Greenwashing dan Bahaya di Balik Citra Ramah Lingkungan Palsu

AKURAT.CO Kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan kini semakin meningkat.
Banyak perusahaan mulai menunjukkan kepeduliannya terhadap bumi melalui kampanye dan produk yang diklaim ramah lingkungan. Namun, tidak semua klaim tersebut benar adanya.
Di balik citra hijau yang terlihat indah, sering kali tersembunyi praktik menyesatkan yang disebut greenwashing.
Baca Juga: Mahakarya Arsitektur Ramah Lingkungan di Singapura Ternyata Jadi 'Jalur Kematian' Satwa Burung
Pengertian Greenwashing
Greenwashing adalah strategi pemasaran yang menyesatkan, di mana perusahaan menciptakan kesan bahwa produk atau layanan mereka ramah lingkungan, padahal tidak demikian. Praktik ini bertujuan membangun reputasi positif dan menarik perhatian konsumen yang peduli terhadap isu lingkungan tanpa melakukan perubahan nyata dalam kegiatan bisnis.
Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Jay Westerveld pada tahun 1986. Ia menulis kritik terhadap sebuah hotel yang mengampanyekan gerakan Save the Towel untuk menghemat air, tetapi di sisi lain memperluas bangunan hingga merusak pesisir. Kasus ini menjadi contoh awal bagaimana perusahaan bisa menggunakan isu lingkungan hanya untuk kepentingan citra.
Cara Greenwashing Bekerja
Perusahaan yang melakukan greenwashing biasanya memanfaatkan strategi komunikasi yang manipulatif untuk membangun persepsi palsu. Berikut beberapa cara umum yang sering dilakukan:
-
Menggunakan Klaim yang Kabur
Istilah seperti eco-friendly, natural, atau biodegradable sering dipakai tanpa penjelasan yang jelas atau bukti ilmiah yang mendukung. -
Menonjolkan Hal Kecil yang Ramah Lingkungan
Misalnya, perusahaan mempromosikan kemasan daur ulang tetapi masih menjalankan proses produksi yang mencemari lingkungan. -
Menampilkan Label atau Sertifikasi Palsu
Beberapa produk mencantumkan logo hijau yang tidak dikeluarkan oleh lembaga resmi untuk menimbulkan kesan keberlanjutan. -
Menggunakan Visual yang Menyesatkan
Gambar daun, pohon, atau bumi di kemasan sering kali digunakan untuk menciptakan kesan alami, padahal tidak relevan dengan isi produk. -
Menutupi Masalah yang Lebih Besar
Perusahaan bisa saja menonjolkan satu program kecil seperti penanaman pohon, namun tetap melakukan praktik utama yang merusak lingkungan.
Baca Juga: Pemerintah Pastikan Sumur Minyak Rakyat Ramah Lingkungan dan Legal
Mengapa Greenwashing Menjadi Masalah
Praktik greenwashing memiliki dampak negatif yang tidak bisa dianggap sepele.
Selain menipu konsumen, tindakan ini juga merugikan pihak lain dan menghambat upaya global dalam menjaga kelestarian lingkungan.
-
Menyesatkan Konsumen
Masyarakat percaya bahwa mereka telah berkontribusi menjaga lingkungan dengan membeli produk tertentu, padahal sebenarnya tidak. -
Merugikan Perusahaan yang Benar-Benar Peduli
Perusahaan yang menjalankan praktik berkelanjutan secara sungguh-sungguh harus bersaing dengan mereka yang hanya berpura-pura peduli. -
Menghambat Perubahan Positif
Konsumen merasa sudah berbuat cukup dengan membeli produk hijau, sehingga tekanan publik terhadap perusahaan untuk benar-benar berubah menjadi berkurang.
Faktor yang Mendorong Terjadinya Greenwashing
Beberapa penyebab umum yang membuat praktik greenwashing terus terjadi di berbagai sektor bisnis antara lain:
-
Tekanan Pasar dan Permintaan Konsumen
Meningkatnya minat terhadap produk berkelanjutan mendorong perusahaan membuat klaim hijau tanpa dasar kuat. -
Minimnya Regulasi dan Pengawasan
Kurangnya aturan tegas membuat perusahaan bebas membuat pernyataan tanpa bukti konkret. -
Persaingan Pasar yang Ketat
Dalam situasi kompetitif, citra ramah lingkungan dianggap sebagai strategi branding yang efektif, bahkan jika hanya sebatas klaim.
Dampak Negatif Greenwashing terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Greenwashing tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga berdampak pada kepercayaan publik dan efektivitas gerakan lingkungan global.
-
Menurunnya Kepercayaan terhadap Merek
Konsumen yang merasa tertipu akan kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan dan enggan membeli produk mereka di masa depan. -
Citra Perusahaan yang Rusak
Saat praktik greenwashing terbongkar, reputasi perusahaan bisa jatuh drastis dan sulit dipulihkan. -
Terganggunya Gerakan Pelestarian Lingkungan
Klaim palsu mengalihkan perhatian publik dari inisiatif lingkungan yang benar-benar berdampak nyata.
Cara Membedakan Perusahaan yang Benar-Benar Melakukan CSR dan Greenwashing
Konsumen perlu lebih cermat dalam menilai klaim ramah lingkungan dari perusahaan. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan:
-
Periksa Sertifikasi Resmi
Pastikan label atau sertifikat lingkungan berasal dari lembaga independen yang kredibel. -
Pelajari Laporan Keberlanjutan
Laporan yang terbuka dan mencantumkan data konkret menunjukkan komitmen nyata terhadap keberlanjutan. -
Perhatikan Tindakan Nyata
Lihat apakah perusahaan benar-benar menjalankan proyek lingkungan yang memberi dampak sosial dan ekologis nyata. -
Telusuri Rekam Jejaknya
Cek apakah perusahaan tersebut pernah terlibat dalam kasus pencemaran atau pelanggaran lingkungan sebelumnya.
Tanda-Tanda Umum Greenwashing Menurut Futerra
Berdasarkan laporan Selling Sustainability Report dari Futerra (2015), terdapat sepuluh strategi greenwashing yang sering digunakan perusahaan:
-
Bahasa yang kabur dan tidak memiliki makna jelas.
-
Ketidaksesuaian antara praktik bisnis dan produk yang diklaim ramah lingkungan.
-
Penggunaan gambar atau simbol hijau palsu.
-
Klaim yang tidak relevan dengan dampak lingkungan sebenarnya.
-
Menonjolkan keunggulan semu seperti “paling ramah lingkungan di kelasnya."
-
Nama produk yang menyesatkan, seperti “rokok ramah lingkungan."
-
Penggunaan istilah teknis yang membingungkan publik (gobbledygook).
-
Label dukungan tanpa bukti nyata.
-
Klaim tanpa data pendukung.
-
Pemalsuan atau manipulasi data.
Greenwashing adalah bentuk manipulasi yang merugikan, karena bukan hanya menipu konsumen tetapi juga menghambat kemajuan menuju dunia yang lebih berkelanjutan.
Dalam situasi krisis iklim yang semakin nyata, menjadi konsumen yang kritis adalah langkah penting untuk mendorong perubahan positif.
Jangan mudah percaya pada slogan ramah lingkungan tanpa bukti.
Telusuri lebih dalam, cari data pendukung, dan dukung perusahaan yang benar-benar berkomitmen terhadap keberlanjutan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








