Konflik Timur Tengah Meluas, Bank Sentral Jepang Mulai Pasang Kuda-kuda

AKURAT.CO Lonjakan harga energi global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah mulai memberi tekanan besar terhadap ekonomi Jepang.
Situasi tersebut membuat Bank of Japan (BOJ) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Survei Reuters menunjukkan mayoritas ekonom memprediksi BOJ akan menaikkan suku bunga acuannya menjadi 1% pada Juni 2026. Kenaikan lanjutan juga diperkirakan terjadi pada akhir tahun jika tekanan inflasi terus meningkat.
Baca Juga: Yen Melemah, Bank Sentral Jepang Diprediksi Percepat Kenaikan Suku Bunga
Kenaikan harga minyak menjadi faktor utama yang mendorong perubahan sikap bank sentral Jepang. Sebagai negara pengimpor energi, Jepang sangat rentan terhadap gejolak harga minyak dunia.
Data terbaru menunjukkan inflasi harga grosir Jepang melonjak pada April 2026, terutama akibat kenaikan harga energi dan bahan kimia yang dipicu konflik Iran di Timur Tengah.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran BOJ terhadap risiko inflasi yang lebih persisten.
Selama ini Jepang dikenal sebagai negara dengan inflasi rendah, bahkan sempat mengalami deflasi berkepanjangan selama beberapa dekade.
Namun situasi mulai berubah sejak lonjakan harga komoditas global dan pelemahan yen meningkatkan biaya impor. Tekanan inflasi kini juga diperkuat kenaikan upah pekerja di Jepang.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Buka Peluang LNG AS Masuk ke China
Anggota dewan BOJ, Kazuyuki Masu, menyebut suku bunga perlu dinaikkan sesegera mungkin apabila kondisi ekonomi tidak memburuk drastis.
Pernyataan tersebut memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan Juni mendatang.
Bank sentral Jepang sebelumnya mengakhiri era suku bunga negatif pada 2024 setelah bertahun-tahun menerapkan stimulus moneter besar-besaran.
Kini BOJ menghadapi tantangan baru untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi.
Ekonom menilai risiko inflasi kini lebih besar dibanding ancaman perlambatan permintaan domestik.
Jika BOJ terlambat menaikkan suku bunga, pelemahan yen dan lonjakan harga impor dikhawatirkan semakin membebani ekonomi rumah tangga Jepang.
Di pasar keuangan, ekspektasi kenaikan suku bunga telah mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang ke level tertinggi dalam hampir tiga dekade.
Hal ini menunjukkan investor mulai mengantisipasi era baru kebijakan moneter Jepang yang lebih ketat.
Langkah BOJ juga dipantau pelaku pasar global karena perubahan kebijakan Jepang berpotensi memengaruhi arus modal internasional, nilai tukar mata uang Asia, hingga pergerakan pasar obligasi dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 3Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9Greenpeace Bentangkan Spanduk di Bundaran HI, Pemerintah Hormati Kebebasan Berpendapat
- 10Polemik Ijazah Gibran, Prabowo Disarankan Ambil Langkah Taktis Ini Demi Cegah Indonesia Rusuh Seperti Eropa







