Hasto: Pertahanan Nasional Juga Menyangkut IPTEK, Bukan Sekedar Ekspansi Batalyon

AKURAT.CO Sekretaris Jenderal PDIP, Hasto Kristiyanto, mengkritisi kebijakan pembentukan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) yang menjadi salah satu program pertahanan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) serta diplomasi internasional lebih penting dalam memperkuat kepentingan nasional Indonesia.
Dalam kuliah umum bertajuk Pemikiran Geopolitik Bung Karno di Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta, Kamis (11/6/2026), Hasto, mengatakan, pemikiran geopolitik Presiden pertama RI Soekarno menempatkan penguasaan teknologi, diplomasi, dan hukum internasional sebagai instrumen utama dalam memperjuangkan kepentingan nasional.
"Berbicara tentang pemikiran Bung Karno harus disertai semangat menguasai iptek dengan cara apa pun dan mengembangkan kompetensi dalam diplomasi serta penguasaan hukum untuk memperjuangkan kepentingan nasional Indonesia," kata Hasto.
Menurut dia, dalam teori geopolitik Soekarno, faktor teknologi dan politik memiliki posisi yang lebih dominan dibanding aspek militer.
Karena itu, pembangunan pertahanan tidak semestinya hanya diukur dari penambahan jumlah satuan atau batalyon baru.
"Kalau pertahanan negara sekarang kita membentuk batalyon-batalyon pembangunan, faktor militer dalam teori geopolitik Soekarno justru berada pada posisi paling kecil," ujarnya.
Hasto menegaskan Indonesia perlu memperkuat kapasitas diplomasi dan penguasaan teknologi untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Ia menilai TNI memiliki peran strategis dalam pengembangan teknologi pertahanan dan diplomasi militer.
Baca Juga: Kasus Korupsi MBG Bukti Tata Kelola 'Cacat dari Lahir'
"Kita lebih penting memperkuat diplomasi internasional dan menguasai iptek daripada membangun batalyon-batalyon pembangunan. Fungsi TNI AD sangat penting dalam penguasaan teknologi pertahanan, diplomasi militer, memahami teritorial lawan, bukan untuk menanam jagung dan padi," tegasnya.
Menurut Hasto, pandangan tersebut merupakan bentuk otokritik terhadap arah kebijakan pertahanan yang dinilai terlalu berorientasi pada pendekatan teritorial di dalam negeri.
Ia juga mengingatkan bahwa dalam konsepsi Soekarno, pertahanan negara dibangun melalui penguatan riset, teknologi, dan kemampuan membaca potensi ancaman dari luar negeri, bukan dengan memandang rakyat sebagai ancaman.
"Padahal dalam konsepsi Bung Karno, TNI Angkatan Darat bertugas menguasai riset, teknologi pertahanan, dan melihat potensi ancaman dari negara lain, bukan ke dalam dengan menganggap rakyat sebagai ancaman," katanya.
Lebih lanjut, Hasto menekankan pentingnya membangun kepemimpinan Indonesia di tingkat global sebagaimana dicita-citakan Soekarno.
Menurutnya, orientasi pembangunan yang terlalu berfokus ke dalam berpotensi menimbulkan persoalan baru.
"Spirit mewujudkan kepemimpinan Indonesia bagi dunia inilah yang harus terus dijalankan. Jika terlalu inward looking, tanpa tekad membangun kepemimpinan Indonesia bagi dunia, justru berpotensi melahirkan konflik," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat










