Dibayangi Konflik AS-Iran dan Defisit APBN, Rupiah Justru Menguat Tipis ke Rp17.899

AKURAT.CO Di tengah tekanan dari ketidakpastian geopolitik global dan membengkaknya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), rupiah justru menguat pada perdsagangan Jumat (9/10/2026).
Di tengah ketidakpastian tersebut, rupiah pada perdagangan akhir pekan justru ditutup menguat 16 poin (0.09%) ke level Rp17.899 per dolar AS, dari penutupan sebelumnya Rp17.915. Namun, penguatan itu belum menghilangkan risiko pelemahan lanjutan.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menyoroti dinamika hubungan Washington dan Teheran, arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan fiskal Indonesia sebagai faktor yang perlu dicermati pelaku pasar.
Baca Juga: Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan
Konflik AS-Iran dan Selat Hormuz Jadi Perhatian Pasar
Dari eksternal, perkembangan hubungan AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar keuangan global. Presiden AS Donald Trump pada Kamis (8/10/2026) menyatakan Washington tengah melakukan diskusi produktif dengan Iran. Trump juga menegaskan tidak ada rencana serangan sebelum pemilihan umum sela Kongres pada 3 November 2026.
Pernyataan tersebut muncul di tengah laporan media mengenai kemungkinan serangan AS terhadap Iran sebelum tanggal tersebut. Ketidakpastian mengenai arah konflik membuat pelaku pasar terus mencermati perkembangan diplomasi kedua negara.
Pada saat yang sama, kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi menyatakan Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap usulan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. "Situasi ini menjadi perhatian pasar karena perkembangan konflik dan jalur perdagangan energi dapat memengaruhi sentimen investor serta pergerakan harga minyak dunia," ujar Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (9/10/2026).
Tekanan terhadap Iran juga belum mereda. AS pada Kamis menjatuhkan sanksi baru terhadap sejumlah individu, jaringan, dan 17 kapal yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, serta petrokimia asal Iran.
Bagi rupiah, dinamika geopolitik tersebut perlu dicermati bersama perkembangan harga energi dan respons pasar global. Namun, pelemahan dolar AS pada Jumat menunjukkan bahwa pergerakan mata uang tidak semata-mata ditentukan oleh satu faktor geopolitik.
Suku Bunga The Fed Masih Membayangi Mata Uang
Faktor berikutnya datang dari kebijakan moneter AS. Gubernur The Fed Christopher Waller pada Kamis menyatakan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih diperlukan, meskipun ia tetap fleksibel mengenai kecepatannya.
Waller menggambarkan kondisi pasar tenaga kerja AS pada September sebagai kokoh dan stabil, kendati pertumbuhan penciptaan lapangan kerja melambat. Ia juga menilai inflasi masih terlalu tinggi. Pernyataan tersebut menjadi sinyal bahwa peluang pengetatan kebijakan moneter AS masih perlu diperhitungkan oleh pelaku pasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara
- 10Peluang Gibran di Pilpres 2029 Tetap Terbuka Lebar Meski Lawan Politik Terus Bermanuver









