Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Ketahanan Ekonomi Nasional

AKURAT.CO Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian menekan, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk menjaga ketahanan ekonominya. Dari ancaman perlambatan ekonomi dunia hingga perubahan iklim yang tak menentu, semua menuntut kemampuan adaptasi yang lebih kuat.
Dalam konteks tersebut, sinergi lintas sektor menjadi elemen kunci. Hal itulah yang ditekankan oleh Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti. Dirinya menegaskan pentingnya sinergi dan inovasi lintas sektor untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang masih tinggi.
“Indonesia saat ini sedang menghadapi banyak tantangan global, mulai dari perlambatan ekonomi dunia, ketegangan geopolitik, hingga perubahan iklim. Namun kita masih punya peluang untuk tumbuh jika mampu membangun tiga hal penting yakni kemampuan beradaptasi, kemandirian ekonomi nasional, dan inovasi SDM,” ujar Esther di Jakarta.
Baca Juga: Rapor Setahun Prabowo, Indef: Stop Kebijakan Populis
Lebih lanjut dirinya menekankan bahwa ketahanan ekonomi tidak bisa dibangun hanya dari sisi kebijakan pemerintah. Dibutuhkan sinergi antara ekonom, akademisi, dan pemangku kebijakan untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih tangguh dan inklusif.
“Sinergi adalah kunci. Tanpa kolaborasi antar pihak, inovasi sulit tumbuh, dan kebijakan ekonomi akan berjalan parsial,” katanya menegaskan.
Tidak sampai disitu saja, Esther juga menyinggung Buku Pemikiran 100 Ekonom Indonesia, yang disebutnya sebagai 'kompas kebijakan' bagi para pengambil keputusan di Tanah Air. Buku itu memuat beragam gagasan dan rekomendasi dari para ekonom lintas bidang yang diharapkan dapat menjadi rujukan konkret dalam merancang kebijakan ekonomi nasional.
“Kami berharap Sarasehan 100 Ekonom ini menjadi jembatan antara ide dan kebijakan. Dari sinilah arah peta jalan ekonomi Indonesia bisa terus diperbaiki,” tambahnya.
Selain membuka forum diskusi nasional, acara ini juga menjadi wadah tukar pikiran antara pemerintah dan ekonom mengenai tantangan struktural yang tengah dihadapi, seperti produktivitas yang rendah, tingginya ICOR Indonesia (5,79), hingga naiknya proporsi tenaga kerja informal pascapandemi.
Baca Juga: INDEF Ingatkan Bahaya Jika Kursi Pimpinan LPS Dibiarkan Kosong
Esther menilai, momentum ketidakpastian global justru dapat menjadi katalis untuk mempercepat reformasi ekonomi domestik.
Ia menyebut, pandemi dan ketegangan geopolitik telah membuktikan bahwa negara yang kuat adalah negara yang mampu mengembangkan inovasi dan menjaga kemandirian sektor strategisnya.
“Kalau kita bisa memperkuat SDM, memperluas transformasi digital, dan mengembangkan industri hilir, Indonesia bukan hanya bertahan tapi juga bisa tumbuh lebih cepat,” terangnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 2Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 3Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 7Fabio Calonego Akui Ditawari Naturalisasi, Tertarik Bela Timnas Indonesia
- 8Gubernur Bali I Wayan Koster Viral Usai Adu Mulut dengan Petugas SPBU, Ini Profilnya
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK









