Pemerintah Dorong Pola Hidup Rendah Emisi Lewat Transportasi Publik

AKURAT.CO Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri), Bima Arya Sugiarto, menekankan pentingnya perubahan pola hidup dalam konteks krisis iklim global.
Ia mengingatkan bahwa istilah global warming kini bergeser menjadi global boiling atau “pendidihan global,” sebagaimana disampaikan Sekretaris Jenderal PBB.
Bima mendorong masyarakat membangun pola hidup rendah emisi sebagai upaya menanggulangi polusi dan pemanasan global.
Berdasarkan datanya, sektor industri pengolahan masih menjadi penyumbang emisi karbon terbesar, diikuti sektor pengadaan listrik dan gas, serta pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Sektor transportasi menempati urutan keempat, namun karena berkaitan langsung dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah.
Menurut Bima, transportasi yang nyaman, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan terjangkau tidak hanya mengurangi emisi karbon, tetapi juga berpengaruh terhadap kesejahteraan masyarakat.
Baca Juga: Irma Chaniago Kritik BGN: SDM Program MBG Banyak Tak Sesuai Keahlian
“Berdasarkan data BPS 2018, pengeluaran masyarakat untuk transportasi mencapai 12,46 persen dari total biaya hidup, melebihi rekomendasi Bank Dunia yang maksimal 10 persen. Transportasi publik yang ramah lingkungan itu sebetulnya juga untuk kesejahteraan,” jelasnya.
Ia membagikan pengalamannya semasa menjabat Wali Kota Bogor, ketika menginisiasi kebijakan sehari tanpa kendaraan bermotor dan kampanye bersepeda.
Menurutnya, perubahan kebiasaan publik memerlukan kerja sama pemerintah dan masyarakat serta harus dibangun secara sistemik.
“Saya berharap kalian menjadi aktor-aktor yang mengkampanyekan penggunaan transportasi publik,” ujarnya.
Bima juga menekankan pentingnya transformasi transportasi melalui integrasi aktor (pengguna), struktur (sistem), dan kultur (budaya).
Infrastruktur menjadi kunci membangun budaya baru, seperti kebiasaan berjalan kaki atau menggunakan transportasi umum.
“Saya percaya membangun kultur itu dengan cara membangun infrastruktur. Infrastruktur dibangun, maka kultur akan terbentuk,” ujarnya.
Sebagai contoh, Bima memaparkan transformasi angkot di Bogor melalui pendekatan kelembagaan: mengorganisir pemilik angkot menjadi badan hukum, mengatur standar layanan, dan merancang sistem operasional yang lebih dapat diprediksi.
Baca Juga: Minim SPPG Higienis, PDIP Usul Dapur MBG Langsung di Sekolah
Dari proses ini lahir cikal bakal layanan terintegrasi, Trans Pakuan, yang menjadi “Trans Jakarta-nya Bogor.”
Wamendagri juga menyoroti manfaat sosial dan ekonomi dari transportasi publik yang baik.
Selain mengurangi emisi karbon, transportasi publik memperluas jaringan sosial, meningkatkan empati, dan membuka peluang pertemuan antarwarga.
“Kita bukan hanya menambah sensibilitas dan empati, tapi juga membangun networking, jaringan, dan lain-lain,” tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T







