Akurat Logo

Harga Minyak Global Terus Naik, Kebutuhan Akan Dolar AS Berpotensi Membengkak

Esha Tri Wahyuni | 28 September 2026, 18:54 WIB
Harga Minyak Global Terus Naik, Kebutuhan Akan Dolar AS Berpotensi Membengkak
Ilustrasi harga minyak dunia naik

AKURAT.CO Kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah karena kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi dapat meningkat. Kondisi ini menjadi perhatian ketika rupiah masih berada di kisaran Rp17.800 per USD dan harga minyak bergerak jauh di atas asumsi pemerintah.

Bank Indonesia mencatat nilai tukar rupiah pada 22 September 2026 berada di level Rp17.855 per USD. Posisi tersebut melemah 0,78% dibandingkan level akhir Agustus 2026. BI menyebut rupiah sebelumnya sempat menguat hingga pertengahan September, tetapi kembali mendapat tekanan akibat meningkatnya ketidakpastian kondisi global.

Di sisi lain, harga minyak Indonesia juga berada di atas asumsi yang digunakan dalam APBN. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia mengatakan, rata-rata harga minyak nasional dari Januari hingga September 2026 berada di kisaran USD85-USD90 per barel, sementara asumsi harga minyak dalam APBN 2026 ditetapkan USD70 per barel.

Baca Juga: Rupiah Ambruk 75 Poin ke Rp17.978

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, kombinasi harga minyak yang tinggi dan pelemahan rupiah perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan kebutuhan dolar untuk memenuhi kebutuhan impor energi. "Kalau kita melihat beban energi, ini berpotensi membuat kebutuhan dolar yang cukup besar untuk memenuhi kuota impor energi," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Senin (28/9/2026).

Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak terhadap nilai impor secara nominal. Ketika harga minyak meningkat, kebutuhan pembayaran dalam dolar AS untuk volume impor yang sama juga dapat bertambah.

Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia masih mengalami defisit pada perdagangan sektor migas. Berdasarkan data BPS yang dikutip dalam data perdagangan terbaru, surplus perdagangan Indonesia secara keseluruhan pada Juli 2026 mencapai USD121,9 juta.

Namun, sektor migas masih mencatat defisit, sementara surplus perdagangan ditopang sektor nonmigas. Tekanan dari sektor migas juga tercermin dalam transaksi berjalan. Bank Indonesia mencatat transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II-2026 mengalami defisit USD12,5 miliar atau 3,3% terhadap PDB.

BI menyebut pelebaran defisit antara lain dipengaruhi meningkatnya defisit perdagangan migas akibat kenaikan impor minyak seiring tingginya harga minyak dunia. Ibrahim memperkirakan kondisi tersebut dapat berlanjut apabila harga minyak tetap bertahan tinggi pada kuartal III-2026.

"Defisit transaksi berjalan di kuartal kedua kemarin itu adalah 3,3 persen terhadap produk domestik bruto. Ada kemungkinan besar di bulan Juli, Agustus, September, harga minyak di atas 90, ada kemungkinan besar ini akan membuat defisit transaksi berjalan di kuartal ketiga ini akan lebih besar daripada defisit transaksi berjalan di kuartal kedua," ujarnya.

Kebutuhan dolar untuk impor energi pada akhirnya dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pasar valuta asing. Ketika permintaan dolar meningkat, sementara pasokan valuta asing tidak bertambah dalam jumlah yang sebanding, nilai tukar rupiah dapat menghadapi tekanan.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.