Ditekan Banyak Faktor Eksternal, Rupiah Ditaksir Melemah Lagi ke Rp17.810-Rp17.860

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal, mulai dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS), sikap hawkish pejabat Federal Reserve (The Fed), hingga ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, kondisi tersebut membuat ruang pergerakan rupiah masih cukup fluktuatif dalam perdagangan berikutnya.
Menurut Ibrahim, pasar masih akan mencermati pergerakan dolar AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan konflik dan negosiasi AS-Iran sebagai katalis utama. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.810-Rp17.860," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (25/9/2026).
Baca Juga: BI Rate Ditahan di 5,75 Persen, Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.810-Rp17.860
Namun, perkembangan perdagangan valuta asing pada 24 September menunjukkan rupiah kembali berada di bawah tekanan. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) BI, rupiah berada di level Rp17.898 per USD pada 24 September, melemah dari Rp17.803 pada perdagangan sehari sebelumnya.
Tekanan tersebut datang ketika Bank Indonesia (BI) memilih mempertahankan suku bunga acuannya. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 22-23 September 2026, BI memutuskan menahan BI-Rate di level 5,75%, dengan Deposit Facility 4,75% dan Lending Facility 6,50%.
BI menyatakan keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. Bank sentral juga melanjutkan kebijakan untuk menarik aliran modal asing dan memperdalam pasar uang serta pasar valuta asing.
"Keputusan ini tetap konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat guna mendukung pencapaian sasaran inflasi sebesar 2,5±1 persen pada tahun 2026 dan 2027 serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan," tulis BI dalam keterangan resminya, Rabu (23/9/2026).
Di pasar global, dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi bahwa The Fed dapat mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama. Presiden Federal Reserve Bank of Richmond Thomas Barkin mengatakan tekanan inflasi masih menjadi perhatian dan inflasi belum hanya berasal dari energi maupun tarif.
Barkin juga menilai tekanan harga yang lebih luas membuat risiko terhadap inflasi saat ini lebih besar dibandingkan risiko terhadap pencapaian lapangan kerja maksimum. Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap sikap moneter The Fed yang tetap ketat.
Tekanan terhadap pasar valuta asing juga dipengaruhi perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan dengan Iran terus berlangsung dan menyebut pertemuan antara pejabat kedua negara berjalan baik.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 6Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 7Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 8Kalender Jawa 23 September 2026: Watak Weton Rabu Pon Dikenal Cerdas dan Mudah Bergaul
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK








