Rupiah Akhirnya Menguat ke Rp17.882 di Penghujung Pekan

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan akhir pekan. Namun, penguatan tersebut masih dibayangi ketidakpastian global, terutama dari potensi eskalasi konflik AS-Iran dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, pelemahan indeks dolar AS memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat. Pada perdagangan akhir pekan, rupiah ditutup di level Rp17.882 per USD, menguat 84 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp17.965 per USD.
"Pada perdagangan pasar akhir pekan, mata uang rupiah ditutup menguat 84 poin, sebelumnya sempat menguat 85 poin di level Rp17.882 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.965," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (2/10/2026).
Baca Juga: Rupiah Sudah Melemah ke Rp17.966, Masih Efektifkah BI Rate 5,75 Persen?
Meski demikian, Ibrahim menilai pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan eksternal. Salah satu faktor yang menjadi perhatian pasar adalah meningkatnya spekulasi mengenai potensi eskalasi konflik AS-Iran setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada November mendatang.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat pelaku pasar mencermati perkembangan di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur penting bagi pasokan energi global. Meningkatnya risiko gangguan pasokan energi berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi global.
"Potensi eskalasi konflik ini membuat para pelaku pasar terus memantau Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi pasokan energi global. Hal ini membuat risiko inflasi cenderung meningkat, yang mendukung argumen bagi kebijakan moneter yang lebih ketat," ujar Ibrahim.
Kebijakan The Fed Jadi Perhatian
Selain geopolitik, arah kebijakan moneter AS juga menjadi faktor penting bagi pergerakan dolar AS dan rupiah.
Para pejabat The Fed masih memberikan sinyal yang beragam mengenai arah suku bunga. Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menyatakan perekonomian AS berada di dekat kondisi lapangan kerja maksimal dan menekankan perlunya kehati-hatian dalam melakukan penyesuaian suku bunga.
Di sisi lain, Presiden The Fed Minneapolis Neel Kashkari masih menyuarakan sikap lebih ketat dengan membuka ruang untuk kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Pasar juga menunggu rilis data ketenagakerjaan AS atau nonfarm payrolls September. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting bagi investor dalam membaca arah kebijakan moneter The Fed.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Ekspor Minyak Timur Tengah Pulih 80 Persen, Strategi Iran di Selat Hormuz Mulai Kehilangan Taji?
- 2Prediksi Skor Thailand vs Vietnam 29 September 2026: Vietnam Berpeluang Menang Lagi?
- 3Prediksi Skor Argentina vs Bolivia 1 Oktober 2026: La Albiceleste Dijagokan
- 4Sinyal Aliansi Militer Baru? Telepon Khusus Erdogan ke Prabowo Bongkar Ambisi Besar Jakarta-Ankara
- 5Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 6Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 7Tanpa Sponsor 'Palsu' Rp19,69 Triliun, Manchester City Mungkin Tanpa Aguero dan Silva
- 8Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 9KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat
- 10KPK Hadirkan Delapan Saksi dari Kesthuri, Himpuh, Amphuri hingga Maktour untuk Pembuktian Korupsi Kuota Haji








