Inovasi Detect Me Bantu Ibu Hamil di Desa Terpencil Pantau Perkembangan Janin di Rumah

AKURAT.CO Angka kematian ibu di Indonesia masih menjadi luka lama yang belum sembuh. Dengan 140 kematian per 100 ribu kelahiran hidup, Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka kematian ibu tertinggi di Asia Tenggara.
Di balik angka itu, ada wajah-wajah ibu hamil di desa-desa terpencil yang tak punya akses cukup ke tenaga kesehatan, menunggu giliran di puskesmas yang kewalahan, atau berjalan jauh hanya untuk diperiksa sebentar.
Namun, sebuah inovasi dari kolaborasi Indonesia-Australia mencoba mengubah narasi itu. Detect Me adalah perangkat pemantauan janin mandiri, sebuah alat yang bisa digunakan ibu hamil sendiri di rumah, tanpa harus menunggu jadwal kunjungan bidan.
Baca Juga: Besaran Bansos PKH April 2026 untuk Ibu Hamil dan Lansia, Cair Hingga Rp750 Ribu
Data yang direkam alat ini langsung tersinkronisasi ke aplikasi mobile, lalu diteruskan ke platform web yang bisa dipantau secara real-time oleh tenaga kesehatan di puskesmas maupun bidan desa.
Jika terdeteksi anomali, intervensi medis dapat segera dilakukan, memperkecil risiko keterlambatan yang selama ini menjadi penyebab utama tingginya angka kematian ibu dan bayi.
Detect Me lahir dari proyek riset bernama ULTRALIGHT. Proyek ini melibatkan tujuh institusi dari Indonesia dan Australia, mulai dari Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, hingga University of Newcastle Australia.
Lokasi penelitiannya pun sengaja dipilih di titik-titik paling rentan: Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan komunitas imigran pengungsi di Australia.
Associate Professor di Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Restuning Widiasih, yang juga peneliti utama proyek ini, berbicara jujur soal tantangan yang dihadapi dalam penggunaan Detect Me.
Baca Juga: 10 Makanan yang Tidak Boleh Dikonsumsi Ibu Hamil dan Alasannya
"Ada culture ibu hamil yang terbiasa dilayani, tinggal tidur saja menunggu nakes datang. Sekarang mereka diminta memakai alat sendiri di rumah. Itu saja sudah bikin sebagian dari mereka takut," kata Restuning saat menjadi pembicara di event Inovasi, Data, Ekonomi (IDE) Katadata Future Forum 2026, yang digelar di Djakarta Theatre, Jakarta, dikutip Kamis (16/4/2026).
Dia mengatakan, selama ini sistem kesehatan menempatkan ibu hamil sebagai penerima layanan pasif; mengubah posisi itu butuh pendekatan yang jauh lebih dari sekadar membagikan alat.
Di sisi lain, ada temuan menarik: ketika alat Detect Me dititipkan ke keluarga, para suami — yang biasanya kurang terlibat dalam urusan kehamilan — tiba-tiba ikut aktif. Mereka membantu istri mengoperasikan alat, memperhatikan data, bahkan mulai bertanya-tanya soal kondisi janin.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 4Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 5Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 6Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 7Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK







