Rupiah Ditaksir Masih Melemah ke Kisaran Rp17.900-Rp17.950

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditaksir kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per USD pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan tekanan terhadap rupiah datang ketika ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat, sementara harga minyak dunia bertahan di atas USD90 per barel dan ruang pelonggaran kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) semakin terbatas.
Ia pun menaksir rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah ke kisaran RP17.900-Rp17.950. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.900-Rp17.950," kata Ibrahim dalam risetnya hariannya, Selasa (29/9/2026).
Baca Juga: BI Perkuat Likuiditas Rupiah, Repo Non-SBN Diperluas ke SMI
Pada perdagangan Senin (28/9/2026), rupiah ditutup di level Rp17.978 per USD. Posisi tersebut melemah 75 poin atau 0,42% dibandingkan penutupan perdagangan Jumat (25/9/2026) di Rp17.903 per USD. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah sempat menguat 13 poin.
Tekanan tersebut terjadi di tengah kembali memanasnya situasi di sekitar Selat Hormuz. Iran menyatakan belum akan melonggarkan syarat untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut, sementara upaya negosiasi dengan AS masih menjadi perhatian pasar.
Kondisi itu menjadi penting bagi pasar keuangan karena Selat Hormuz merupakan salah satu jalur utama perdagangan energi global. Ketidakpastian mengenai kelancaran pelayaran berpotensi menjaga premi risiko pada harga minyak.
Harga minyak yang tinggi kemudian dapat memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia. Berdasarkan sensitivitas APBN 2026, setiap kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau ICP sebesar USD1 per barel berpotensi meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5 triliun.
Namun, belanja negara juga berpotensi meningkat sekitar Rp10,3 triliun sehingga defisit dapat bertambah sekitar Rp6,8 triliun dengan asumsi faktor lainnya tetap.
Proyeksi tersebut muncul ketika rupiah sudah berada di dekat level Rp18.000. Pada perdagangan Senin, kurs rupiah bahkan ditutup di Rp17.978 per USD berdasarkan data Bloomberg.
Dengan demikian, perhatian pasar pada perdagangan berikutnya tidak hanya tertuju pada pergerakan dolar AS, tetapi juga perkembangan konflik AS-Iran, kondisi Selat Hormuz, serta arah harga minyak dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini








