DPD RI Dukung Kajian Pembatasan Game Online: Kebebasan Harus Ada Batasnya

AKURAT.CO Pemerintah tengah mengkaji kebijakan pembatasan game online di Indonesia karena dinilai memiliki dampak negatif yang dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan moral generasi muda.
Menanggapi hal tersebut, Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Bachtiar Najamudin meyakini, Presiden Prabowo Subianto memiliki pertimbangan matang dalam mengantisipasi dampak buruk dari maraknya game online.
“Ya, pasti beliau punya pertimbangan. Itu kan sisi atau dampak buruk, sisi negatif dari game online,” ujar Sultan saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (10/11/2025).
Menurutnya, bermain game online merupakan bagian dari kebebasan masyarakat dalam sistem demokrasi.
Namun, kebebasan itu tetap harus memiliki batas agar tidak menimbulkan dampak merusak, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
“Demokrasi itu memang masyarakat bebas. Tapi bukan berarti bebas tanpa batas. Sesuatu yang tidak dibatasi justru bisa merusak,” tegasnya.
Baca Juga: Aktivis Konservatif: Penjaga Nilai Tradisi di Tengah Arus Perubahan Sosial
Sultan berharap kajian pemerintah terhadap pembatasan game online dapat menghasilkan kebijakan yang menjadi solusi terbaik bagi masyarakat.
“Nanti kita lihat bagaimana reaksi publik dan seperti apa hasil kajiannya,” tambahnya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan kajian mendalam terkait pembatasan game online di Indonesia.
Langkah ini diambil untuk menekan dampak negatif permainan digital terhadap anak-anak yang dinilai dapat memengaruhi perilaku dan perkembangan moral generasi bangsa.
“Kita perlu memikirkan langkah konkret untuk membatasi dan mencari solusi atas pengaruh buruk dari game online terhadap anak-anak,” ungkap Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi seusai mendampingi Presiden di kediaman Jalan Kertanegara 4, Jakarta Selatan, Minggu malam (9/11/2025).
Prasetyo menilai, sebagian konten dalam game online mengandung unsur kekerasan yang berpotensi membentuk karakter agresif pada anak.
Ia mencontohkan permainan populer seperti Player Unknown’s Battlegrounds (PUBG) yang menampilkan adegan penggunaan senjata api dan pertempuran.
Baca Juga: Kemenko Polkam Perkuat Kerja Sama Regional Tangani TPPO di Asia Tenggara
“Game seperti PUBG menampilkan aksi bersenjata dan pertempuran yang bisa dengan mudah ditiru anak-anak. Kalau hal seperti ini dianggap wajar, tentu berbahaya secara psikologis,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









