Rupiah Turun ke Rp17.667 Usai Pasar Cemaskan Selat Hormuz dan BI Rate

AKURAT.CO Nilai tukar rupiah ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (21/5/2026), turun 13,5 poin (0,08%) ke level Rp17.667 per USD dari sebelumnya Rp17.653 per USD.
Pelemahan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik Iran-AS, gangguan distribusi energi global di Selat Hormuz, hingga langkah Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah.
Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat melemah hingga 30 poin.
Baca Juga: Presiden Pidato KEM PPKF RAPBN 2027, Rupiah Dibidik di Rp16.800-Rp17.500
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 13 poin, sebelumnya sempat melemah 30 poin di level Rp17.667 dari penutupan sebelumnya Rp17.653 per USD,” kata Ibrahim di Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Menurut Ibrahim, tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari faktor domestik, tetapi juga dipicu kombinasi sentimen geopolitik dan arah kebijakan moneter global yang semakin ketat.
Dari eksternal, indeks dolar AS menguat setelah Presiden AS Donald Trump menyebut perang Iran berada di “tahap akhir”.
Meski demikian, Trump juga memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan damai dapat memicu aksi militer lanjutan AS terhadap Iran.
Pernyataan tersebut membuat pelaku pasar tetap berhati-hati karena risiko konflik di Timur Tengah dinilai belum sepenuhnya mereda. Kondisi itu diperburuk dengan masih terbatasnya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur vital energi dunia.
Sebagai informasi, Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak dan gas yang mengangkut sekitar 20% konsumsi energi global sebelum konflik pecah.
Penutupan sebagian jalur tersebut membuat harga minyak dunia bertahan tinggi meski sempat terkoreksi tajam pada awal pekan.
Iran bahkan mengumumkan pembentukan “Otoritas Selat Teluk Persia” dan menetapkan zona maritim terkontrol di Selat Hormuz. Langkah tersebut dipandang pasar sebagai sinyal bahwa risiko gangguan pasokan energi global masih besar.
Kondisi geopolitik itu turut memengaruhi arah kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed). Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) April 2026 menunjukkan mayoritas pejabat The Fed mulai membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi AS tetap berada di atas target 2%.
Pejabat The Fed menilai perang Iran berpotensi memperpanjang tekanan inflasi global, terutama melalui kenaikan harga energi dan gangguan rantai pasok.
Pada pertemuan April 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5%-3,75%. Namun pasar mulai memperhitungkan peluang pengetatan lanjutan jika inflasi kembali meningkat.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memperketat aturan ekspor sejumlah komoditas strategis seperti minyak sawit mentah (CPO), batu bara, dan ferroalloy melalui satu eksportir milik negara.
Kebijakan tersebut memicu kehati-hatian investor karena dinilai dapat memengaruhi arus perdagangan dan penerimaan devisa ekspor dalam jangka pendek.
Selain itu, pelaku pasar juga menanti rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2026 pada Jumat (22/5/2026).
Sebelumnya, Indonesia mencatat defisit transaksi berjalan pada kuartal IV-2025 akibat pelebaran kesenjangan harga minyak dan tingginya impor energi.
Di sisi lain, Bank Indonesia sebelumnya memutuskan menaikkan BI Rate sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah gejolak global.
Ibrahim menilai langkah BI tersebut bukan sekadar instrumen teknis untuk mengendalikan arus modal keluar, melainkan juga upaya memulihkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional.
“Dengan menaikkan suku bunga acuan, Bank Indonesia ingin menyatakan bahwa posisi rupiah masih akan dijaga, ekspektasi inflasi tidak akan dibiarkan liar, dan otoritas moneter belum kehilangan kendali,” ujar Ibrahim.
Meski demikian, kebijakan suku bunga tinggi juga membawa konsekuensi terhadap perekonomian domestik.
Kenaikan biaya pinjaman dinilai berpotensi menekan penyaluran kredit, memperlambat investasi, hingga meningkatkan beban cicilan dunia usaha dan rumah tangga.
Tekanan terhadap rupiah akibat kombinasi konflik geopolitik dan penguatan dolar AS pernah terjadi pada 2022 saat perang Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga energi global.
Saat itu, rupiah sempat bergerak di atas Rp15.700 per USD sebelum stabil kembali seiring intervensi BI dan normalisasi harga komoditas.
Untuk perdagangan Jumat (22/5/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.660 hingga Rp17.710 per USD.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini









