadar kawasan ekologis. Di sanalah mereka mencari pangan, belajar membaca musim, dan mewariskan cerita dari generasi ke generasi.

'KI bangga dan haru berdiri di tanah Sorong Selatan yang dianugerahi kekayaan alam luar biasa, menyimpan hutan rawa gambut tropis yang menjadi rumah bagi 416 spesies tumbuhan dan 372 spesies satwa. Namun bagi masyarakatnya, kekayaan ekologis ini lebih dari sekadar habitat biodiversitas, di sanalah mereka menggantungkan pangan, membaca tanda-tanda musim, serta merawat cerita leluhur," ujar Senior Vice President and Executive Chair, Konservasi Indonesia, Meizani Irmadhiany, Jumat (2/10/2026).

"Berperan penting sebagai paru-paru ekologis, dari sinilah ekowisata yang kami dorong bermula. Masyarakat adat bukan sekadar pelengkap wisata, melainkan pemangku kearifan lokal sekaligus penjaga utama benteng hijau mereka. Program ini sengaja dirancang agar tidak berhenti pada keindahan lanskap," tambahnya.

Baca Juga: Artotel Ungkap Strategi Bisnis Hotel di Tengah Tren Wisata Baru

Editor in Chief National Geographic Indonesia, Didi Kaspi Kasim, mengatakan cara sebuah tempat diceritakan ikut menentukan bagaimana tempat itu kelak diperlakukan. Karena itu, dia ingin mengajak orang datang sebagai pejalan yang mau memahami, bukan sekadar melihat.

"Sekarang ini, sebuah tempat bisa viral dalam hitungan hari, dan itu tidak selalu kabar baik bagi tempat tersebut. Kekaguman itu awal yang baik, tapi tidak cukup. Yang kami harapkan, orang mengenal Sorong Selatan sebagai rumah bagi masyarakatnya, bukan hanya sebagai pemandangan yang indah," kata Didi.

Semangat tersebut turut diwujudkan melalui pameran foto yang berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Hutan Kota by Plataran, sebagai upaya membawa cerita Sorong Selatan lebih dekat kepada audiens yang lebih luas di Jakarta dan Indonesia.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.