Akurat

Kualitas Pendidikan Antikekerasan Bakal Melahirkan Manusia-manusia Unggul yang Beradab

Mukodah | 3 Mei 2024, 19:12 WIB
Kualitas Pendidikan Antikekerasan Bakal Melahirkan Manusia-manusia Unggul yang Beradab

AKURAT.CO Kasus-kasus kekerasan yang terjadi di dunia pendidikan harus menjadi perhatian dan konsen bersama bagi semua pihak.

Pasalnya, pendidikan adalah salah satu faktor penting untuk membangun peradaban Indonesia.

Dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka), Muhammad Abdullah Darraz, mengatakan bahwa maju tidaknya suatu bangsa akan sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan.

Apakah proses pendidikan itu menghasilkan manusia-manusia yang beradab atau bahkan sebaliknya.

"Semua stakeholder pendidikan, baik itu pemegang kebijakan (pemerintah pusat maupun daerah), praktisi pendidikan maupun masyarakat luas harus memberikan perhatian terhadap kasus-kasus yang terjadi di dunia pendidikan seperti intoleransi, kekerasan dan juga perundungan (bullying)," jelasnya melalui keterangan kepada wartawan, Jumat (3/5/2024).

Baca Juga: Perkuat Kewaspadaan Anak Bangsa Terhadap Ancaman Intoleransi dan Radikalisme

Menurut Darraz, kasus kekerasan dan lainnya yang selama ini terjadi tidak hanya pada sekolah-sekolah umum semata, namun juga terjadi pada institusi pendidikan berbasis keagamaan seperti pondok pesantren.

"Ini harus menjadi perhatian bersama karena kasus-kasus kekerasan di pesantren telah mencoreng nama baik pesantren yang merupakan lembaga pendidikan Islam di Indonesia," tutur kader muda Muhammadiyah ini.

Darraz menyampaikan bahwa selain kekerasan, kasus-kasus intoleransi di institusi pendidikan juga banyak disebabkan oleh ulah oknum yang terlibat di dalamnya.

Hal ini karena kurangnya penguatan nilai-nilai toleransi, terutama di sekolah-sekolah yang kutur sosialnya homogen.

Ia mengungkapkan, hal semacam ini telah menjadi perhatian utama pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Melalui Pusat Kurikulum dan Pembelajaran (Puskurjar), Kemendikbud membuat program inisiasi untuk mengarusutamakan nilai-nilai toleransi dan perdamaian dalam Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) di beberapa sekolah di daerah.

Selain itu, Darraz juga menerangkan bahwa pada prinsipnya tidak terjadi disparitas antara sekolah negeri maupun swasta dalam menekankan prinsip toleransi dan moderasi beragama.

Meskipun di beberapa kasus, pemerintah kecolongan karena sekolah-sekolah tersebut dijadikan sasaran radikalisasi oleh kelompok radikal.

Baca Juga: Menghalau Intoleransi Lewat Semangat Saling Mengasihi Sesama Ciptaan Tuhan

"Sekolah-sekolah negeri pada beberapa tahun yang lalu sering dijadikan lahan penyemaian ideologi radikal karena dianggap sebagai lahan tak bertuan bagi kelompok-kelompok radikal," ujar mantan Direktur Eksekutif Maarif Institute ini.

Oleh karena itu, Darraz berharap wali murid bisa terlibat aktif dalam pengawasan terhadap kehidupan dan interaksi warga sekolah (terutama siswa).

Jangan sampai wali murid menyerahkan begitu saja kualitas dan proses pendidikan putera-puterinya kepada pihak sekolah tanpa memberikan perhatian yang memadai.

"Pengawsan terhadap penggunaan gawai/gadget juga harus dilakukan oleh wali murid, sehingga anasir negatif yang sering kali diakses oleh peserta didik dapat diminimalisir," katanya.

Darraz berharap agar proses pendidikan semakin menghasilkan kualitas manusia Indonesia yang berkemajuan, beradab dan berperikemanusiaan.

Di mana peserta didik dapat menjawab tantangan zaman yang semakin kompleks dan tidak mudah.

"Oleh karena itu, proses pendidikan kita harus dapat memberikan bekal bagi peserta didik. Bukan hanya dengan kekuatan intelektual namun juga harus dibarengi oleh kekuatan mental dan spiritual, sehingga peserta didik kita menjadi manusia yang utuh yang memiliki moralitas dan jiwa yang tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan kebangsaan di Indonesia ini," paparnya mengakhiri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK