Akurat Logo

Rupiah Diprediksi Masih Tertekan ke Rp17.900 per USD

Esha Tri Wahyuni | 22 September 2026, 07:44 WIB
Rupiah Diprediksi Masih Tertekan ke Rp17.900 per USD
Ilustrasi rupiah melemah atas dolar AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah berpotensi masih bergerak dalam tekanan pada perdagangan Selasa (22/9/2026). Pelaku pasar mencermati keputusan Bank Indonesia (BI) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) 22-23 September serta arah kebijakan suku bunga global.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi memperkirakan, rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ia memperkirakan rupiah berada di kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per USD. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840-Rp17.900," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Selasa (22/9/202).

Pergerakan tersebut terjadi setelah rupiah pada perdagangan Senin (21/9/2026) ditutup melemah. Berdasarkan data perdagangan yang disampaikan Ibrahim, rupiah berada di level Rp17.847 per USD, melemah 89 poin dibandingkan penutupan sebelumnya Rp17.758.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp17.800 per-Dolar AS, BI Ungkap Penyebabnya

Sementara itu, berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah pada 21 September 2026 berada di level Rp17.813 per USD, melemah dari Rp17.745 pada perdagangan 18 September. Dengan demikian, secara JISDOR rupiah telah bergerak melemah dalam beberapa hari perdagangan terakhir.

Tekanan terhadap rupiah datang ketika dolar AS menguat di pasar global. Indeks dolar AS tercatat berada di sekitar 100,39 pada 21 September, sementara pasar kembali mencermati kemungkinan arah suku bunga The Federal Reserve setelah bank sentral AS menaikkan suku bunga acuannya pada pertemuan September.

The Fed pada 16 September 2026 menaikkan target federal funds rate sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%. Dalam pernyataannya, The Fed menyebut inflasi masih berada pada level tinggi sehingga kebijakan tersebut diperlukan untuk mendukung kembalinya inflasi menuju target 2%.

Perbedaan arah kebijakan suku bunga global menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan pasar valuta asing. Kenaikan suku bunga AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan pada saat yang sama memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, perhatian pasar selanjutnya tertuju pada keputusan BI. RDG BI September dijadwalkan berlangsung pada Selasa-Rabu, 22-23 September 2026. Keputusan pada hari kedua akan menentukan arah kebijakan moneter BI.

BI sebelumnya mempertahankan BI-Rate pada level 5,75% dalam RDG 18-19 Agustus 2026. Bank sentral menyatakan keputusan tersebut ditujukan antara lain untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global serta menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5% plus-minus 1%.

Dalam pandangan Ibrahim, kondisi inflasi global dan dinamika kebijakan bank sentral menjadi faktor yang perlu dicermati BI dalam menentukan kebijakan suku bunga. "Pasar akan mencermati keputusan Bank Indonesia di tengah dinamika nilai tukar rupiah, inflasi, serta kebijakan bank sentral global yang terfragmentasi," ujarnya.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.