Ekspor RI Terancam Imbas Perubahan Tarif AS

AKURAT.CO Peralihan kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) dari skema resiprokal ke tarif global sekitar 15% dinilai mencerminkan perubahan arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat dan meningkatkan ketidakpastian bagi eksportir Indonesia.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (Indef), M. Rizal Taufikurahman mengatakan perubahan tersebut memicu renegosiasi kontrak, penundaan pengiriman, hingga kenaikan biaya kepatuhan bagi pelaku usaha.
Mengacu hasil data Badan Pusat Statistik (BPS), Amerika Serikat merupakan salah satu dari tiga besar tujuan ekspor nonmigas Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Baca Juga: Tarif AS Picu Volatilitas IHSG dan Rupiah
Dengan nilai ekspor Indonesia ke AS tercatat puluhan miliar dolar AS per tahun, dengan kontribusi signifikan dari produk manufaktur padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik.
“Ketidakjelasan aturan sering kali lebih berdampak terhadap arus perdagangan dibandingkan besaran tarif itu sendiri,” ucapnya di Jakarta, Minggu (22/2).
Sebelumnya, skema Agreement on Reciprocal Trade (ART) dirancang dalam kerangka aturan lama yang berbasis resiprokal. Perubahan menuju tarif global dinilai menandakan pendekatan baru yang lebih luas dan seragam.
Hubungan dagang Indonesia dan AS bersifat asimetris. Indonesia lebih banyak mengekspor manufaktur padat karya, sedangkan impor dari AS didominasi komoditas pangan dan bahan baku industri.
Struktur tersebutlah membuat dampak kebijakan perdagangan AS lebih terasa pada sektor industri domestik.
Baca Juga: Kebijakan Tarif AS Dorong Aset Aman Menguat
Oleh sebab itu, Rizal memproyeksikan potensi penurunan ekspor ke AS dapat mempersempit surplus perdagangan dan mengurangi cadangan devisa.
Sebab, lanjutnya, apabila surplus kian menyempit maka tekanan terhadap rupiah bisa meningkat, terutama di tengah kebutuhan impor bahan baku dan pangan.
Tekanan nilai tukar berisiko memicu imported inflation, yakni kenaikan harga akibat pelemahan mata uang dan ketergantungan pada barang impor. Dampaknya bisa terasa pada biaya produksi industri dan harga konsumen.
“Dampaknya tidak besar pada PDB, tetapi signifikan terhadap stabilitas harga dan biaya produksi,” katanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 7Rusia Perluas Pangkalan Militer di Libya, NATO Terancam dari Dua Arah
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Usut Korupsi BNPB, KPK Endus Keterlibatan Perusahaan Keluarga dan Orang Kepercayaan Suharyanto
- 10BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T







