Rupiah DItaksir melemah ke Rp18.040 Jelang Rilis Data Ketenagakerjaan AS

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif pada perdagangan Selasa (4/8/2026). Meski tekanan eksternal mulai mereda setelah Amerika Serikat menunda rencana serangan terhadap Iran, pelaku pasar global masih menahan diri menjelang rilis serangkaian data tenaga kerja Amerika Serikat yang diyakini akan menentukan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pengamat Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen geopolitik yang mulai mereda berhasil mengurangi tekanan terhadap aset berisiko, termasuk mata uang negara berkembang seperti rupiah. Namun, ruang penguatan dinilai masih terbatas karena investor kini mengalihkan perhatian ke prospek kebijakan moneter AS.
Pada perdagangan Selasa (4/8/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup melemah tipis di kisaran Rp17.990 hingga Rp18.040 per USD seiring pelaku pasar yang masih cenderung menunggu kepastian arah kebijakan The Fed melalui data tenaga kerja AS.
Baca Juga: Tak Cuma Tahan BI Rate, Ini Jurus BI Jaga Stabilitas Rupiah
"Meredanya ketegangan di Timur Tengah menjadi sentimen positif bagi rupiah karena kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak mulai berkurang. Namun, penguatan rupiah diperkirakan masih terbatas karena pelaku pasar sedang menunggu data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang akan menjadi acuan arah kebijakan The Fed," kata Ibrahim dalam risetnya, Selasa (4/8/2026).
Ibrahim menjelaskan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan membatalkan rencana serangan militer besar-besaran terhadap Iran setelah Teheran bersama sejumlah negara di kawasan Timur Tengah meminta ruang untuk melakukan negosiasi.
Pembicaraan dijadwalkan dimulai pada Senin dengan fokus membuka kembali Selat Hormuz serta memastikan Iran menghentikan ambisi pengembangan senjata nuklir.
Kondisi tersebut langsung direspons pasar dengan turunnya harga minyak dunia lebih dari USD5 per barel pada awal perdagangan Asia. Penurunan harga minyak meredakan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi global yang sebelumnya dipicu potensi terganggunya pasokan energi.
Meski demikian, perhatian investor belum sepenuhnya beralih dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Tiga pejabat Federal Reserve yang sebelumnya menyampaikan pandangan berbeda dalam rapat kebijakan kembali menegaskan inflasi masih berada di level tinggi sehingga kenaikan suku bunga dinilai masih diperlukan untuk menjaga kredibilitas bank sentral.
"Pasar saat ini lebih berhati-hati karena pekan ini akan dirilis sejumlah data penting, mulai dari JOLTS, ADP Employment Change, klaim pengangguran mingguan hingga Nonfarm Payrolls. Seluruh data tersebut akan menjadi petunjuk apakah The Fed masih memiliki ruang untuk kembali menaikkan suku bunga," ujar Ibrahim.
Dari dalam negeri, sentimen terhadap rupiah mendapat dukungan setelah aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik menjadi 50,2 pada Juli 2026 dari 46,9 pada Juni.
Kenaikan tersebut menandai berakhirnya fase kontraksi sektor manufaktur sekaligus menunjukkan aktivitas produksi mulai pulih memasuki kuartal III 2026.
Meski demikian, pemulihan masih berlangsung secara bertahap karena pelaku industri masih menghadapi kenaikan harga bahan baku, lemahnya permintaan ekspor, serta sikap hati-hati dalam pembelian bahan baku.
Selain itu, inflasi domestik yang tetap terkendali juga menjadi faktor pendukung stabilitas nilai tukar. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14% secara bulanan pada Juli 2026, sementara inflasi tahunan tercatat sebesar 2,88% dengan inflasi tahun kalender mencapai 1,65%.
Deflasi terutama dipengaruhi kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga sebesar 0,89%. Di sisi lain, kelompok transportasi menjadi penahan deflasi setelah mencatat inflasi 0,52%, terutama dipicu kenaikan harga bensin serta biaya operasional kendaraan bermotor.
Menurut Ibrahim, kombinasi meredanya tensi geopolitik, membaiknya aktivitas manufaktur nasional, dan inflasi yang tetap terjaga menjadi modal positif bagi rupiah.
Namun, arah pergerakan mata uang Garuda tetap akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen global, khususnya hasil data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Pada perdagangan Senin (3/8/2026), rupiah ditutup menguat 25 poin atau sekitar 0,14% ke level Rp17.997 per USD, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 35 poin. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp18.022 per USD.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 8Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 9Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 10Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik









