Serial Merdeka Finansial (VII): Finansialisasi Digital dan Jerat Konsumerisme Semu Kelas Pekerja

AKURAT.CO Indikator makroekonomi Indonesia sepanjang paruh pertama 2026 sekilas menunjukkan ketahanan yang solid. Mengutip hasil laporan Mandiri Spending Index (MSI) mencatat angka konsumsi masyarakat tetap tumbuh positif di level 123,0 pada Juni 2026, atau tumbuh 5,9% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Namun sayangnya, angka pertumbuhan tersebut menyembunyikan realita di lapangan, dimana konsumsi tidak lagi ditopang oleh pertumbuhan pendapatan riil, melainkan oleh strategi dissaving (menguras tabungan) dan ekspansi utang konsumtif.
Bahkan fenomena tersebut disebut sebagai praktik 'mengijon' atau meminjam mesin pertumbuhan masa depan untuk menambal kebutuhan hari ini.
Narasi pemerintah yang berulang kali mengagungkan ketahanan daya beli mulai berbenturan dengan realitas penurunan kapasitas menabung dan akumulasi kekayaan kelas menengah.
Tabungan Menyusut, Pinjaman Malah Meroket
Mengutip hasil data dari Daily Economic and Market yang dirilis Tim Ekonom PT Bank Mandiri pada Juli 2026 mengonfirmasi bahwa pertumbuhan belanja yang positif berjalan beriringan dengan melemahnya kapasitas simpanan masyarakat. Mandiri Saving Index berada di level rendah 84,8.
Jika dibedah per kelompok per 31 Mei 2026, indeks tabungan kelas menengah turun 0,2% month-on-month (MoM) menjadi 101,3. Sementara kelas bawah terjerembab turun 0,8% MoM ke level 72,0.
Sebaliknya, indeks tabungan kelompok atas justru naik 0,7 persen MoM menjadi 92,3. Kontras inilah mempertegas terjadinya fenomena 'K-shaped trajectory', di mana pemulihan ekonomi hanya dinikmati oleh kelompok elite kaya, sedangkan basis konsumen massal mengalami penyusutan aset.
Potret kemerosotan isi rekening ini diperkuat oleh data Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas) per Mei 2026. Dimana rata-rata saldo tabungan masyarakat di bawah Rp100 juta yang merepresentasikan kelas pekerja dan kelas menengah malah anjlok secara drastis dari Rp3,1 juta per rekening pada 2018 menjadi tinggal Rp1,7 juta per rekening pada Mei 2026.
Penurunan nominal simpanan ini menjadi indikator kuat bahwa sebagian besar rumah tangga beroperasi dalam mode defisit finansial kronis akibat kenaikan biaya hidup yang tidak diimbangi kenaikan upah riil.
Oleh karena itu, dalam rangka menjaga volume konsumsi harian, masyarakat mengalihkan sumber pendanaan ke instrumen pembiayaan digital.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat indeks pinjaman mencakup pinjaman online (pinjol), kartu kredit, dan kartu pembiayaan digital melonjak hingga 24,6% YoY per pertengahan 2026.
Dengan Total outstanding pinjaman mencapai Rp160,7 triliun, dengan kontribusi terbesar berasal dari pinjol sebesar Rp103,7 triliun.
Sektor perbankan juga mencatatkan pertumbuhan signifikan pada lini digitalnya. Hingga Juni 2026, total baki debet Buy Now Pay Later (BNPL) perbankan menembus angka Rp30,71 triliun dengan jumlah akun mencapai 32,80 juta rekening.
Secara tidak langsung, hasil data OJK tersebut menunjukkan porsi peruntukan pinjaman ini mayoritas bersifat non-produktif, per April 2026, porsi pinjaman konsumtif melonjak mendominasi hingga 86% dari total portofolio pembiayaan. Pada pembiayaan BNPL melalui perusahaan pembiayaan, porsi konsumtif bahkan menyentuh angka 93,01%.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 8Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







