Akurat Logo

Gagas Kurikulum Peradaban, Rocky Gerung Ingin Polwan Jadi Negosiator Publik

Moehamad Dheny Permana | 16 September 2026, 20:10 WIB
Gagas Kurikulum Peradaban, Rocky Gerung Ingin Polwan Jadi Negosiator Publik
Pendiri Tumbuh Institute, Rocky Gerung.

AKURAT.CO Pendiri Tumbuh Institute, Rocky Gerung, mendorong pengembangan pendidikan Polisi Wanita (Polwan) agar tidak hanya berorientasi pada kemampuan penegakan hukum, tetapi juga memperkuat kompetensi negosiasi, pemahaman sosial dan budaya, perlindungan manusia, hingga kepedulian terhadap lingkungan.

Gagasan tersebut dirangkum dalam konsep "kurikulum peradaban" untuk menjawab kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat.

"Kurikulum Polwan haruslah menjadi kurikulum peradaban, justru ketika 'ibu bumi' disengsarakan oleh keserakahan kita," kata Rocky, Rabu (16/9/2026).

Rocky menilai, tantangan yang dihadapi kepolisian semakin luas.

Polisi tidak hanya berhadapan dengan kriminalitas, tetapi juga konflik sosial, tekanan ekonomi, persoalan lingkungan, ketegangan politik, serta berbagai bentuk kerentanan masyarakat.

Karena itu, pendidikan Polwan dinilai perlu berkembang mengikuti perubahan persoalan sosial.

Kompetensi kepolisian tidak cukup hanya dibangun melalui kemampuan menggunakan kewenangan, tetapi juga perlu mencakup pemahaman terhadap manusia dan kondisi yang melatarbelakangi munculnya konflik.

Rocky menempatkan Polwan sebagai perempuan yang menjalankan profesi kepolisian dengan fungsi perlindungan dan kepedulian terhadap masyarakat.

"Polwan adalah perempuan yang berprofesi sebagai negosiator publik, justru karena watak 'ethics of care' itu," ujar Rocky yang juga pengamat politik.

Menurut Rocky, kemampuan negosiasi penting karena ketertiban tidak selalu harus dibangun melalui pendekatan kekuasaan.

Polisi juga perlu memahami psikologi masyarakat, menghormati budaya setempat, serta membaca persoalan sosial yang menjadi sumber ketegangan.

Rocky mencontohkan demonstrasi sebagai salah satu situasi yang membutuhkan kemampuan tersebut.

Demonstran, kata dia, tidak semata-mata ditempatkan sebagai pihak yang mengganggu ketertiban, tetapi juga sebagai warga yang membawa tuntutan.

"Pendemo harus diperlakukan sebagai 'pencari keadilan'. Ketertiban harus berasal dari keahlian negosiasi," tutur Rocky.

Dalam kerangka pendidikan Polwan, kemampuan membaca situasi sosial menjadi penting karena konflik dapat dipicu berbagai persoalan.

Baca Juga: Cara Mengetahui Perkembangan Performa Lari

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.