Kiai Said: Ketika Elite PBNU Sibuk Urusan Tambang, Maka Fokus Organisasi Bergeser

AKURAT.CO Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj menilai pemberian izin pengelolaan tambang kepada NU justru menggerus orientasi dasar organisasi.
Ia menyebut perhatian elite PBNU berpotensi tersedot pada urusan bisnis sehingga nilai-nilai keagamaan dan sosial yang menjadi fondasi NU bisa terpinggirkan.
Dalam siniar Madilog Forum Keadilan yang tayang di YouTube pada Rabu (10/12/2025), Said mengaku awalnya menyambut positif kebijakan Presiden Joko Widodo yang memberi akses pengelolaan tambang melalui PP Nomor 25 Tahun 2024. Namun, setelah mencermati implikasinya, ia menilai keputusan tersebut lebih banyak mudaratnya.
“Setelah melihat, dengan betul-betul saya merenung dengan objektif, saya menyimpulkan mudaratnya lebih besar,” ujarnya.
Said menyebut salah satu dampak langsungnya adalah gesekan di internal PBNU. Ia menyinggung ketegangan yang muncul antara Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf dan Sekjen PBNU Saifullah Yusuf. Menurutnya, perbedaan pandangan terkait arah konsesi tambang memicu dinamika yang tidak sehat.
Baca Juga: Mantan Ketum PBNU Said Aqil Siroj: Izin Tambang dari Jokowi untuk NU adalah Kutukan
Lebih jauh, Said mengaitkan persoalan tambang dengan bergesernya fokus NU. Ia memperingatkan bahwa jika tambang benar-benar menjadi proyek strategis NU, kepemimpinan organisasi dapat teralihkan dari tujuan awal didirikannya.
“Nanti kalau sudah ada tambang, dan komisaris utamanya itu Rais Aam, dirutnya itu ketua umum, nanti 90 persen pikirannya ke sana semua. Agama, persaudaraan, budaya, sosial, hilang semua nanti,” katanya.
Ia juga menyebut pengalaman beberapa negara sebagai contoh betapa bisnis tambang kerap menimbulkan konflik. “Kalau kita lihat, di negara Bolivia, Venezuela, Nigeria, yang tadinya bersatu, kompak, perang saudara gara-gara tambang,” jelasnya.
Said menambahkan bahwa pemberian izin tambang ini bisa dibaca dalam dua sisi. “Secara positive thinking, barangkali itu merupakan tanda penghargaan negara kepada ormas yang berjuang sebelum kemerdekaan Indonesia.
Tapi secara negative thinking, bisa dikatakan jebakan,” ujarnya. Menurutnya, “jebakan” ini dapat membuat ormas lumpuh secara politik karena tidak lagi leluasa memberi kritik kepada pemerintah.
Ia menegaskan bahwa pendiri NU tidak pernah menjadikan bisnis sebagai orientasi organisasi. NU, kata Said, memang membutuhkan dana, tetapi tidak dengan mengorbankan jati dirinya.
Ia juga menyoroti perubahan sikap publik pasca munculnya isu tambang. Menurutnya, warganet kini lebih nyinyir dan bahkan meremehkan posisi NU sebagai ormas keagamaan.
Baca Juga: KH Nurul Huda Djazuli Minta PBNU Dikembalikan ke KH Said Aqil Siroj: Beliau Memiliki Kapasitas
Said menutup kritiknya dengan menyebut konsesi tambang itu telah berubah menjadi beban moral bagi NU.
“Saya dulu kerap mengkritik Jokowi, salah satunya tentang Omnibus Law,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa ormas harus tetap menjaga independensi dan daya kritisnya terhadap negara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang








