Misbakhun: Fundamental Ekonomi RI Jauh Lebih Kuat dari 1998

AKURAT.CO Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun menegaskan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia tidak mungkin mengalami kebangkrutan meski belakangan muncul narasi krisis ekonomi di media sosial.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki fondasi ekonomi kuat yang ditopang kekayaan sumber daya alam strategis dan daya tahan fiskal yang relatif stabil.
Dalam sesi “1 on 1 Legislative” pada Jogja Financial Festival di Yogyakarta, Misbakhun menyebut Indonesia masih menjadi salah satu pemain utama dunia untuk sejumlah komoditas unggulan seperti crude palm oil (CPO) dan nikel.
Baca Juga: Herman Khaeron Optimistis Ekonomi RI Tumbuh Positif, Sepakat APBN 2027 Jadi Alat Lindungi Rakyat
“Kalau ada yang mengatakan APBN kita bangkrut, tidak mungkin kita bangkrut. Negara sekaya Indonesia tidak mungkin menjadi negara yang bangkrut,” kata Misbakhun dikutip dari Channel YouTube CNBC, Minggu (24/5/2026).
Dirinya menjelaskan Indonesia menguasai sekitar 40% produksi CPO dunia serta lebih dari 60% cadangan nikel global. Selain itu, Indonesia juga masih memiliki kekuatan ekspor dari sektor karet, kopi, damar, hingga hasil perikanan laut.
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan Indonesia memang menjadi produsen nikel terbesar dunia dengan kontribusi dominan terhadap pasokan global.
Sementara berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekspor CPO dan turunannya masih menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Misbakhun juga meminta masyarakat lebih rasional dalam menyikapi isu ekonomi yang berkembang di ruang digital. Ia menilai persepsi publik saat ini banyak dipengaruhi informasi media sosial yang tidak seluruhnya berbasis data resmi.
“Kita berhadapan pada sebuah situasi antara realitas melawan media sosial. Jangan percaya begitu saja apa yang dilakukan influencer,” ujarnya.
Baca Juga: Membaca RAPBN 2027 Ala Presiden Prabowo: Ambisi Yang Menuntut Kedisiplinan Eksekusi
Menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda jauh dibanding krisis moneter 1998. Ia menilai fundamental ekonomi nasional masih relatif kuat terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terkendali, serta ketahanan sektor keuangan yang lebih baik dibanding era krisis.
Sebagai informasi, ekonomi Indonesia sepanjang 2025 masih tumbuh di kisaran 5%. Inflasi nasional juga tetap berada dalam target Bank Indonesia di level sekitar 2,5% plus minus 1%. Dari sisi fiskal, Kementerian Keuangan sebelumnya melaporkan defisit APBN masih dijaga sesuai batas aman Undang-Undang Keuangan Negara, yakni maksimal 3% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Selain itu, rasio utang pemerintah Indonesia terhadap PDB juga masih berada di bawah 40%. Angka tersebut relatif lebih rendah dibanding sejumlah negara berkembang maupun negara maju yang memiliki rasio utang di atas 60% terhadap PDB.
Narasi mengenai APBN bangkrut belakangan ramai diperbincangkan di media sosial seiring meningkatnya kekhawatiran publik terhadap tekanan ekonomi global, perlambatan manufaktur dunia, hingga pelemahan daya beli masyarakat. Namun sejumlah ekonom dan otoritas fiskal menilai kondisi Indonesia saat ini masih dalam kategori terkendali.
Hal ini menjadi penting karena APBN memiliki peran sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, mulai dari pembiayaan subsidi energi, bantuan sosial, pembangunan infrastruktur, hingga menjaga konsumsi masyarakat. Ketika muncul persepsi negatif terkait kesehatan fiskal negara, dampaknya dapat memengaruhi sentimen pasar dan tingkat kepercayaan publik terhadap ekonomi domestik.
Di sisi lain, pemerintah juga masih menghadapi sejumlah tantangan eksternal seperti tensi geopolitik global, fluktuasi harga komoditas, serta potensi perlambatan ekonomi dunia yang dapat memengaruhi penerimaan negara. Karena itu, keberlanjutan reformasi fiskal dan hilirisasi sumber daya alam dinilai akan menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan APBN ke depan.
Misbakhun menegaskan selama Indonesia mampu mengelola sumber daya alam secara optimal dan menjaga stabilitas ekonomi makro, kondisi fiskal nasional masih berada pada jalur yang aman.
“Kondisi ekonomi Indonesia saat ini berbeda dibanding krisis 1998 karena fundamental ekonomi nasional masih kuat dan stabil,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat









