Candi Cangkuang: Jejak Sunyi Hindu di Tanah Sunda

AKURAT.CO Di tengah rimbunnya alam Priangan Timur, berdiri sebuah candi kecil yang menyimpan jejak spiritual masa lalu. Candi Cangkuang, satu-satunya candi Hindu yang pernah ditemukan di Jawa Barat, tampak tenang, seolah menjadi penjaga sunyi kisah peradaban kuno di tanah Sunda.
Terletak di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, candi ini menjadi saksi bisu tentang kuatnya akar budaya dan spiritualitas masyarakat sebelum Islam menyebar luas di wilayah Parahyangan.
Untuk mencapai kompleks candi, pengunjung harus menyeberangi danau kecil bernama Situ Cangkuang menggunakan rakit bambu.
Perjalanan ini hanya beberapa menit, namun cukup untuk mengendapkan rasa, dikelilingi air tenang dan bayangan pegunungan yang melingkupi dari kejauhan.
Nuansa mistis dan damai menyatu dalam perjalanan singkat itu, sebelum tiba di kompleks candi yang mungil namun penuh makna.
Nama "Cangkuang" sendiri diambil dari tumbuhan lokal Pandanus furcatus, sejenis pandan berduri yang banyak tumbuh di daerah itu.
Keberadaan pohon ini menegaskan keterhubungan erat antara alam, tradisi, dan identitas lokal masyarakat setempat.
Candi Cangkuang ditemukan pada tahun 1966 oleh dua peneliti dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional, Harsoyo dan Uka Tjandrasasmita.
Baca Juga: Link Live Score Laga Indonesia vs Vietnam di Final Piala AFF 2025 Malam Ini, Klik di Sini!
Mereka menindaklanjuti catatan lama dari Vorderman, seorang peneliti Belanda yang dalam bukunya pada tahun 1893 menyebut keberadaan arca Hindu rusak dan makam kuno di bukit kecil Kampung Pulo.
Penemuan ini menjadi pintu pembuka sejarah yang sempat terkubur: bahwa wilayah Sunda yang kini identik dengan kebudayaan Islam, dulunya juga mengenal pemujaan kepada dewa-dewa Hindu, meski dalam skala yang lebih kecil dibandingkan Jawa Tengah atau Jawa Timur.
Proses pemugaran candi dimulai pada tahun 1974, diawali dengan identifikasi batu-batu asli bagian kaki candi.
Pada 1976, rekonstruksi dilanjutkan hingga ke bagian badan, atap, serta penempatan kembali patung Dewa Siwa di dalam ruang utama candi, menguatkan dugaan bahwa bangunan ini dulunya difungsikan sebagai tempat pemujaan kepada Siwa.
Namun, yang membuat Candi Cangkuang istimewa bukan hanya karena ia satu-satunya candi Hindu di Jawa Barat, melainkan karena lokasinya yang berdampingan dengan makam seorang tokoh Muslim, Embok Dalem Arif Muhammad, yang diyakini sebagai penyebar Islam pada abad ke-17.
Dua warisan keagamaan itu, candi dan makam, hidup berdampingan dalam satu ruang yang sama, membentuk harmoni yang nyaris langka di banyak tempat lain.
“Kita di sini bisa melihat langsung makna bhinneka tunggal ika. Toleransi antara budaya Hindu dan Islam sudah lama tumbuh dan dijaga oleh masyarakat,” ujar Kang Jaki, tokoh adat Kampung Pulo, saat ditemui di kompleks candi, Selasa (29/7/2025).
Baca Juga: BGN Akan Rekrut Masyarakat Miskin dan Miskin Ekstrem untuk Kerja di Dapur MBG
Kini, Candi Cangkuang tak hanya berperan sebagai situs arkeologi, tetapi juga sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah.
Ribuan wisatawan datang setiap tahun, dari yang ingin menyelami masa lalu, hingga yang mencari ketenangan di tengah adat yang masih lestari.
Kampung Pulo yang berada tak jauh dari candi, tetap menjaga tradisi leluhur.
Enam rumah panggung berjajar rapi, dihuni oleh keturunan langsung tokoh penyebar Islam, dengan tata hidup yang mempertahankan nilai adat, seperti larangan membangun rumah baru atau menikah dengan orang luar kampung.
Candi Cangkuang mungkin tidak megah seperti Prambanan, tidak sepopuler Borobudur.
Tapi justru dalam kesederhanaannya, ia menghadirkan makna yang dalam: bahwa sejarah, keyakinan, dan perbedaan bisa hidup berdampingan, sunyi, damai, dan bermartabat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 7Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








