BI Rate Ditahan di 5,75 Persen, Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp17.810-Rp17.860

AKURAT.CO Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif pada perdagangan Kamis (24/9/2026).
Pasar valuta asing akan mencermati arah dolar AS, sikap bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed), serta perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi harga minyak dan sentimen investor global.
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS. Di sisi lain, perkembangan negosiasi antara AS dan Iran dapat menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar dalam waktu dekat.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Tertekan Lagi ke Rp17.930 per USD
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.810-Rp17.860," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Kamis (24/9/2026).
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup menguat 67 poin ke level Rp17.817 per USD dari posisi penutupan sebelumnya Rp17.884. Pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026), rupiah juga tercatat menguat 27 poin atau 0,15% ke Rp17.857 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.884.
Dari sisi domestik, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September 2026. Suku bunga Deposit Facility juga tetap 4,75%, sedangkan Lending Facility berada di 6,50%.
BI menyatakan keputusan tersebut konsisten dengan strategi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih kuat. BI juga akan memperkuat kebijakan insentif untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar.
Keputusan BI tersebut menjadi salah satu perhatian pasar karena arah suku bunga domestik berpengaruh terhadap daya tarik aset keuangan Indonesia, sementara perkembangan kebijakan moneter AS turut menentukan pergerakan dolar secara global.
Dari eksternal, dolar AS masih mendapatkan perhatian investor setelah sejumlah pejabat The Fed menyampaikan kekhawatiran terhadap inflasi.
Presiden Federal Reserve Bank of Richmond, Thomas Barkin mengatakan inflasi masih menjadi perhatian utama dan kenaikan suku bunga lebih lanjut dapat diperlukan untuk membawa inflasi kembali menuju target 2%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







