CKG Sekolah Layani 8,82 Juta Siswa Sejak Awal 2026, Tersebar di 511 Kabupaten/Kota

AKURAT.CO Pemerintah mencatat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Sekolah telah menjangkau 8,82 juta siswa di seluruh Indonesia sejak awal tahun 2026.
Capaian ini terbilang signifikan, mengingat program tersebut berjalan belum genap satu tahun sejak diluncurkan pada 4 Agustus 2025.
Deputi Bidang Kemitraan dan Hubungan Media, Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Kurnia Ramadhana, menjelaskan bahwa CKG Sekolah dilaksanakan serentak di satuan pendidikan, mulai tingkat SD, SMP, SMA, Sekolah Luar Biasa (SLB), hingga pondok pesantren bagi anak usia 7-17 tahun.
"Sejak 1 Januari hingga 14 Juli 2026, CKG Sekolah sudah melayani 8.824.185 siswa di 96.567 sekolah yang tersebar di 511 kabupaten/kota," ujar Kurnia, dalam keterangannya, Kamis (23/7/2026).
Pemeriksaan dalam Program CKG Sekolah tidak hanya mencakup kesehatan fisik tetapi juga kondisi kejiwaan anak, sebagai bagian dari upaya deteksi dini masalah kesehatan peserta didik.
Baca Juga: Menkes Lapor Progres Program CKG hingga Pembangunan RS di Papua ke Prabowo
Pelaksanaannya dilakukan langsung di lokasi sekolah masing-masing, mengikuti jadwal kunjungan puskesmas setempat.
"Beberapa jenis pemeriksaan yang dilakukan pada anak yaitu tingkat aktivitas fisik, anemia pada remaja putri, pemeriksaan mata, telinga, gigi, hingga kejiwaan," kata Kurnia.
Sepanjang 2026, pemerintah menargetkan program ini menjangkau 50.255.073 peserta didik di 303.263 sekolah, dengan rincian 184.714 SD, 68.109 SMP, 43.032 SMA, 4.048 pondok pesantren, dan 3.360 SLB.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, hasil pemeriksaan CKG Sekolah sepanjang 1 Januari hingga 14 Juli 2026 menunjukkan masih tingginya sejumlah masalah kesehatan pada peserta didik.
Temuan terbanyak adalah karies atau gigi berlubang yang dialami 40,8 persen siswa, disusul anemia pada 27,3 persen remaja putri, dan tekanan darah tinggi atau hipertensi pada 21,7 persen siswa.
Selain itu, pemeriksaan juga menemukan 6,9 persen siswa mengalami serumen impaksi atau penumpukan kotoran telinga, serta 6,7 persen lainnya mengalami obesitas.
Kurnia mengatakan, temuan-temuan tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat upaya promotif (peningkatan kesehatan) dan preventif (pencegahan) di lingkungan sekolah.
"Program ini bermanfaat besar bagi siswa, orang tua, serta sekolah sebagai penyelenggara pendidikan," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Tiba di Jakarta, Ryan Giggs Terkesan 'Kehebohan' Penggemar Sejak di Bandara
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan






