Kurangi Sampah Untuk Ciptakan Nilai, Cara LPKR Perkuat Ekonomi Sirkuler

AKURAT.CO Di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu lingkungan dan perubahan iklim, pengelolaan limbah tidak lagi dipandang sebagai sekadar kewajiban operasional perusahaan.
Bagi banyak korporasi, limbah kini menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan yang dapat menciptakan nilai ekonomi sekaligus mengurangi dampak terhadap lingkungan.
Kesadaran inilah yang mendorong PT Lippo Karawaci Tbk. (LPKR) memperkuat berbagai inisiatif pengelolaan limbah di seluruh lini bisnisnya.
Baca Juga: LPKR Rombak Dewan Direksi dan Komisaris Lewat RUPST 2026
Melalui Agenda Keberlanjutan 2030, perusahaan menargetkan pengalihan sedikitnya 3.000 ton limbah dari tempat pembuangan akhir (TPA) setiap tahun.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya lebih luas untuk mendorong efisiensi sumber daya, meningkatkan tingkat daur ulang, dan mendukung praktik ekonomi sirkular.
Pendekatan yang diterapkan berlandaskan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle (3R).
Tidak hanya melibatkan karyawan, program ini juga mengajak penghuni kawasan, pengunjung, tenant, hingga mitra pengelolaan limbah dari sektor publik maupun swasta untuk berpartisipasi dalam pengurangan timbulan sampah.
Di sektor perhotelan, Aryaduta menjalankan berbagai langkah untuk meningkatkan sirkularitas sumber daya.
Hotel-hotel dalam jaringan tersebut menerapkan sistem pemilahan sampah yang terstandarisasi, termasuk pemisahan limbah kering, basah, dan material yang dapat didaur ulang.
Berbagai material seperti botol plastik, kardus, dan minyak jelantah dikumpulkan untuk diproses kembali.
Selain itu, penggunaan botol sabun dan sampo sekali pakai telah digantikan dengan dispenser isi ulang, sementara sistem berbasis QR code membantu mengurangi konsumsi kertas dalam operasional sehari-hari.
Upaya keberlanjutan juga menyentuh aspek sosial. Melalui kolaborasi dengan organisasi masyarakat setempat, kelebihan makanan dan minuman dari operasional hotel disalurkan kepada komunitas yang membutuhkan.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi limbah makanan, tetapi juga memperluas dampak sosial dari program keberlanjutan perusahaan.
Sementara itu, di kawasan residensial dan township, LippoLand mengembangkan berbagai inovasi berbasis pengolahan limbah organik.
Program pengomposan dijalankan di sejumlah lokasi, termasuk pemanfaatan limbah organik menjadi pupuk, budidaya maggot untuk mengolah sampah makanan, hingga penerapan teknologi biopower.
Perusahaan juga tengah menguji pemanfaatan limbah lanskap menjadi kompos guna memperluas pemanfaatan kembali material yang sebelumnya berpotensi berakhir di TPA.
Transformasi limbah menjadi sumber daya juga dikembangkan pada skala industri oleh LPKR.
Departemen Wastewater Treatment Plant (WWTP) mengeksplorasi pemanfaatan produk sampingan biodegradable sebagai pupuk organik, sekaligus mengkaji penggunaan sludge cake sebagai bahan konstruksi, termasuk untuk pembuatan blok beton.
Inisiatif ini menunjukkan bagaimana limbah dapat dipandang sebagai material bernilai yang berpotensi mendukung ekonomi sirkular.
Di sektor ritel, Lippo Malls terus meningkatkan tingkat pengalihan limbah dari TPA. Saat ini sekitar 18% dari total limbah yang dihasilkan telah berhasil didaur ulang.
Selain kertas, plastik, dan aluminium, perusahaan juga menggandeng mitra khusus untuk menangani limbah refrigeran dari sistem pendingin berskala besar yang membutuhkan pengelolaan khusus.
Kebijakan pengurangan kantong plastik sekali pakai yang telah diterapkan di Jakarta dan Bali turut diperkuat melalui kolaborasi dengan tenant di pusat-pusat perbelanjaan.
Berbagai inisiatif tersebut mencerminkan perubahan cara pandang terhadap limbah.
Jika sebelumnya sampah identik dengan biaya dan beban lingkungan, kini limbah semakin dilihat sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui inovasi dan kolaborasi.
Presiden Direktur LPKR, Indra Yuwana, menyampaikan bahwa penerapan prinsip ekonomi sirkular tidak hanya mendukung pencapaian target keberlanjutan perseroan.
"Tetapi juga merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan bagi generasi mendatang," ujar Indra.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








