Akurat Logo

Ditekan Banyak Faktor Eksternal, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.810-Rp17.860

Esha Tri Wahyuni | 25 September 2026, 07:37 WIB
Ditekan Banyak Faktor Eksternal, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.810-Rp17.860
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), sikap hawkish pejabat Federal Reserve (The Fed), hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.

Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, kondisi tersebut membuat ruang pergerakan rupiah masih cukup fluktuatif dalam perdagangan berikutnya.

Menurut Ibrahim, pasar masih akan mencermati pergerakan dolar AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan konflik dan negosiasi AS-Iran sebagai katalis utama. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.810-Rp17.860," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (25/9/2026).

Baca Juga: BI Rate Ditahan di 5,75 Persen, Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.810-Rp17.860

Namun, perkembangan perdagangan valuta asing pada 24 September menunjukkan rupiah kembali berada di bawah tekanan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, rupiah berada di level Rp17.898 per USD pada 24 September, melemah dari Rp17.803 pada perdagangan sehari sebelumnya.

Tekanan tersebut datang ketika Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuannya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, BI memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75%, dengan Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%.

BI menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Bank sentral juga melanjutkan kebijakan untuk menarik aliran modal asing dan memperdalam pasar uang serta pasar valuta asing.

"Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tulis BI dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).

Di pasar global, dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin mengatakan tekanan inflasi masih menjadi perhatian dan inflasi belum hanya berasal dari energi maupun tarif.

Barkin juga menilai tekanan harga yang lebih luas membuat risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja maksimum. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap sikap moneter The Fed yang tetap ketat.

Tekanan terhadap pasar valuta asing juga dipengaruhi perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran terus berlangsung dan menyebut pertemuan antara pejabat kedua negara berjalan baik.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.