Efisiensi Anggaran Sektor Pendidikan Dikhawatirkan Hambat Bonus Demografi

AKURAT.CO Efisiensi anggaran pendidikan, dikhawatirkan dapat mengganggu Indonesia dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk menghadapi bonus demografi, menuju Indonesia emas 2045.
Sebab, banyak permasalahan yang dapat terjadi. Selain kualitas riset yang semakin stagnan, juga uang kuliah tunggal (UKT) naik, maka potensi mahasiswa putus kuliah akan tinggi. Akibatnya, potensi angka pengangguran akan semakin tinggi.
"Kualitas pendidikan kita kan tidak baik-baik saja. Kualitas riset kita masih stagnan, lalu misalnya benar terjadi UKT naik, maka potensi mahasiswa putus kuliah itu tinggi dan kemudian kalau mereka putus kuliah artinya potensi pengangguran tinggi. Dan itu dampaknya bukan hanya kepada kualitas sumber daya manusia, tetapi juga kepada ekonomi bangsa ini," kata Pengamat Pendidikan UIN Jakarta, Jejen Musfah, kepada Akurat.co, Kamis (13/2/2025).
Baca Juga: Kemenhan Alami Efisiensi Anggaran Rp26,9 Triliun, Program Prioritas Tetap Berjalan
Menurutnya, pendidikan menjadi salah satu pilar utama mewujudkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan bangsa, dan terhindar dari kemiskinan. Dalam hal ini pendidikan juga menentukan kualitas ekonomi, kualitas politik, sosial dan budaya.
Untuk itu, dia berharap kepada pemerintah agar dapat meninjau ulang kebijakan efisiensi dana pendidikan. Sebab, dengan dana existing yang sudah baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) belum mampu untuk mengcover dana operasional.
"Bukan saja yang calon mahasiswa baru yang tidak akan sanggup bisa membayar UKT, tetapi juga justru mahasiswa existing ini saja tidak melanjutkan. Ini kan sebuah anomali, di tengah kita mengharapkan bonus demografi," teganya.
Sebelumnya, berdasarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2025, dana untuk Pusat Unggulan Antar-Perguruan Tinggi dikurangi sebesar 50 persen. Dengan demikian, pagu awal yang semula Rp250 miliar berkurang menjadi Rp125 miliar.
Pagu anggaran Kemendiktisaintek yang dialokasikan untuk riset, yakni Rp 1,2 triliun dari total Rp 57,6 triliun. Secara keseluruhan, Kemendiktisaintek terkena pemangkasan anggaran sebesar Rp 22,5 triliun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T








