Media Masih Salah Kaprah Membingkai Isu CSR, Agenda Transformasi Bukan Sekadar Alat Pemanis

AKURAT.CO Program Corporate Social Responsibility (CSR) masih kerap dipahami secara keliru oleh media massa dan jurnalis.
CSR sering diposisikan sebagai aktivitas sepihak perusahaan atau sekadar instrumen pencitraan, padahal esensinya jauh lebih luas dan berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Dosen Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, Fransiskus Surdiasis, saat membawakan materi bertajuk Reporting CSR: Setting Agenda for Change dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR yang diselenggarakan Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan bersama PT Tower Bersama Infrastructure (TBIG).
Menurut Frans, peliputan CSR seharusnya tidak berhenti pada publikasi kegiatan perusahaan, melainkan menjadi sarana untuk mendorong perubahan sosial yang nyata.
“Esensi pokok dari setiap liputan CSR adalah merancang agenda untuk perubahan,” ujar Frans dalam diskusi virtual yang digelar secara daring, dikutip Minggu (14/6/2026).
Frans menilai CSR merupakan bagian penting dari praktik bisnis modern yang bertanggung jawab.
Namun, ia melihat masih banyak media yang memandang isu tersebut hanya sebagai urusan perusahaan, bukan sebagai isu publik yang berdampak langsung pada masyarakat.
“Sering kali media masih memperlakukan CSR sebagai urusan perusahaan, bukan urusan masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti anggapan bahwa CSR hanyalah bentuk kedermawanan atau pembagian bantuan dari perusahaan kepada masyarakat. Menurutnya, pemahaman tersebut tidak sepenuhnya tepat.
“Masih banyak yang menganggap CSR sebagai bentuk kebaikan perusahaan kepada masyarakat. Padahal secara historis, CSR lahir dari kesadaran etis bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab untuk turut mendorong masyarakat berkembang ke arah yang lebih baik,” jelasnya.
Karena itu, Frans mendorong media untuk mengubah pendekatan dalam meliput program CSR.
Pelaporan tidak cukup hanya memuat kegiatan seremonial, tetapi harus ditempatkan dalam konteks persoalan dan kebutuhan masyarakat yang ingin diselesaikan.
“Ada kebutuhan untuk melaporkan CSR secara lebih bermakna dengan menempatkannya dalam konteks kebutuhan dan persoalan masyarakat,” ujarnya.
Melalui program fellowship tersebut, Frans berharap para jurnalis dapat membangun paradigma baru dalam mengawal isu CSR sehingga menghasilkan pemberitaan yang lebih berdampak bagi publik.
Mantan Kepala Litbang The Jakarta Post itu menegaskan, baik media maupun perusahaan pada dasarnya memiliki pijakan yang sama, yakni melayani kepentingan masyarakat.
“CSR dan jurnalisme bekerja di atas platform yang sama, yaitu masyarakat. Keduanya berangkat dari titik pijak yang sama, yakni kepentingan publik,” pungkasnya.
Baca Juga: Penasaran Lihat Maggot, Booth MINERALive MIND ID Jadi Inspirasi Ekonomi Sirkular di INVIROTECH 2026
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









