Rupiah Menguat ke Rp18.065 di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Rupiah berhasil menutup perdagangan akhir pekan di zona hijau meski ketidakpastian global kembali meningkat akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan Jumat (10/7/2026), rupiah ditutup menguat 63 poin menjadi Rp18.065 per USD dari posisi sebelumnya Rp18.128 per USD.
Sentimen positif dari dalam negeri, mulai dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap solid hingga meningkatnya penjualan kendaraan bermotor, dinilai mampu meredam tekanan eksternal terhadap pergerakan mata uang Garuda.
Baca Juga: Ditekan dari Dua Arah, Rupiah Ambruk ke Rp18.128
Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan rupiah terjadi ketika pasar masih dibayangi meningkatnya tensi geopolitik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan.
Kondisi tersebut memicu aksi balasan dari Teheran sehingga meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Menurut Ibrahim, konflik yang kembali memanas juga berdampak pada tertundanya pembukaan penuh Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang selama ini dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
"Kondisi tersebut kembali memicu lonjakan harga minyak dunia sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi berbasis energi. Jika tekanan inflasi terus meningkat, Federal Reserve berpeluang mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat," kata Ibrahim dalam risetnya, Jumat (10/7/2026).
Ibrahim menjelaskan, pelaku pasar kini mulai meningkatkan ekspektasi terhadap peluang kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat pada tahun ini. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai sekitar 63%.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat juga masih menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Klaim awal tunjangan pengangguran kembali menurun pada pekan lalu, sementara Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menegaskan inflasi masih berada di atas target bank sentral.
"Inflasi masih terlalu tinggi dan Federal Reserve tetap berkomitmen mengembalikan inflasi menuju target 2 persen," ujarnya.
Meski tekanan global masih tinggi, Ibrahim menilai sentimen domestik berhasil menjadi penopang utama pergerakan rupiah.
Ibrahim mengatakan, pasar merespons positif keputusan International Monetary Fund (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026. Bahkan, IMF memperkirakan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,1% pada 2027.
Selain IMF, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 dan 2027. Angka tersebut mencerminkan keyakinan lembaga internasional terhadap daya tahan ekonomi nasional di tengah perlambatan ekonomi global.
"Prospek ekonomi Indonesia yang tetap positif menjadi salah satu faktor yang menopang sentimen pasar terhadap aset domestik, termasuk rupiah," ujar Ibrahim.
Dirinya menambahkan, meningkatnya penjualan mobil nasional juga turut memberikan sinyal bahwa aktivitas konsumsi masyarakat mulai membaik, meski belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan wholesales kendaraan mencapai 77.550 unit pada Juni 2026 atau meningkat 12% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Secara kumulatif, penjualan mobil sepanjang semester I-2026 mencapai 436.564 unit atau naik 15,9% secara tahunan.
Meski demikian, Ibrahim mengingatkan bahwa peningkatan penjualan kendaraan belum dapat dijadikan indikator bahwa konsumsi rumah tangga telah pulih sepenuhnya.
"Pemulihan daya beli masyarakat masih berlangsung secara bertahap sehingga pasar tetap akan mencermati perkembangan inflasi, konsumsi domestik, dan dinamika global dalam beberapa waktu ke depan," katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









