Indonesia Harus Perkuat Diplomasi, Waspadai Dampak Konflik AS-Iran-Israel terhadap Perekonomian Global

AKURAT.CO Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Iran, dan Israel berpotensi terus meluas hingga menyeret negara-negara lain.
Menurut Wakil Ketua Komisi I DPR, Dave Laksono, kondisi tersebut bukan hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, namun juga dapat berdampak pada keamanan dan perekonomian global.
"Konflik antara AS, Iran, dan Israel tidak kunjung reda, bahkan eskalasinya terus meningkat. Ini menjadi keprihatinan yang luar biasa karena berpotensi meluas secara regional bahkan global," ujarnya, dalam forum Dialektika Demokrasi bertema "AS-Iran Kembali Memanas, Seberapa Besar Ancamannya bagi Stabilitas Dunia?" di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (23/7/2026).
Dave mengatakan, Indonesia sebagai negara yang menganut politik luar negeri bebas aktif dan memiliki posisi nonblok harus terus mendorong seluruh pihak menahan diri.
Siklus serangan dan aksi balasan harus segera dihentikan melalui jalur diplomasi.
Baca Juga: Iran Tegaskan Diplomasi Tidak akan Mengorbankan Kepentingan di Selat Hormuz
Penyelesaian konflik hanya dapat dicapai melalui dialog yang terbuka dengan tetap menghormati hukum internasional.
Ia menilai penggunaan kekuatan militer hanya akan memperpanjang konflik tanpa memberikan solusi yang berkelanjutan.
"Penyelesaian yang paling tepat adalah menggunakan forum diplomasi, membuka ruang dialog, serta menghormati hukum internasional. Diplomasi tetap menjadi pilihan yang paling realistis untuk menciptakan perdamaian," jelas Dave.
Selain mendorong upaya perdamaian, Dave mengingatkan pemerintah agar menjalankan kewajiban konstitusional dalam memberikan perlindungan kepada WNI yang berada di kawasan konflik. Pemerintah juga diminta menyiapkan langkah evakuasi apabila kondisi keamanan semakin memburuk.
Pasalnya, konflik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga energi dunia. Lonjakan harga minyak dan gas diperkirakan akan meningkatkan biaya transportasi, mengganggu rantai pasok global (global supply chain), hingga menekan daya beli masyarakat.
Baca Juga: Trump Desak Netanyahu Tarik Pasukan Israel dari Suriah dan Lebanon, Upaya Redam Konflik Timur Tengah
"Kenaikan harga energi akan berdampak terhadap perdagangan, biaya logistik, dan perekonomian. Jika kondisi ini terus berlangsung, ketidakpastian global dapat memperlambat perdagangan, investasi, dan pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Kawasan Timur Tengah selama ini menjadi wilayah yang sangat sensitif karena memiliki posisi strategis sebagai pusat produksi sekaligus jalur distribusi energi dunia. Selain itu, kawasan tersebut juga menjadi titik temu berbagai kepentingan politik, keamanan, ekonomi, dan ideologi dari kekuatan-kekuatan besar dunia.
Menurut Dave, meningkatnya ketegangan juga dapat memperkuat aliansi pertahanan antarnegara serta mengalihkan perhatian dunia dari berbagai krisis internasional lainnya.
Karena itu, Indonesia dinilai harus tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif dengan menentukan sikap berdasarkan kepentingan nasional, penghormatan terhadap hukum internasional, dan komitmen terhadap perdamaian dunia.
"Indonesia tidak perlu berpihak kepada kelompok tertentu, namun juga tidak boleh pasif. Kita harus aktif mendorong penyelesaian konflik melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), gerakan nonblok, maupun hubungan bilateral dengan negara-negara yang terlibat," ujarnya.
Baca Juga: Iran Klaim Serang Target Militer AS Usai Pemakaman Khamenei, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas
Dave optimistis Indonesia masih memiliki ruang untuk berkontribusi dalam mendorong penyelesaian konflik melalui diplomasi dan mediasi yang dipercaya seluruh pihak.
Menurutnya, gencatan senjata hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak memiliki kemauan politik untuk membuka dialog dan menerima mediator yang netral.
"Diplomasi harus terus dikedepankan. Selama ada kemauan politik dari semua pihak dan tersedia mediator yang dipercaya, peluang untuk mewujudkan gencatan senjata dan perdamaian tetap terbuka," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Soal Gugatan Syarat Pendidikan Gibran ke MK, Margarito Kamis: Saya Tak Mengerti Kenapa Disidangkan
- 3Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 4Trump Siapkan Tambahan 10.000 Pasukan AS ke Timur Tengah, Senator Desak Kongres Hentikan Dana Perang Iran
- 5Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 6Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 7Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 8Dokumen Pendidikan Gibran Dilaporkan ke Bareskrim, Keaslian Syarat Cawapres 2024 Jadi Sorotan
- 9Rocky Gerung Minta Buruh Kawal RUU Pelindungan Ketenagakerjaan, Jangan Mundur jika Berhadapan Kekuasaan
- 10Hanya Kompromi Politik, Fahri Hamzah Tantang DPR Tetapkan Ambang Batas Parlemen Nol atau 20 Persen









