Rupiah Nanjak 22 Poin ke Rp16.561

AKURAT.CO Rupiah ditutup naik 22 poin (0,13%) ke level Rp16.561 pada perdagangan Selasa (7/10/2025) usai ditopang sejumlah sentimen eksternal dan internal.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan dari sisi eksternal, penutupan pemerintah AS telah memasuki hari keenam setelah negosiasi akhir pekan gagal mencapai kesepakatan pendanaan, yang membuat sebagian besar pemerintahan federal tutup.
"Sementara senat gagal mengumpulkan 60 suara yang dibutuhkan untuk memajukan langkah-langkah pendanaan jangka pendek," ujar Ibrahim, Selasa (7/10/2025).
Sementara krisis politik di Prancis semakin dalam setelah pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu yang tiba-tiba. Lecornu kemudian ditugaskan oleh Presiden Emmanual Macron untuk merundingkan langkah ke depan bagi pemerintah.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp16.591 Tertekan Sikap Hawkish The Fed
Pemerintah Prancis kini dapat mengadakan pemilihan parlemen dadakan, di tengah meningkatnya seruan dari kelompok sayap kanan dan sayap kiri ekstrem untuk perubahan pemerintahan.
Di Jepang, Takaichi mengamankan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal selama akhir pekan. Kemenangannya membuka jalan baginya untuk menjadi perdana menteri Jepang berikutnya.
Takaichi, yang dikenal karena dukungannya terhadap belanja fiskal yang agresif, telah mengkritik upaya BOJ sebelumnya untuk menaikkan suku bunga sebagai "bodoh" dan mengisyaratkan preferensi untuk kebijakan moneter yang lebih longgar.
Ketegangan geopolitik yang baru setelah Ukraina meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Serangan pesawat tak berawak menghantam kilang di Kirishi dan Ryazan, mengganggu pemrosesan bahan bakar dan memperketat ketersediaan ekspor Rusia.
Kilang minyak Kirishi, salah satu terbesar di Rusia, menghentikan unit mentahnya yang paling produktif setelah serangan drone dan kebakaran berikutnya pada 4 Oktober, dengan pemulihan diperkirakan akan memakan waktu sekitar sebulan, dua sumber industri mengatakan pada hari Senin.
Dari sisi internal, Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada akhir September 2025 tercatat sebesar USD148,7 miliar, lebih rendah dari posisi pada akhir Agustus 2025 sebesar USD150,7 miliar. Dengan demikian, cadangan devisa turun sebesar USD2 miliar pada September 2025.
Perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi antara lain oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










