Sampai Kapan Hujan Saat Kemarau? Ini Prediksi BMKG
Eko Krisyanto | 7 Agustus 2025, 16:48 WIB

AKURAT.CO Fenomena hujan yang terjadi di tengah musim kemarau belakangan ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan masyarakat seperti mengapa bisa turun hujan saat seharusnya musim kering.
Tidak hanya satu atau dua wilayah, hujan mengguyur berbagai daerah di Indonesia yang seharusnya sedang berada dalam periode puncak kemarau. Hal ini membuat banyak pihak penasaran hingga menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait potensi bencana alam seperti longsor dan banjir bandang.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi ini disebabkan oleh adanya gangguan atmosfer skala global, seperti fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, hingga fenomena monsun Asia yang masih aktif. Suhu muka laut di sekitar wilayah Indonesia juga cenderung lebih hangat dari biasanya, sehingga memicu pembentukan awan hujan.
Wilayah yang terdampak hujan saat kemarau ini mencakup sebagian besar Pulau Jawa, Sumatera bagian barat, Kalimantan, hingga Papua bagian utara.
Dilansir dari situs BMKG, Kepala BMKG menjelaskan bahwa hujan di musim kemarau ini masih akan terjadi dalam beberapa minggu ke depan. Dia mengatakan, “fenomena cuaca saat ini bukanlah hal yang sangat luar biasa, namun perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan dampak terhadap sektor pertanian, transportasi, dan potensi bencana hidrometeorologi.”
BMKG memprediksi bahwa pola hujan seperti ini akan terus berlanjut hingga akhir Agustus 2025 sebelum memasuki fase peralihan menuju musim hujan yang sesungguhnya.
Kondisi ini tentu memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian, transportasi, hingga kegiatan harian masyarakat. Petani, misalnya, harus menyesuaikan jadwal tanam mereka agar tidak terdampak hujan yang turun tiba-tiba. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir lokal dan genangan air, khususnya di daerah-daerah yang rawan.
BMKG memperkirakan bahwa intensitas hujan akan mulai berkurang pada awal September 2025, seiring dengan melemahnya aktivitas gelombang atmosfer dan berakhirnya dampak La Nina.
Masyarakat pun diharapkan tetap mengikuti informasi prakiraan cuaca terbaru dari kanal resmi BMKG agar bisa mengantisipasi cuaca ekstrem yang mungkin masih terjadi dalam beberapa pekan ke depan.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim telah membawa dampak nyata pada pola cuaca di Indonesia. Musim yang tidak lagi berjalan seperti biasanya menuntut semua pihak untuk lebih adaptif dan responsif terhadap informasi cuaca dan iklim.
Pemerintah daerah dan sektor terkait juga diimbau untuk memperkuat sistem peringatan dini dan koordinasi penanganan bencana hidrometeorologi yang kini bisa terjadi kapan saja.
Salsabilla Nur Wahdah (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 4Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 5Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 6Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 7Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 8Cek Bansos Tahap 4 Oktober-Desember 2026, Begini Cara Cek Desil dan Status Penerima Pakai NIK
- 9KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji
- 10Terima Jemaat GKPI Rajeg, Wapres Gibran Tekankan Kerukunan dan Kebebasan Beribadah







